Sabtu, 17 Oktober 2015

The Philosophy of Umpiring and the Introduction of Decision-Aid Technology

The Philosophy of Umpiring and the Introduction of Decision-Aid Technology
http://www.tandfonline.com/toc/rjps20/37/2

Volume 37, Issue 2, 2010 

Journal of the Philosophy of Sport, 2010, 37, 135-146 © 2010

Human Kinetics, Inc.


      Tujuannya adalah untuk mengembangkan teori tentang hubungan antara ofisial pertandingan (baik peserta, penonton dan wasit pertandingan) dan teknologi. Jurnal ini membahas terminologi baru untuk jenis keadilan yang terlibat dalam pertandingan. peneliti berpendapat bahwa pengenalan teknologi baru harus dilakukan sedemikian rupa untuk menjaga keadilan keputusan dan keadilan yang tidak sama dengan akurasi. Keadilan terbaik disajikan dengan penggunaan terkendali teknologi baru. Dalam hal ini penempatan wasit sebagai pengadil dan teknologi sebagai pendukung wasit dalam pengambilan keputusan agar sebuah pertandingan tetap terjaga sportivitasnya, agar tidak menghilangkan nilai essensi dari sebuah olahraga.
Keterlibatan saat ini pada suatu pertandingan olahraga antara lain, pemain, wasit (perangkat pertandingan), official, penonton di stadion, pemirsa, dan televisi atau dalam kata lain teknologi informasi yang masuk ke dalam arena olahraga guna mendukung kegiatan olahraga tersebut
Wasit termasuk perangkat pertandingan
1. Ontologis otoritas: Wasit dan perangkat pertandingan diinvestasikan dengan banyak otoritas ontologis. Artinya, dengan cara biasa hal, apa yang mereka memutuskan mendefinisikan apa yang terjadi dalam contoh khusus sejauh itu mempengaruhi yang selanjutnya berlangsung dari permainan, hasil dari permainan dan cara permainan dicatat dalam arsip statistik. Apa yang dihasilkan oleh keputusan wasit selanjutnya akan mempengarui hasil pertandingan itu dan pertandingan selanjutnya, dalan pemahaman ini wasit dengan segala otoritas pengadil dilapangan berhak atas keputusan yang dikeluarkan berdasarkan pertimbangan aturan serta pengalamannya.
      Wasit profesional biasanya diberikan pelatihan khusus oleh federasi olahraga, dan keputusan mereka terus diteliti oleh badan profesional atau federasi olahraga. Dengan demikian, wasit memiliki  keterampilan khusus yang ditingkatkan dari pengalaman mewasiti, dalam artian epistemologi berbagai tindakan pikiran, pola kerja, cara teknis, dan tata langkah untuk memperoleh pengetahuan baru atau mengembangkan yang telah ada.
Keadilan

Dalam pertandingan profesionalterdapat banyak unsur yang terlibat, diantaranya official, penonton di stadion, pemirsa, dan televisi. Keadilan dalam sebuah pertandingan ketika seseorang mampu atau memilih argumen bagus untuk mengasumsikan bahwa keadilan bisa dilihat dari berbagai sisi atau dengan kata lain dari berbagai pertimbangan, dalam hal ini wasit dalam pertandingan profesional punya pemahaman aturan dan pengalaman, bagaimana cara penyampaian kepada  pemain dan official ketika mereka merasa diberlakukan tidak adil
Dalam riviev artkel ini ada beberapa yang di bahas oleh peneliti: pemain, suporter, pemirsa dan televisi

Pemain: dalam kajian ontologis mereka berpengalaman dari kajian materi, pemain telah mengembangkan keilmuannya, pengalaman, kemampuan fisiologis, sosiologisnya. Suporter  dalam peranan ini sebagai pendukung, antara keberpihakan terhadap tim atau atlet yang bertanding atau hanya menikmati sebuah entertaiment dalam sebuah pertandingan olahraga,
Ada dua sisi yang dikaji suporter pendukung, dan suporter penyemarak,
Suporter pendukung dalam kajian epistemologis mereka lebih miskin  pengalaman, jarang para suporter menelaah pola kerja, cara teknis, dan tata langkah untuk memperoleh pengetahuan ketika tim kesayangan bertanding kalah, para suporter ini lebih menunjukkan ego sektoral keberpihakan pada satu sisi yakni tim yang mereka dukung,  disini kesadaran individu dan kesadaran sosial serta pengetahuan yang dimiliki berlaku, manakala mereka marah atas ketidak adilan wasit, atau menyalahkan sistem yang menjadi regulasi suatu pertandingan.  Akan terjadi gesekan ketika terjadi dikalangan masyarakat tradisional yang minim pendidikan atau pengetahuan.
Mereka yang berada di arena pertandingan jauh lebih minim fasilitas teknologi daripada pemirsa yang melihat dilayar kaca dengan fasilitas tanyangan ulang ketika terjadi kejadian menarik selama pertandingan.
Wasit atau perangkat pertandingan langsung harus menilai urutan hampir seketika peristiwa yang memerlukan pengolahan lebih banyak di tingkat bawah sadar daripada di tingkat sadar (reflek ;angsung pada saat kejadian apa yang harus diputuskan). Ini mengambil pengalaman dan praktek yang diperlukan untuk memahami situasi secara keseluruhan daripada untuk merakit keputusan bagian dari keterampilan memimpin wasit spesialis yang terdiri 'somatik knowledge'- taktik keterampilan diwujudkan dengan kemampuan untuk menilai situasi berlangsung cepat dalam sekejap-menjadi berlebihan.
Tayangan ulang televisi banyak menghancurkan keputusan wasit, dalam artian ini wasit saat memimpin pertandingan, punya kemampuan untuk mengambil keputusan dengan cepat berdasar kejadian yang berlangsung, pengalaman terdahulu “somatik knowledge”. Posisi teknologi dalam pertandingan guna saling mendukung semua unsur dala pertandingan. Dalam suatu pertandingan ada zona dimana biasanya dinamakan zona ketidakpastian, sebagai contok zona garis gawang. Bola dinyatakan masuk apabila bola masuk melebihi garis gawang,  dalam sebuah kasus pengamatan wasit saat bola masuk tidak di nyatakan menjadi gol. Akan tetapi para pemain melihatnya sbagai gol. Disinilah terjadi sebuah geesekan antara wasit dan pemain,  dalam hal ini teknologi berperan dalam keputusan wasit.
Dalam terminologi kami, ketika pemain menuntut tinjauan keputusan wasit itu, otoritas ontologis secara efektif ditransfer ke teknologi atau dalam istilah populernya “hawk eye”. tetapi hanya begitu lama sebagai titik dampak bola tidak dalam zona ketidakpastian pemirsa yang menonton tanyangan ulang di rumah puya argumen atau angapan tersendiri.
Pertimbangan filosofis penting adalah penyesuaian dalam pemahaman kita dari titik bantu keputusan olahraga dalam terang filsafat pertandingan mewasiti dan wasit yang telah dikembangkan di atas. Wasit pertandingan bukan tentang akurasi ini adalah tentang keadilan. Akurasi dan keadilan tidak selalu sama. Transparan ketidakadilan juga harus dihindari. Di mana teknologi baru, yang tidak mengaktifkan transparansi palsu, membuatnya sangat jelas bahwa seorang hakim manusia adalah memberikan ketidakadilan, maka otoritas ontologis harus kembali ke mesin. Artinya, mesin harus memiliki wewenang ontologis di sona luar ketidakpastian tetapi hanya di luar zona ketidakpastian. Penempatan wasit sebagai pengadil dan teknologi sebagai pendukung wasit dalam pengambilan keputusan agar sebuah pertandingan tetap terjaga sportivitasnya. Dalam artian manusia sebagai makhluk yang tidak sempurna akan di dukung oleh teknologi yang transparan guna mendukung sebuah filosofi sportivitas dalam berolahraga.