Sabtu, 17 Oktober 2015

A Review Paper on Goal-Line Technology

A Review Paper on Goal-Line Technology
Prayag ShahȦ* , Rishikesh Muchhala Ȧ and Gaurang ShahȦ
ȦInformation Technology Department, DJSCOE, Vile Parle (W), Mumbai -400056, India
Accepted 15 Sept 2014, Available online 01 Oct 2014, Vol.4, No.5  (Oct 2014)

DITINJAU DARI PERSPEKTIF AKSIOLOGI.
Dunia olahraga selalu sarat dengan makna filosofis. Dalam filsafat ilmu, tidak dapat dipungkiri bahwa berfilsafat merupakan manifestasi kegiatan intelektual yang telah meletakkan dasar-dasar paradigmatik bagi tradisi dalam kehidupan masyarakat ilmiah.
Olahraga adalah bagian utama dari kehidupan masyarakat dan budaya. Peserta olahraga berasal dari berbagai usia, dari yang muda hingga ke yang tua, dan dari tingkat permainan yang hanya untuk bersenang-senang dan rekreasi hingga tingkat profesional. Nilai-nilai yang terkandung dalam aktivitas olahraga telah menjadi keyakinan umum bahwa aktivitas olahraga sarat dengan nilai-nilai pendidikan, seperti kejujuran, sportivitas, disiplin, dan tanggung jawab. Bahkan, ada ungkapan yang sudah menjadi keyakinan sejarah dari waktu ke waktu

Kajian nilai (aksilogi) yang dipersoalkan adalah aspek penerapan sesuatu ke dalam praktik yang berkaitan dengan masalah nilai. Nilai merupakan rujukan perilaku, sesuatu yang dianggap “ luhur” dan menjadi pedoman hidup manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam bidang keolahragaan, persoalan ini kian relevan untuk dibahas. Kecenderungan sikap dan partisipasi dalam tindakan dari sekelompok warga masyarakat, termasuk organisasi induk olahraga, yang berusaha untuk meningkatkan prestasi, membangkitkan masalah yang semakin kompleks dan mendalam. Hal itu karena nilai-nilai ideal olahraga makin luhur, di geser oleh nilai “ baru” sebagai konsekuensi dari perubahan sosial.
Kegiatan dalam keolahragaan merupakan cerminan adalam lingkup mikrokosmos dari tatanan masyarakat yang lebih luas. Nilai dalam masyarakat telah berubah, dan hal itu juga berdampak nyata ke dalam olahraga.
Di antara persoalan yang paling menonjol dewasa ini adalah penerapan fair play atau sportivitas sebagai nilai inti dalam bidang olahraga. Tantangannya muncul dalam aneka prilaku atlet, pelatih,ofisial, dan bahkan juga dari kalangan  pers. Yang lebih menonjol adalah upaya memperoleh kemenangan yang disertai dengan upaya bukan mengandalkan keunggulan teknik dan taktik. Yang diperagakan adalah gejala kekerasan dalam olahraga dan kecendrungan untuk memaksakan kehendak, seperti mencampuri keputusan wasit. Sebaliknya, wasit itu sendiri dalam beberapa kasus masih belum mampu untuk berdiri sendiri dalam beberapa kasus masih belum mampu untuk berdiri di tengah-tengah, tanpa memihak, sesuai dengan fungsinya.
Bahaya terhadap fair play timbul terutama dari kesalahan arah yang ditempuh olahraga pada zaman ini. Olahraga dieksploitsi oleh politik, ideologi, dan dagang karena olahraga sangat tenar dan digemari. Bahkan sekarang ini, sejak logika politik berubah menjadi logika ekonomi, pengelolaan olahraga dengan tujuan yang bersifat komersialisasi sangat menonjol, dan bila kita tidak waspada, ancaman terhadap fair play semakin besar. Dengan demikian olahraga mengalami bahaya untuk kehilangan sifat-sifatnya yang murni. Yang semestinya olahraga berisi pertandingan yang bersifat ksatria dan membentuk kepribadian, dapat berubah menjadi perjuangan yang tidak kenal ampun, yang dikuasai oleh pikiran prestise, popularitas dan uang.
Dengan kata lain, sikap batin semacam itu, yang dapat kita sebutkan dalam istilah itikad, berisi pertimbangan moral, yang kemudian secara otomatis terjabarkan dalam perilaku. Dikaitkan dengan perkembangan akhir-akhir ini, semangat olahragawan sejati semacam itu perlu dikembangkan serta disebarluaskan. Keadaan demikian perlu disosialisasikan sejak dini, sejak seseorang mulai belajar olahraga dengan maksud untuk melindungi olahraga dari bahaya-bahaya yang mengancamnya
Revolusi teknologi utama telah memiliki efek yang sangat besar pada olahraga kontemporer selama dua puluh tahun terakhir. Oleh karena itu, penggunaan berbagai jenis teknologi telah menjadi penting dalam beberapa tahun terakhir karena fakta bahwa olahraga mengandung momen di mana ada kesalahan yang dilakukan oleh wasit dan perangkat pertandingan. Pengenalan teknologi mengenai olahraga ini dalam beberapa tahun terakhir telah membantu untuk memberantas sejumlah kesalahan ini. Jenis spesifik teknologi adalah penggunaan teknologi video dalam kaitannya dengan pengenalan potensi teknologi garis gawang dalam sepak bola.
Selaras dengan jurnal The Philosophy of Umpiring and the Introduction of Decision-Aid Technology, bahwa pengadil atau wasit yang memimpin pertandingan  olahraga yang saat ini mulai tidak mampu berdiri sendiri, baik karena kemampuan pengadil sebagai manusia biasa dan banyaknya tekanan dari luar atau dengan kata lain pergeseran nilai olahraga yang berubah dimasyarakat sekarang ini, sehingga menyebabkan rasa ketidakadilan  itu uncul dalam hasil sebuah pertandingan olahraga.
Area keolahragaan seharusnya mengajarkan sekaligus mencontohkan bagaimana manusia seharusnya berkompetisi dengan baik untuk mendapatkan hasil yang maksimal, Sebagai contoh kasus di piala dunia 2010 Inggris tidak lolos ke putaran selanjutnya karena gol tidak di sahkan olah pengadil di lapangan, karena keterbatasan indra manusia dalam memvisualisasi gol atau kejadian saat itu, menyebabkan rasa ketidak adilan muncul. Akankah nilai-nilai sportivitas sebagai hasil manisvestasi sebuah kegiatan keolahraan menjadi terdegredasi karena sebuah kejadian tersebut.
wasit sebagai pengadil dan teknologi sebagai pendukung wasit dalam pengambilan keputusan agar sebuah pertandingan tetap terjaga sportivitasnya. Dalam artian manusia sebagai makhluk yang tidak sempurna akan di dukung oleh teknologi yang transparan guna mendukung sebuah filosofi sportivitas dalam berolahraga