1. Pengantar
Beberapa orang memandang bahwa PAKEM sama dengan kerja kelompok. Jika dalam suatu kelas sedang berlangsung pembelajaran, dan disana siswa tetap duduk seperti orang menonton bioskop, semua menghadap ke depan, duduk berdua dengan satu bangku, maka dengan mudah dan cepat kita katakan kelas itu tidak PAKEM.
Tetapi sebaliknya jika kita masuk ke suatu kelas dan siswa sedang duduk kelompok, walau mereka hanya duduk dalam kelompok, dan tidak semua bekerja, maka dengan mudah kita mengatakan kelas itu PAKEM.
Seharusnya menilai PAKEM tidaknya suatu pembelajaran tidak cukup hanya dengan melihat pengaturan tempat duduk siswa, tetapi harus diperhatikan pula intensitas keterlibatan siswa dalam belajar.
Usaha-usaha yang menawarkan sebuah pembaharuan, termasuk penerapan PAKEM di kelas, biasanya akan menemui masalah. Beberapa masalah yang masih sering ditemukan baik dalam pelatihan maupun dalam penerapan PAKEM di kelas dapat dilihat di bawah ini.
Beberapa temuan penerapan PAKEM di kelas adalah sebagai berikut:
1) Guru kurang banyak memperoleh kesempatan menyaksikan pembelajaran PAKEM yang baik
2) Guru kurang memiliki referensi (buku, video, dll) tentang pembelajaran PAKEM yang baik
3) Tugas yang diberikan bersifat tertutup dan banyak pengisian lembar kerja (LK) yang kurang baik.
4) Pembelajaran kurang memberikan tantangan sesuai kemampuan siswa
5) Pembelajaran hanya mengajarkan satu indikator dengan satu aktifitas.
6) Perbedaaan individual siswa kurang diperhatikan termasuk laki-laki/perempuan, pintar/kurang pintar, sosial ekonomi tinggi/rendah.
7) Pengelolaan siswa kurang sesuai dengan kegiatan
8) Guru merasa khawatir dan pesimis untuk melaksanakan PAKEM di kelas 6 dan 9.
9) Pajangan cenderung menampilkan semua apa yang dikerjakan siswa dengan hasil yang seragam.
Berbagai kendala selalu ada, akan tetapi dukungan pun tak kurang banyak dalam menerapkan PAKEM. Berbagai pelatihan telah diikuti dan para guru telah melakukannya di kelas masing-masing.
Sebagai upaya untuk terus meningkatkan mutu pelaksanaan PAKEM, pada unit ini dibahas dan kaji secara berurutan: 1) telaah PAKEM, 2) pengembangan ide pembelajaran, 3) teknik bertanya, 4) pengorganisasian kelas, dan 5) pembe- lajaran kooperatif.
2. Tujuan :
Setelah mengikuti sesi ini, diharapkan peserta:
a. Mampu mengidentifasi sifat-sifat PAKEM tertentu dalam pembelajaran yang dilaksanakan
b. Mampu mengembangkan ide pembelajaran
c. Mampu mengidentifikasi jenis pertanyaan yang efektif
d. Mampu mengorganisasikan kelas sesuai dengan tugas pembelajaran
e. Mampu mengembangkan pembelajaran kooperatif
3. Persiapan
Setiap fasilitator perlu membaca keseluruhan isi paket pelatihan termasuk bab pendahuluan dan mendalami unit yang menjadi tanggung jawabnya agar memahami benar: Sumber bahan yang diperlukan, lembar kerja/slide powerpoint yang akan digunakan, pengorganisasian/pembagian kelompok dan waktu yang tersedia untuk setiap kegiatan (pengelolaan waktu).
4. Bahan Penunjang
1) Transparan OHP/slide powerpoint
2) Lembar tugas untuk modelling PAKEM
3) Pena, kertas lebar, gunting, spidol warna
5. Kegiatan
1) Pengantar (15 menit)
Fasilitator membuka sesi ini dan menyampaikan informasi yang berkaitan dengan isu dalam kegiatan PAKEM. Kemudian memberikan informasi tentang pengalaman belajar apa yang akan dilaksanakan dalam sesi ini.
2) Cerita dari Guru (Nara Sumber) (20 menit)
Satu atau dua nara sumber dipilih dari guru / fasilitator yang sudah berhasil melaksanakan PAKEM / CTL dengan baik. Mereka diminta membawa hasil karya siswa dan / atau bahan ajaran yang kreatif, serta foto kalau ada. Mereka menjelaskan tentang pembelajaran yang berkaitan dengan bahan yang dibawa.
3) Diskusi tentang Keberhasilan dan Hambatan (30 menit)
Para peserta dibagi kelompok 5 – 6 orang untuk membahas (i) keberhasilan dalam melaksanakan PAKEM / CTL dan (ii) hambatan yang dihadapi. Hasil diskusi ditulis di kertas besar untuk dipajanagkan.
4) Belanja dan Diskusi (40 menit)
Para peserta bekeliling membaca hasil diskusi kelompok lainnya (15 menit), ditindaklanjuti dengan diskusi pleno tentang temuan (25 menit)
5) Modelling dan Diskusi :Konvensional dan PAKEM (120 menit)
Dalam sesi ini akan ditampilkan 2 modelling pembelajaran yaitu :
a. Pembelajaran Konvensional
b. Pembelajaran PAKEM
Dalam pembelajaran konvensional dan PAKEM tersebut, fasilitator bertindak sebagai model dan menyajikan contoh pembelajaran konvensional dan PAKEM. Contoh pembelajaran mencakup 2 mata pelajaran yaitu : bahasa Indonesia dan Matematika. Dalam penyajian modelling ini peserta dibagi dalam beberapa kelompok (tergantung banyaknya peserta). Setiap kelompok dibagi 2, yaitu kelompok yang berperan sebagai siswa dan kelompok yang berperan sebagai pengamat. Kelompok pengamat dilengkapi dengan lembar pengamatan yang sudah disiapkan (lampiran 9). Bahan, tahapan detail dan lembar kerja lihat di lampiran 1-8.
6) Pengembangan Gagasan Pembelajaran (45 menit)
Setelah peserta mengamati 2 model pembelajaran di atas, peserta mendiskusikan hasil kegiatan tersebut termasuk membahas lembar pengamatan yang diisi kelompok pengamat (lampiran 9). Setelah diskusi mereka mencoba mengembangkan ide-ide sederhana yang mungkin bisa diterapkan dalam pembelajaran PAKEM yang akan dilakukan, termasuk: cara bertanya, kerja kelompok, dan sebagainya.
a. Peserta dalam kelompok 4-5 orang mengembangkan langkah-langkah KBM untuk satu topik yang diberikan oleh fasilitator atau diseleksikan oleh peserta sendiri. Langkah-langkah tersebut harus memperhatikan ciri-ciri pembelajaran PAKEM di atas.
b. Kelompok-kelompok saling menukar hasil kerjanya dan memberikan masukan perbaikan.
7) Ketrampilan bertanya (60 menit)
a. Fasilitator menayangkan PowerPoint/OHP dengan pertanyaan berikut untuk menimbulkan gagasan dari peserta:
· Mengapa kita mengajukan pertanyaan kepada siswa?
· Pertanyaan apa yang sering disampaikan oleh guru, mengapa?
b. Lewat Powerpoint/OHP, dan lembar bacaan, fasilitator memberi contoh bacaan (lihat Lampiran 10) dan berbagai pertanyaan yang memuat/mengacu pada ketiga jenis/sifat pertanyaan di bawah ini:
· mencari informasi
· memanfaatkan pengetahuannya
· menciptakan sesuatu yang baru dan memberikan pendapat
c. Peserta ( dalam kelompok kecil 3-4 orang ) menyusun 3 pertanyaan dari ketiga jenis/sifat pertanyaan di atas, dengan menggunakan teks yang sama
d. Peserta saling menukar pertanyaan untuk didiskusikan kualitas pertanyaan dan memberi tanggapan/perbaikan. Peserta meninjau kembali hasil perbaikan dan saran dari kelompok lain untuk kemudian disempurnakan dan dikembangkan
e. Secara pleno Fasilitator dengan memakai Powerpoint atau OHP mengajukan kepada peserta pertanyaan sebagai berikut:
a) Pertanyaan mana yang dianggap mudah untuk ditulis dan dijawab?
b) Pertanyaan mana yang dianggap sulit untuk ditulis dan dijawab? mengapa?
c) Apa yang bisa membantu kita untuk menyusun pertanyaan seperti kategori b dan c.
f. Fasiltator menutup kegiatan ini dengan bertanya kepada peserta untuk reviu kembali pertanyaan dalam contoh pembelajaran PAKEM dan mengidentifikasikan jenisnya pertanyaan dari tiga kategori yang dibahas tadi (mencari informasi; memanfaatkan pengetahuannya; menciptakan sesuatu yang baru dan memberikan pendapat)
8) Pengorganisasian kelas (60 menit)
Untuk kegiatan tentang pengorganisasian kelas, bila ada video tentang pengorganisasian kelas dapat ditayangkan sebagai salah satu sumber dan media pembelajaran pada awal kegiatan itu. Jika tidak ada, langkah-langkah berikut dapat dilakukan.
a. Dengan memakai Powerpoint/OHP, fasilitator mengajukan pertanyaan berikut kepada peserta tentang organisasi kelas (Klasikal, kelompok, dan individu).
· Apa yang anda ketahui tentang belajar klasikal, kelompok, dan individu?
· Kapan siswa belajar klasikal, kelompok atau individual?
· Mengapa siswa bekerja/belajar secara klasikal, kelompok dan individual?
Peserta dan fasilitator kemudian membahas bersama (melalui penayangan Powerpoint/OHP) beberapa jenis organisasi dengan mencoba memberikan contoh tugas/kegiatan yang sesuai untuk jenis organisasi masing-masing (lihat Lampiran 11 dan 12).
b. Peserta mengidentifikasi kegiatan yang harus dikerjakan secara klasikal, kelompok atau individu dengan menggunakan lembar kerja berikut:
Sesudah tugas selesai peserta saling menukar pilihan dengan memberikan alasan dan komentar. Selanjutnya fasilitator menayangkan slide Power Point/OHP tips pengorganisasian kelas (Lihat Lampiran 13)
9) Pembelajaran Kooperatif (60 menit)
Dalam sesi ini ada 2 kegiatan pokok. Pertama, fasilitator menyajikan bahan-bahan/informasi yang berkaitan dengan pembelajaran koooperatif. Kedua, peserta melakukan aktivitas yang berhubungan dengan pembelajaran kooperatif melalui bahan yang sudah disiapkan oleh fasilitator. Bahan dapat dilihat dalam Lampiran 14 - 15 .
1) Guru
· Guru lebih banyak memberi kesempatan anak untuk bekerja (menemukan sendiri, mengungkapkan pendapat dsb.)
· Guru menciptakan pembelajaran yang menantang
· Guru mempergunakan berbagai media, metode, dan sumber belajar, termasuk sumber belajara dan bahan dari lingkungan
· Guru memberikan tugas dan bantuan yang berbeda sesuai dengan kemampuan siswa
· Guru mengelola kelas secara fleksibel (individu, kelompok, pasangan) sesuai tugas yang diberikan untuk melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran.
2) Siswa
· Siswa tidak takut bertanya
· Ada interaksi antara siswa untuk mmebahas dan memecahkan masalah
· Siswa aktif bekerja
· Siswa dapat mengungkapkan dengan kata-kata sendiri
· Siswa melakukan kegiatan baca mandiri
· Siswa melakukan kegiatan proyek (teknologi sederhana, menulis biograpi tokoh).
3) Kelas
· Ada pajangan yang merupakan hasil karya siswa
· Pajangan dimanfaatkan sebagai sumber belajar
· Penataan tempat duduk memudahkan interaksi guru dengan siswa, siswa dan siswa
· Ada penataan sumber belajar (alat bantu belajar, poster, buku) yang dimanfaatkan siswa.
Lampiran
Lampiran 1
Modeling pembelajaran Konvensional dan PAKEM
1) Persiapan dan pengorganisasian kelompok
a. Persiapan
Selama kegiatan ini, fasilitator akan memberikan 2 contoh (model) pembelajaran, yakni: pembelajaran konvensional, dan pembelajaran PAKEM. Contoh tersebut mencakup mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika (Lihat Lampiran 1- 4 ). Untuk melaksanakan tugas ini dengan baik, Anda (fasilitator) harus merencanakan dan menyiapkan pembelajaran yang meliputi:
· Mengorganisasikan peserta ke dalam kelompok beserta peran masing-masing dalam kelompok
· Mengorganisasikan ruang belajar
· Mengorganisasikan bahan-bahan yang diperlukan untuk melaksanakan model pembelajaran
b. Pengorganisasian kelompok
Pengorganisasian kelompok akan tergantung pada jumlah peserta dan ketersediaan ruangan. Saran pengaturan diberikan tetapi Anda mungkin menyesuaikannya dengan situasi setempat. Model ini didasarkan jumlah peserta 100 orang peserta.
Kegiatan ini melibatkan setengah kelompok menjadi “siswa” dan setengahnya lagi menjadi pengamat.
c. Pengorganisasian ruang belajar
Selama pembelajaran konvensional, meja dan kursi diatur menghadap ke papan tulis dan “siswa” duduk berjajar. Meja dan kursi perlu diatur kembali setelah model pembelajaran pertama (pembelajaran konvensional) untuk memberikan kesempatan kepada peserta bekerja dalam kelompok-kelompok pada model pembelajaran kedua (pembelajaran PAKEM).
Selama pembelajaran konvensional, pengamat duduk di samping “siswa” . Dalam pembelajaran PAKEM para pengamat duduk di antara kelompok “siswa”. Pengamat tidak berpartisipasi di dalam pembelajaran, tetapi mengamati dan mengisi lembar observasi.
d. Pengorganisasian bahan untuk pelajaran.
Bacalah dengan teliti daftar bahan yang diperlukan pada awal model pelajaran dan pastikan Anda sudah siap dengan foto copy lembar kerja dan bahan yang tersedia. Bacalah petunjuk pelajaran dengan baik agara Anda mengetahui benar apa yang harus dikerjakan.
2) Pelaksanaan model pembelajaran
Ikutilah petunjuk yang diberikan dan usahakan melaksanakan pembelajaran seperti yang diberikan dalam model pembelajaran. Bagikan lembar observasi kepada para pengamat untuk mendeskripsikan aspek-aspek PAKEM. Laksanakan terlebih dulu pembelajaran konvensional dan kemudian pembelajaran PAKEM.
a) Dalam kelompok yang terdiri dari 4-5 orang (sebagian anggota sebagai pengamat dan sebagian sebagai “siswa”) menyimpulkan hasil pengamatannya dan membandingkan hasil dari pengamatan proses dan hasil kerja “siswa” antara pembelajaran konvensional dan PAKEM.
b) Peserta membandingkan ciri-ciri dari kedua pembelajaran tersebut. Peserta diminta untuk mengidentifikasi ciri-ciri pembelajaran PAKEM, misalnya:
· Tugas terbuka
· Pertanyaan yang mengundang tanggapan siswa yang bervariasi
· Mengorganisasikan kelas sesuai dengan tugas pembelajaran.
c) Fasilitator menyimpulkan hasil diskusi dengan menekankan ciri-ciri pembelajaran PAKEM dengan menggunakan power point/OHP yang terkait dengan ketiga ciri di atas.
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 10 Juni 2011
DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
Kamis, 28 April 2011
Rabu, 06 April 2011
KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
Dalam menyajikan materi pelajaran, guru harus memiliki beberapa keterampilan seperti keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan menjelaskan, keterampilan memvariasikan metode, keterampilan menyampaikan pertanyaan, keterampilan penguatan, keterampilan membimbing diskusi, dan keterampilan mengajar dalam kelompok kecil atau perorangan.
Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Keterampilan membuka merupakan perbuatan guru untuk memciptakan siap mental dan menimbulkan perhatian siswa agar terpusat terhadap apa yang akan dipelajari. Sedangkan keterampilan menutup artinya suatu tindakan yang guru lakukan untuk mengakhiri kegiatan inti pelajaran. Bahkan untuk pelajaran yang disajikan secara bagian per bagian atau secara keseluruhan. Semuanya itu memerlukan keterampilan guru dalam memebuka dan menutupnya.
1. Keterampilan Membuka Pelajaran
Komponen keterampilan yang harus guru kuasai dalam membuka pelajaran adalah :
a. Menarik Perhatian dan Menimbulkan motivasi
Guru biasa menggunakan gaya mengajar komando diubah dengan gaya mengajar eksplorasi. Penggunaan suara pelan dapat diganti dengan bunyi peluit. Penggunaan alat bantu mengajar juga dapat menarik perhatian siswa
Variasi pola interaksi guru dengan siswanya juga dapat menarik perhatian. Guru biasanya berbicara kepada siswanya, sekarang diubah siswa yang berbicara kepada guru. Atau memebagi sisiwa dalam kelompok-kelompok kecil. Siswa diberi tugas untuk melakukan aktivitas pembelajaran dalam kelompoknya.
Untuk membangkitkan motivasi siswa trhadap pelajaran pendidikan jasmani dan keshatan, siswa harus dirangsang dengan memberikan sesuatu yang sisiwa belum ketahui. Menciptakan rasa ingin tahu ini akan menimbulkan perhatian.
b. Memberi Acuan dan Membuat Kaitan
Dalam memberikan acuan, guru menentukan batas-batas tugas siswa yang harus segera dilakukan. Misalnya, guru mengatakan pada awal pelajaran bahwa hari ini akan mengajarkan permainan sepak bola. Guru memberikan bola kapada siswa berikut acuan tugas yang harus siswa lakukan. Siswa diberi keleluasaan untuk beraktivitas tanpa keluar dari acuan yang telah guru katakana.
Pada setiap permulaan pelajaran baru, guru berkesempatan untuk membuat kaitan antara bahan pelajaran baru dengan pelajaran sebelumnya khususnya yang sudah dikenali siswa . Usaha membuat kaitan ini fdapat dilakukan dengan cara membandingkan atau mempertentangkan materi yang telah dikenali dengan materi pelajaran yang baru.
2. Keterampilan Menutup Pelajaran
Komponen keterampilan yang harus guru kuasai dalam menutup pelajaran yaitu :
a. Mengkaji Ulang (umpan balik)
Untuk menutup pelajaran guru sebaiknya mengulangi kembali hal-hal yang dianggap penting baik secara verbal (alami) atau peragaan (gerak). Dengan mengajukan beberapa pertanyaan, siswa diminta untuk memjawab dan memperagakan kembali materi yang sudah diterimanya.
b. Menilai
Dalam menutup pelajaran, guru harus juga menilai proses belajar mengajar yang sudah berlangsung. Penilan ini dapat dilakukan dengan cara :
1. Siswa diminta untuk memperagakan kenmbali keterampilan yang baru saja diterimanya.
2. Siswa diminta untuk menjelaskan perbedaan dua tekhnik yang baru saja dilakukannya.
3. Siswa diminta untuk menjelaskan pendapat sendiri
Keterampilan Menjelaskan
Untuk dapat menyampaikan materi secara baik dan benar, guru harus memiliki keterampilan menjelaskan materi yang akan disajikannya. Dalam menyajikan materi teori maupun praktek, guru harus dapat menjelaskan secara lisan di dalam proses belajar mengajar.
Komponen menjelaskan dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu analisis dan perencanaan menjelaskan serta penyajian keterampilan menjelaskan.
a. Analisis dan Perencanaan Menjelaskan
Dua hal yang perlu dianalisis dan direncanakan pada keterampilan menjelaskan yaitu :
1. Isi Pesan yang akan disajikan guru kepada siswa yang meliputi :
• Menetapkan apa yang memerlukan penjelasan
• Mengekspresikan bentuk hubungan yang ada diantara konsep yang harus dihubungkan
• Membuat generalisasi terhadap hubungan yang telah dibentuknya
2. Si penerima pesan itu sendiri yaitu siswa, karakteristik si penerima pesan adalah :
• Umur
• Jenis kelamin
• Kemapuan kelompok
• Pengalaman
• Lingkungan sekolah dan kebijakan
b. Penyajian Ketarampilan Menjelaskan
Komponen ini terdiri dari :
1. Kejelasan dimana pertanyaan yang disajikan harus jelas dan singkat
2. Kelancaran berbicara artinya paparannya harus lancar dan jelas
c. Penggunaan Contoh
Pada setiap tingkat umur sangat sedikit siswa dapat menguasai bahan pelajaran baru tanpa ada contohnya. Berikan contoh yang tepat dan sesuaikan dengan pengalaman siswa secara bervariasi
d. Penekanan
Penekanan merupakan keterampilan penyajian yang meminta perhatian siswa terhadap informasi yang penting. Untuk membantu belajar siswa, pusatkan perhatian pada bagian-bagian yang mendasar atau penting. Cara member penekanan sebagai berikut :
• Penekanan dengan memberi variasi dalam gaya mengajar guru
• Dengan cara menyusun pelajaran dari yang termudah hingga yang tersulit
e. Umpan Balik
Siswa sebaiknya diberi kesempatan untuk memperagakan kembali materi yang telah disajikan. Umpan balik dapat pula diketahui melalui kegiatan atau kesenangan siswa dalam melakukan kegiatan itu. Umpan balik dapat pula diperoleh dari pengamatan tingkah laku siswa dilapangan.
Keterampilan Menvariasikan Metode
Ketrampilan mempariasikan metode dalam proses belajar mengajar meliputi tiga aspek:
1. Variasi dalam gaya mengajar
2. Variasi dalam menggunakan media dan bahan pembelajaran
3. Variasi interaksi antara guru dan siswa.
Dalam mengaplikasikan ketrampilan mempariasikan metode ini, guru pendidikan jasmani dan kesehatan dapat mengintegrasikan dengan pendidikan yang lain seperti:
a. Penggunaan di lapangan.
Di dalam proses belajar dan mengajar pendidikan jasmani dan kesehatan, guru dapat memperlihatkan adanya perubahan dalam gaya mengajar, dalam penggunaannya guru harus bersikap fleksibel dan spontan. Mempariasikan metode ini lebih bersifat proses dengan tujuan untuk:
· Meningkatkan perhatian siswa terhadap proses belajar mengajar.
· Membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah.
· Membangkitkan motivasi.
· Member pilihan dalam menggunakan alat ajar yang diinginkan.
· Meningkantan kemampuan kognitif dan psikomotor.
b. Komponen variasi
Komponen variasi ini terdiri dari yaitu:
1. Variasi gaya mengajar
Variasi gaya mengajar merupakan kemampuan guru merubah prilakunya disesuaikan dengan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar. Prilaku guru akan menjadi dinamis dam meningkatkan komunikasi antara guru dengan siswa. Variasi ini pada dasarnya meliputi:
ü Variasi suara
Suara guru pendidikan jasmani dan kesehatan sangat dominan diperlukan saat mengajar di lapangan.
ü Pemberian waktu
Waktu ini dapat dipergunakan untuk beristirahat oleh siswa dan guru sambil berdiskusi dan Tanya jawab.
ü Kontak pandang
Bila guru berinteraksi dengan siswa, sebaiknya guru mengarahkan pandangannya ke sekuruh siswa. Guru dapat membantu siswa dengan menggunakan matanya untuk menyampaikan informasi dan menarik perhatian siswa.
ü Gerakan anggota badan
Variasi dalam gerak anggota badan merupakan bagian dari komunikasi. Tidsk hsnys menarik perhatian saja, tetapi juga mempertegas dan menolong dalam menyampaikan arti pembicaraan guru yang disampaikan.
ü Pindah posisi
Perpindahan posisi guru di lapangan dapat membantu menarik perhatian siswa. Perpindahan posisi ini dapat dilakukan dari mulai ada di depan siswa berjalan kesamping atau kebelakang siswa. Perpindahan posisi ini tidak mondar-mandir, tetapi harus memiliki makna.
2. Variasi media dan bahan ajar
Masing-masing siswa memiliki kemampuan pendengaran, pengelihatan,maupun fisik yang tidak sama. untuk menarik perhatian siswa, guru bisa memulai dengan berbicara terlebih dahulu, kemudian memberikan peragaan. Ada tiga komponen variasi penggunaan media ini yaitu :
a. Variasi Media Pandang
Media pandang adalah segala sesuatu yang dapat siswa amati dengan pengelihatannya. Dalam pengajaran pendidikan jasmani dan kesehatan di lapangan, guru harus dapat menyediakan berbagai alat peraga yang dapat diamati siswa. Dalam penggunaannya dapat dipakai alat dan bahan untuk komunikasi seperti gambar,video, dan demonstrasi atau peragaan dari siswa atau guru.
b. Variasi Media Dengar
Dalam proses belajar mengajar di lapangan, suara guru sangat vital dalam berkomunikasi dengan siswa. Media yang dapat digunakan sebagai media dengar selain suara guru adalah peluit dan alat music atau music SKJ tahun 2000.
c. Variasi Media Taktik
Variasi ini lebih ditekankan kepada siswa untuk mencoba menggunakan alat peraga yang disediakan oleh guru. Alat itu dapat siswa manfaatkan untuk melakuan berbagai macam gerak manipulasi seperti, melampar, menangkap, menendang, memukul, dan medrebelnya.
3. Variasi Interaksi
Variasi interaksi merupakan pola interaksi antara guru dengan siswa di lapangan. Dalam pendidikan jasmani gaya mengajar terdiri dari dua macam yaitu :
a. Gaya Mengajar Langsung atau Teachers centered
b. Gaya Mengajar tidak Langsung atau Student centered
Di dalam pelaksanannya guru dapat memanfaatkan kedua gaya ini secara teriteregasi. Misalnya, guru membuka kegiatan belajar dengan gaya mengajar komando, kemudian praktek, dan diakhiri dengan problem solving.
Keterampilan Bertanya
Dengan bertanya guru akan membantu siswa belajar untuk meningkatkan kemampuan kognitif, afektif, maupun psikomotor. Oleh karena itu, gurupun dituntut untuk memiliki katerampilan bertanya yang mampu membangkitkan siswa untuk terus belajar.
Kelancaran bertanya merupakan jumlah pertanyaan yang logis dan relefan dianjurkan guru pada siswa di dalam kelas atau di lapangan. Kelancaran bertanya ini sangat diperlukan guru didalam proses belajar mengajar pendidikan jasmani dan kesehatan. Komponen yang enting dalam bertanya adalah jelas dan ringkas.
Pertanyaan yang diajukan guru harus diarahkan pada mata pelajaran, memiliki relefansi dengan materi pelajaran, dan membantu siswa dalam mencapai tujuan pelajaran yang telah ditetapkan oleh guru. Untuk itu guru harus memiliki ketrerampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjut.
1. Keterampilan Bertanya Dasar
a. Tujuan
Keterampilan bertanya dasar memiliki tujuan antara lain :
• Meningkatkan perhatian dan rasa ingin tahu siswa.
• Mengembangkan belajar aktif.
• Merangsang siswa untuk bertanya.
• Mendianoigsa kesulitan belajar siswa
b. Penyusunan Kata-Kata
Agar siswa dapat merespon pertanyaan dari guru, maka pertanyaan itu harus disusun dengan kata-kata yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa dengan demikian pertanyaan dapat disusun sedemikian rupa sehingga, tugas siswa menjadi jelas dan dapat mengambil kata-kata yang diberikan untuk menjawabnya.
c. Struktur
Sebelum dan sesudah pertanyaan itu diajukan, guru hendaknya member informasi baik verbal maupun gerak fisik yang relavan dengan tugas siswa. Cara ini memiliki pengaruh yang prnting bagi siswa, terutama memberi materi yang cukup untuk pemecahan masalah.
d. Pemusatan
Ada dua komponen yang tercakup dalam pemusatan ini yaitu pertanmyaan luas dan sempit umumnya pertanyaan luas itu di ajukan pertama kali guru membuka pertanyaan agar siswa terlibat secara maksimal. Pertanyaan sempit sebagai cadangan untuk memberi informasi yang relevan terhadap pertanyaan siswa.
e. Pindah Gilir
Agar pertanyaan yang guru sampaikan mendapat perhatian yang penuh dari siswa, guru harus meminta siswa untuk merespon pertanyaanya. Apabila tidak, guru dapat memanggil nama salah seorang siswa untuk memberikan tanggapannya baik berupa verbal atau aktifitas gerak.
f. Distribusi
Untuk melibatkan siswa langsung sebanyak mungkin dalam pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan, guru harus dapat mendistribusikan pertanyaan secara acak selam proses belajar pembelajaran itu berlangsung.
g. Pemberian waktu
Masing-masing siswa memiliki kecepatan respon yang berbeda. Oleh karena itu, guru dapat memberikan batas waktu kepada siswa agar pertanyaannya dapat direspon.
h. Hangat dan Antusias
Untuk dapat meningkatkan partisipasi siswa, guru harus memberikan penguatan verbal seperti pujian dengan kata bagus, baik, cantik, dan good maupun non verbal seperti, acungan jempol,anggukan, dan sbg.
i. Empat (4) hal yang perlu dihindari dalam menyampaikan pertanyaan yaitu :
• Jangan mengulangi pertanyaan sendiri beberapa kali dengan pertanyaan yang sama dengan alasan
• Guru berusaha untuk tidak mengulangi jawaban siswa agar yang lain berinisiatif untuk berkomentar.
• Guru mencoba untuk tidak menjawab pertanyaan yang diajukannya sendiri.
• Guru jangan terburu-buru agar pertanyaannya cepat direspon
2. Keterampilan Bertanya Lanjutan
Fokus utama dalam pengajaran pendidikan jasmani dan kesehatan adalah siswa mampu mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Dengan teknik bertanya guru akan memperoleh manfaat dalam hubungannya dengan bertanya kognitif dan psikomotor. Untuk mengklasifikasikan jenis pertanyaan itu, maka digunakan konsep taksonomi bloon.
a. Kognitif
• Pengetahuan
Pertanyaan ini meminta siswa untuk mengingat kembali informasi yang telah diterimanya.
• Pemahaman
Hal ini akan menyangkut kemampuan siswa untuk mengekspresikan dengan kata-kata lain atau memberikan contoh untuk menggambarkan ide abstrak.
• Penerapan
Pertanyaan penerapan ini biasanya meminta siswa menggunakan abstrak dan generalisasi pada situasi tertentu.
• Analisis
Pertanyaan analisis cenderung meminta siswa untuk dapat memcahkan masalah sampai pada bagian terkecil untuk dipelajari dan bagaimana hubungan antara bagian-bagian itu.
• Sintesis
Pertanyaan ini meminta siswa untuk membentuk pikiran baru tentang konsep, perencanaan, atau percobaan.
• Evaluasi
Pertanyaan evaluasi ini meminta siswa untuk dapat membuat keputusan atau pendapat mengenai mutu.
b. Psikomotor
• Gerak Tubuh
Gerak tubuh merupakan aktifitas yang tidak bisa dipisahkan dalam pelajaran pendidikan jasmani.
• Kordinasi Gerak
Kemampuan yang lebih komplek dari pada gerak tubuh adalah koordinasi gerak.
Ketrampilan memberi penguatan
Pemberian hadiah dan hukuman di sekolah merupakan respon siswa pada guru karena perbuatannya. Pemberian hadiah merupakan respon yang positif, sedangkan pemberian hukuman merupakan respon yang negative. Namun kedua respon tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu upaya merubah prilaku siswa.
Respon positif tujuannya agar tingkah laku yang sudah baik frekuensinya bertambah atau berulang. Sedangkan respon negative tujuannya agar tingkah laku yang kurang baik prekuensinya berkurang atau hilang. Pemberian respon seperti itu dalam proses belajar mengajar disebut “pemberian penguatan”.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan di dalam memberikan penguatan pada siswa yaitu :
1. Tujuan
Penguatan ini bertujuan untuk:
a. Meningkatkan perhatian siswa
b. Member motivasi pada siswa
c. Mengubah tingkah laku siswa
d. Mengembangkan kepercayaan diri siswa
e. Mengarahkan pengembangan berfikir
2. Penerapan
Yang perlu diperhatikan dalam pemberian penguatan pada siswa adalah guru harus yakin bahwa siswa akan mwnghargainya dan menyadari respon yang diberikan oleh guru. Dalam penerapannya pemberian penguatan ini dapat dilakukan pada saat:
a. Siswa memperhatikan guru
b. Siswa sedang belajar
c. Siswa yang berusaha menyelesaikan tugas gerak
d. Siswa yang berusaha melakukan gerak secara sempurna
e. Siswa yang ingin memperbaiki kesaelahan gerak
3. Pola penguatan
Pola berkesinambungan dan pola bagian merupakan pola dasar dalam pemberian penguatan. Pola penguatan yang berkesinambungan ini akan teep[at sekali bila diberikan pada saat memulai pelajaran. Sedangkan penguatan sebagian-sebagian adalah penguatan yang diberikan terhadap suatu respon tertentu tetapi tidak keseluruhan.
Guru sebaiknya harus berhati-hati dalam memilih pola pemberian penguatan terhadap siswa. pola dan frekuensi pemberian penguatan akan berhubungan dengan kebutuhan, kepentingan, tingkah laku, dan kemam[puan siswa.
4. Komponen pemberian penguatan
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemberian penguatan kepada siswa adalah tingkat sekolah (SD, SLTP, SLTA, dan PT), variasi siswa dalam kelas (gender, agama, dan ras), dan kelompok umur tertentu. Ada enam komponen yang diperlukan dalam pemberian penguatan yaitu:
a. Penguatan verbal
Penguatan verbal bentuknya seperti pujian dan dorongan yang diucapkan oleh guru, ucapan itu dapant berupa kata-kata.
b. Penguatan gestural (bahasa gerak)
Bentuk penguatan gestural dapat dikakukan dengan mimic. Dalam hal ini guru dapat mengembangkan sendiri bentuk-bentuknya sesuai dengan kebiasaan yang berlaku sehingga dapat diperbaiki interaksi guru dengan siswa.
c. Penguatan kegiatan
Penguatan kegiatan hanya terjadi bila guru menggunakan suatu kegiatan, sehingga siswa dapat memilihnya sebagai suatu hadiah atas penampilan sebumnya. Dalam memilih kegiatan hendaknya dipilih yang memiliki relevansi dengan tujuan pengajaran yang diperlukan siswa.
d. Menguatan mendekati
Perhatian yang diberikan guru kepada siswa menandakan bahwa guru tertarik. Biasanya bila guru tertarik dengan apa ynag dilakukan siswa, guru akan mendekatinya.
e. Penguatan sentuhan
Penguatan sentuhan merupakan penguatan yang terjadi bila guru secara fidik menyentuh siswa. bentuknya adalah menepuk bahu dll.
f. Penguatan tanda
Penguatan ini biasanya ditampilkan guru sebagai penghargaan atas penampilan siswa yang mengagumkan. Perbuatan ini dapat berbentuk tulisan seperti sertivikat atau tanda penghargaan.
5. Model penggunaan
Dalam pengguanaannya, penguatan ini dapat mengembangkan model penggunaan sebagai berikut:
a. Penguatan seluruh kelompok, artinya pemberian penguatan kepada seluruh siswa yang ada di kelas tersebut.
b. Penguatan yang ditunda, artinya penghargaan yang akan diberikan ditunda dahulu sambil menunggu saat yang tepat.
c. Penguatan parsial, artinya penguatan yang dipakai untuk menghindari pengguanaan penguatan negative dan pemberian kritik.
d. Penguatan perorangan, artinya memberi penguatan secara khusus karena penampilan siswa yang istimewa.
6. Prinsiip penggunaan penguatan
Ada empat prinsip yang dapat guru perhatikan dalam mempemberikan penguatan yaitu:
a. Hangat dan antusias, artinya guru memberikan pujian itu tidak basa-basi melainkan secara spontan dengan penuh kehangatan dan antusias yang wajar.
b. Hindari dari penguatan negative, artinya guru sebaiknya tidak memberikan hukuman yang berlebihan pada siswa sebab hal ini dapat memberikan dampak yang kurang menguntungkan.
c. Penguatan bervariasi, artinya pemberian penguatan sebaiknya diberi secara bervariasi baik komponen maupun caranya, dan diberikan secara hangat dan antusias.
Bermakna, artinya agar setiap pemberian penguatan menjadi efektif, maka harus dilaksanakan pada saat siswa mengetahui adanya hubungan antara pemberian pengiatyan terhadap tingkah lakunya dan melihat bahwa itu sangat bermanfaat. Hindari memberikan penguatan yang tidak professional.
Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Keterampilan membuka merupakan perbuatan guru untuk memciptakan siap mental dan menimbulkan perhatian siswa agar terpusat terhadap apa yang akan dipelajari. Sedangkan keterampilan menutup artinya suatu tindakan yang guru lakukan untuk mengakhiri kegiatan inti pelajaran. Bahkan untuk pelajaran yang disajikan secara bagian per bagian atau secara keseluruhan. Semuanya itu memerlukan keterampilan guru dalam memebuka dan menutupnya.
1. Keterampilan Membuka Pelajaran
Komponen keterampilan yang harus guru kuasai dalam membuka pelajaran adalah :
a. Menarik Perhatian dan Menimbulkan motivasi
Guru biasa menggunakan gaya mengajar komando diubah dengan gaya mengajar eksplorasi. Penggunaan suara pelan dapat diganti dengan bunyi peluit. Penggunaan alat bantu mengajar juga dapat menarik perhatian siswa
Variasi pola interaksi guru dengan siswanya juga dapat menarik perhatian. Guru biasanya berbicara kepada siswanya, sekarang diubah siswa yang berbicara kepada guru. Atau memebagi sisiwa dalam kelompok-kelompok kecil. Siswa diberi tugas untuk melakukan aktivitas pembelajaran dalam kelompoknya.
Untuk membangkitkan motivasi siswa trhadap pelajaran pendidikan jasmani dan keshatan, siswa harus dirangsang dengan memberikan sesuatu yang sisiwa belum ketahui. Menciptakan rasa ingin tahu ini akan menimbulkan perhatian.
b. Memberi Acuan dan Membuat Kaitan
Dalam memberikan acuan, guru menentukan batas-batas tugas siswa yang harus segera dilakukan. Misalnya, guru mengatakan pada awal pelajaran bahwa hari ini akan mengajarkan permainan sepak bola. Guru memberikan bola kapada siswa berikut acuan tugas yang harus siswa lakukan. Siswa diberi keleluasaan untuk beraktivitas tanpa keluar dari acuan yang telah guru katakana.
Pada setiap permulaan pelajaran baru, guru berkesempatan untuk membuat kaitan antara bahan pelajaran baru dengan pelajaran sebelumnya khususnya yang sudah dikenali siswa . Usaha membuat kaitan ini fdapat dilakukan dengan cara membandingkan atau mempertentangkan materi yang telah dikenali dengan materi pelajaran yang baru.
2. Keterampilan Menutup Pelajaran
Komponen keterampilan yang harus guru kuasai dalam menutup pelajaran yaitu :
a. Mengkaji Ulang (umpan balik)
Untuk menutup pelajaran guru sebaiknya mengulangi kembali hal-hal yang dianggap penting baik secara verbal (alami) atau peragaan (gerak). Dengan mengajukan beberapa pertanyaan, siswa diminta untuk memjawab dan memperagakan kembali materi yang sudah diterimanya.
b. Menilai
Dalam menutup pelajaran, guru harus juga menilai proses belajar mengajar yang sudah berlangsung. Penilan ini dapat dilakukan dengan cara :
1. Siswa diminta untuk memperagakan kenmbali keterampilan yang baru saja diterimanya.
2. Siswa diminta untuk menjelaskan perbedaan dua tekhnik yang baru saja dilakukannya.
3. Siswa diminta untuk menjelaskan pendapat sendiri
Keterampilan Menjelaskan
Untuk dapat menyampaikan materi secara baik dan benar, guru harus memiliki keterampilan menjelaskan materi yang akan disajikannya. Dalam menyajikan materi teori maupun praktek, guru harus dapat menjelaskan secara lisan di dalam proses belajar mengajar.
Komponen menjelaskan dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu analisis dan perencanaan menjelaskan serta penyajian keterampilan menjelaskan.
a. Analisis dan Perencanaan Menjelaskan
Dua hal yang perlu dianalisis dan direncanakan pada keterampilan menjelaskan yaitu :
1. Isi Pesan yang akan disajikan guru kepada siswa yang meliputi :
• Menetapkan apa yang memerlukan penjelasan
• Mengekspresikan bentuk hubungan yang ada diantara konsep yang harus dihubungkan
• Membuat generalisasi terhadap hubungan yang telah dibentuknya
2. Si penerima pesan itu sendiri yaitu siswa, karakteristik si penerima pesan adalah :
• Umur
• Jenis kelamin
• Kemapuan kelompok
• Pengalaman
• Lingkungan sekolah dan kebijakan
b. Penyajian Ketarampilan Menjelaskan
Komponen ini terdiri dari :
1. Kejelasan dimana pertanyaan yang disajikan harus jelas dan singkat
2. Kelancaran berbicara artinya paparannya harus lancar dan jelas
c. Penggunaan Contoh
Pada setiap tingkat umur sangat sedikit siswa dapat menguasai bahan pelajaran baru tanpa ada contohnya. Berikan contoh yang tepat dan sesuaikan dengan pengalaman siswa secara bervariasi
d. Penekanan
Penekanan merupakan keterampilan penyajian yang meminta perhatian siswa terhadap informasi yang penting. Untuk membantu belajar siswa, pusatkan perhatian pada bagian-bagian yang mendasar atau penting. Cara member penekanan sebagai berikut :
• Penekanan dengan memberi variasi dalam gaya mengajar guru
• Dengan cara menyusun pelajaran dari yang termudah hingga yang tersulit
e. Umpan Balik
Siswa sebaiknya diberi kesempatan untuk memperagakan kembali materi yang telah disajikan. Umpan balik dapat pula diketahui melalui kegiatan atau kesenangan siswa dalam melakukan kegiatan itu. Umpan balik dapat pula diperoleh dari pengamatan tingkah laku siswa dilapangan.
Keterampilan Menvariasikan Metode
Ketrampilan mempariasikan metode dalam proses belajar mengajar meliputi tiga aspek:
1. Variasi dalam gaya mengajar
2. Variasi dalam menggunakan media dan bahan pembelajaran
3. Variasi interaksi antara guru dan siswa.
Dalam mengaplikasikan ketrampilan mempariasikan metode ini, guru pendidikan jasmani dan kesehatan dapat mengintegrasikan dengan pendidikan yang lain seperti:
a. Penggunaan di lapangan.
Di dalam proses belajar dan mengajar pendidikan jasmani dan kesehatan, guru dapat memperlihatkan adanya perubahan dalam gaya mengajar, dalam penggunaannya guru harus bersikap fleksibel dan spontan. Mempariasikan metode ini lebih bersifat proses dengan tujuan untuk:
· Meningkatkan perhatian siswa terhadap proses belajar mengajar.
· Membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah.
· Membangkitkan motivasi.
· Member pilihan dalam menggunakan alat ajar yang diinginkan.
· Meningkantan kemampuan kognitif dan psikomotor.
b. Komponen variasi
Komponen variasi ini terdiri dari yaitu:
1. Variasi gaya mengajar
Variasi gaya mengajar merupakan kemampuan guru merubah prilakunya disesuaikan dengan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar. Prilaku guru akan menjadi dinamis dam meningkatkan komunikasi antara guru dengan siswa. Variasi ini pada dasarnya meliputi:
ü Variasi suara
Suara guru pendidikan jasmani dan kesehatan sangat dominan diperlukan saat mengajar di lapangan.
ü Pemberian waktu
Waktu ini dapat dipergunakan untuk beristirahat oleh siswa dan guru sambil berdiskusi dan Tanya jawab.
ü Kontak pandang
Bila guru berinteraksi dengan siswa, sebaiknya guru mengarahkan pandangannya ke sekuruh siswa. Guru dapat membantu siswa dengan menggunakan matanya untuk menyampaikan informasi dan menarik perhatian siswa.
ü Gerakan anggota badan
Variasi dalam gerak anggota badan merupakan bagian dari komunikasi. Tidsk hsnys menarik perhatian saja, tetapi juga mempertegas dan menolong dalam menyampaikan arti pembicaraan guru yang disampaikan.
ü Pindah posisi
Perpindahan posisi guru di lapangan dapat membantu menarik perhatian siswa. Perpindahan posisi ini dapat dilakukan dari mulai ada di depan siswa berjalan kesamping atau kebelakang siswa. Perpindahan posisi ini tidak mondar-mandir, tetapi harus memiliki makna.
2. Variasi media dan bahan ajar
Masing-masing siswa memiliki kemampuan pendengaran, pengelihatan,maupun fisik yang tidak sama. untuk menarik perhatian siswa, guru bisa memulai dengan berbicara terlebih dahulu, kemudian memberikan peragaan. Ada tiga komponen variasi penggunaan media ini yaitu :
a. Variasi Media Pandang
Media pandang adalah segala sesuatu yang dapat siswa amati dengan pengelihatannya. Dalam pengajaran pendidikan jasmani dan kesehatan di lapangan, guru harus dapat menyediakan berbagai alat peraga yang dapat diamati siswa. Dalam penggunaannya dapat dipakai alat dan bahan untuk komunikasi seperti gambar,video, dan demonstrasi atau peragaan dari siswa atau guru.
b. Variasi Media Dengar
Dalam proses belajar mengajar di lapangan, suara guru sangat vital dalam berkomunikasi dengan siswa. Media yang dapat digunakan sebagai media dengar selain suara guru adalah peluit dan alat music atau music SKJ tahun 2000.
c. Variasi Media Taktik
Variasi ini lebih ditekankan kepada siswa untuk mencoba menggunakan alat peraga yang disediakan oleh guru. Alat itu dapat siswa manfaatkan untuk melakuan berbagai macam gerak manipulasi seperti, melampar, menangkap, menendang, memukul, dan medrebelnya.
3. Variasi Interaksi
Variasi interaksi merupakan pola interaksi antara guru dengan siswa di lapangan. Dalam pendidikan jasmani gaya mengajar terdiri dari dua macam yaitu :
a. Gaya Mengajar Langsung atau Teachers centered
b. Gaya Mengajar tidak Langsung atau Student centered
Di dalam pelaksanannya guru dapat memanfaatkan kedua gaya ini secara teriteregasi. Misalnya, guru membuka kegiatan belajar dengan gaya mengajar komando, kemudian praktek, dan diakhiri dengan problem solving.
Keterampilan Bertanya
Dengan bertanya guru akan membantu siswa belajar untuk meningkatkan kemampuan kognitif, afektif, maupun psikomotor. Oleh karena itu, gurupun dituntut untuk memiliki katerampilan bertanya yang mampu membangkitkan siswa untuk terus belajar.
Kelancaran bertanya merupakan jumlah pertanyaan yang logis dan relefan dianjurkan guru pada siswa di dalam kelas atau di lapangan. Kelancaran bertanya ini sangat diperlukan guru didalam proses belajar mengajar pendidikan jasmani dan kesehatan. Komponen yang enting dalam bertanya adalah jelas dan ringkas.
Pertanyaan yang diajukan guru harus diarahkan pada mata pelajaran, memiliki relefansi dengan materi pelajaran, dan membantu siswa dalam mencapai tujuan pelajaran yang telah ditetapkan oleh guru. Untuk itu guru harus memiliki ketrerampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjut.
1. Keterampilan Bertanya Dasar
a. Tujuan
Keterampilan bertanya dasar memiliki tujuan antara lain :
• Meningkatkan perhatian dan rasa ingin tahu siswa.
• Mengembangkan belajar aktif.
• Merangsang siswa untuk bertanya.
• Mendianoigsa kesulitan belajar siswa
b. Penyusunan Kata-Kata
Agar siswa dapat merespon pertanyaan dari guru, maka pertanyaan itu harus disusun dengan kata-kata yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa dengan demikian pertanyaan dapat disusun sedemikian rupa sehingga, tugas siswa menjadi jelas dan dapat mengambil kata-kata yang diberikan untuk menjawabnya.
c. Struktur
Sebelum dan sesudah pertanyaan itu diajukan, guru hendaknya member informasi baik verbal maupun gerak fisik yang relavan dengan tugas siswa. Cara ini memiliki pengaruh yang prnting bagi siswa, terutama memberi materi yang cukup untuk pemecahan masalah.
d. Pemusatan
Ada dua komponen yang tercakup dalam pemusatan ini yaitu pertanmyaan luas dan sempit umumnya pertanyaan luas itu di ajukan pertama kali guru membuka pertanyaan agar siswa terlibat secara maksimal. Pertanyaan sempit sebagai cadangan untuk memberi informasi yang relevan terhadap pertanyaan siswa.
e. Pindah Gilir
Agar pertanyaan yang guru sampaikan mendapat perhatian yang penuh dari siswa, guru harus meminta siswa untuk merespon pertanyaanya. Apabila tidak, guru dapat memanggil nama salah seorang siswa untuk memberikan tanggapannya baik berupa verbal atau aktifitas gerak.
f. Distribusi
Untuk melibatkan siswa langsung sebanyak mungkin dalam pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan, guru harus dapat mendistribusikan pertanyaan secara acak selam proses belajar pembelajaran itu berlangsung.
g. Pemberian waktu
Masing-masing siswa memiliki kecepatan respon yang berbeda. Oleh karena itu, guru dapat memberikan batas waktu kepada siswa agar pertanyaannya dapat direspon.
h. Hangat dan Antusias
Untuk dapat meningkatkan partisipasi siswa, guru harus memberikan penguatan verbal seperti pujian dengan kata bagus, baik, cantik, dan good maupun non verbal seperti, acungan jempol,anggukan, dan sbg.
i. Empat (4) hal yang perlu dihindari dalam menyampaikan pertanyaan yaitu :
• Jangan mengulangi pertanyaan sendiri beberapa kali dengan pertanyaan yang sama dengan alasan
• Guru berusaha untuk tidak mengulangi jawaban siswa agar yang lain berinisiatif untuk berkomentar.
• Guru mencoba untuk tidak menjawab pertanyaan yang diajukannya sendiri.
• Guru jangan terburu-buru agar pertanyaannya cepat direspon
2. Keterampilan Bertanya Lanjutan
Fokus utama dalam pengajaran pendidikan jasmani dan kesehatan adalah siswa mampu mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Dengan teknik bertanya guru akan memperoleh manfaat dalam hubungannya dengan bertanya kognitif dan psikomotor. Untuk mengklasifikasikan jenis pertanyaan itu, maka digunakan konsep taksonomi bloon.
a. Kognitif
• Pengetahuan
Pertanyaan ini meminta siswa untuk mengingat kembali informasi yang telah diterimanya.
• Pemahaman
Hal ini akan menyangkut kemampuan siswa untuk mengekspresikan dengan kata-kata lain atau memberikan contoh untuk menggambarkan ide abstrak.
• Penerapan
Pertanyaan penerapan ini biasanya meminta siswa menggunakan abstrak dan generalisasi pada situasi tertentu.
• Analisis
Pertanyaan analisis cenderung meminta siswa untuk dapat memcahkan masalah sampai pada bagian terkecil untuk dipelajari dan bagaimana hubungan antara bagian-bagian itu.
• Sintesis
Pertanyaan ini meminta siswa untuk membentuk pikiran baru tentang konsep, perencanaan, atau percobaan.
• Evaluasi
Pertanyaan evaluasi ini meminta siswa untuk dapat membuat keputusan atau pendapat mengenai mutu.
b. Psikomotor
• Gerak Tubuh
Gerak tubuh merupakan aktifitas yang tidak bisa dipisahkan dalam pelajaran pendidikan jasmani.
• Kordinasi Gerak
Kemampuan yang lebih komplek dari pada gerak tubuh adalah koordinasi gerak.
Ketrampilan memberi penguatan
Pemberian hadiah dan hukuman di sekolah merupakan respon siswa pada guru karena perbuatannya. Pemberian hadiah merupakan respon yang positif, sedangkan pemberian hukuman merupakan respon yang negative. Namun kedua respon tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu upaya merubah prilaku siswa.
Respon positif tujuannya agar tingkah laku yang sudah baik frekuensinya bertambah atau berulang. Sedangkan respon negative tujuannya agar tingkah laku yang kurang baik prekuensinya berkurang atau hilang. Pemberian respon seperti itu dalam proses belajar mengajar disebut “pemberian penguatan”.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan di dalam memberikan penguatan pada siswa yaitu :
1. Tujuan
Penguatan ini bertujuan untuk:
a. Meningkatkan perhatian siswa
b. Member motivasi pada siswa
c. Mengubah tingkah laku siswa
d. Mengembangkan kepercayaan diri siswa
e. Mengarahkan pengembangan berfikir
2. Penerapan
Yang perlu diperhatikan dalam pemberian penguatan pada siswa adalah guru harus yakin bahwa siswa akan mwnghargainya dan menyadari respon yang diberikan oleh guru. Dalam penerapannya pemberian penguatan ini dapat dilakukan pada saat:
a. Siswa memperhatikan guru
b. Siswa sedang belajar
c. Siswa yang berusaha menyelesaikan tugas gerak
d. Siswa yang berusaha melakukan gerak secara sempurna
e. Siswa yang ingin memperbaiki kesaelahan gerak
3. Pola penguatan
Pola berkesinambungan dan pola bagian merupakan pola dasar dalam pemberian penguatan. Pola penguatan yang berkesinambungan ini akan teep[at sekali bila diberikan pada saat memulai pelajaran. Sedangkan penguatan sebagian-sebagian adalah penguatan yang diberikan terhadap suatu respon tertentu tetapi tidak keseluruhan.
Guru sebaiknya harus berhati-hati dalam memilih pola pemberian penguatan terhadap siswa. pola dan frekuensi pemberian penguatan akan berhubungan dengan kebutuhan, kepentingan, tingkah laku, dan kemam[puan siswa.
4. Komponen pemberian penguatan
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemberian penguatan kepada siswa adalah tingkat sekolah (SD, SLTP, SLTA, dan PT), variasi siswa dalam kelas (gender, agama, dan ras), dan kelompok umur tertentu. Ada enam komponen yang diperlukan dalam pemberian penguatan yaitu:
a. Penguatan verbal
Penguatan verbal bentuknya seperti pujian dan dorongan yang diucapkan oleh guru, ucapan itu dapant berupa kata-kata.
b. Penguatan gestural (bahasa gerak)
Bentuk penguatan gestural dapat dikakukan dengan mimic. Dalam hal ini guru dapat mengembangkan sendiri bentuk-bentuknya sesuai dengan kebiasaan yang berlaku sehingga dapat diperbaiki interaksi guru dengan siswa.
c. Penguatan kegiatan
Penguatan kegiatan hanya terjadi bila guru menggunakan suatu kegiatan, sehingga siswa dapat memilihnya sebagai suatu hadiah atas penampilan sebumnya. Dalam memilih kegiatan hendaknya dipilih yang memiliki relevansi dengan tujuan pengajaran yang diperlukan siswa.
d. Menguatan mendekati
Perhatian yang diberikan guru kepada siswa menandakan bahwa guru tertarik. Biasanya bila guru tertarik dengan apa ynag dilakukan siswa, guru akan mendekatinya.
e. Penguatan sentuhan
Penguatan sentuhan merupakan penguatan yang terjadi bila guru secara fidik menyentuh siswa. bentuknya adalah menepuk bahu dll.
f. Penguatan tanda
Penguatan ini biasanya ditampilkan guru sebagai penghargaan atas penampilan siswa yang mengagumkan. Perbuatan ini dapat berbentuk tulisan seperti sertivikat atau tanda penghargaan.
5. Model penggunaan
Dalam pengguanaannya, penguatan ini dapat mengembangkan model penggunaan sebagai berikut:
a. Penguatan seluruh kelompok, artinya pemberian penguatan kepada seluruh siswa yang ada di kelas tersebut.
b. Penguatan yang ditunda, artinya penghargaan yang akan diberikan ditunda dahulu sambil menunggu saat yang tepat.
c. Penguatan parsial, artinya penguatan yang dipakai untuk menghindari pengguanaan penguatan negative dan pemberian kritik.
d. Penguatan perorangan, artinya memberi penguatan secara khusus karena penampilan siswa yang istimewa.
6. Prinsiip penggunaan penguatan
Ada empat prinsip yang dapat guru perhatikan dalam mempemberikan penguatan yaitu:
a. Hangat dan antusias, artinya guru memberikan pujian itu tidak basa-basi melainkan secara spontan dengan penuh kehangatan dan antusias yang wajar.
b. Hindari dari penguatan negative, artinya guru sebaiknya tidak memberikan hukuman yang berlebihan pada siswa sebab hal ini dapat memberikan dampak yang kurang menguntungkan.
c. Penguatan bervariasi, artinya pemberian penguatan sebaiknya diberi secara bervariasi baik komponen maupun caranya, dan diberikan secara hangat dan antusias.
Bermakna, artinya agar setiap pemberian penguatan menjadi efektif, maka harus dilaksanakan pada saat siswa mengetahui adanya hubungan antara pemberian pengiatyan terhadap tingkah lakunya dan melihat bahwa itu sangat bermanfaat. Hindari memberikan penguatan yang tidak professional.
Kamis, 31 Maret 2011
Pengertian Supervisi Pendidikan
Istilah supervisi berasal dari dua kata, yaitu “super” dan “vision”. Dalam Webster’s New World Dictionary istilah super berarti “higher in rank or position than, superior to (superintendent), a greater or better than others” (1991:1343) sedangkan kata vision berarti “the ability to perceive something not actually visible, as through mental acuteness or keen foresight (1991:1492).
Supervisor adalah seorang yang profesional. Dalam menjalankan tugasnya, ia bertindak atas dasar kaidah-kaidah ilmiah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Untuk melakukan supervise diperlukan kelebihan yang dapat melihat dengan tajam terhadap permasalahan peningkatan mutu pendidikan, menggunakan kepekaan untuk memahaminya dan tidak hanya sekedar menggunakan penglihatan mata biasa. Ia membina peningkatan mutu akademik melalui penciptaan situasi belajar yang lebih baik, baik dalam hal fisik maupun lingkungan non fisik.
Perumusan atau pengertian supervisi dapat dijelaskan dari berbagai sudut, baik menurut asal-usul (etimologi), bentuk perkataannya, maupun isi yang terkandung di dalam perkataanya itu (semantic). Secara etimologis, supervisi menurut S. Wajowasito dan W.J.S Poerwadarminta yang dikutip oleh Ametembun (1993:1) : “Supervisi dialih bahasakan dari perkataan inggris “Supervision” artinya pengawasan. Pengertian supervisi secara etimologis masih menurut Ametembun (1993:2), menyebutkan bahwa dilihat dari bentuk perkataannya, supervise terdiri dari dua buah kata super + vision : Super = atas, lebih, Vision = lihat, tilik, awasi. Makna yang terkandung dari pengertian tersebut, bahwa seorang supervisor mempunyai kedudukan atau posisi lebih dari orang yang disupervisi, tugasnya adalah melihat, menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisi.
Para ahli dalam bidang administrasi pendidikan memberikan kesepakatan bahwa supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada pengkajian peningkatan situasi belajar-mengajar, seperti yang diungkapkan oleh ( Gregorio, 1966, Glickman Carl D, 1990, Sergiovanni, 1993 dan Gregg Miller, 2003). Hal ini diungkapkan pula dalam tulisan Asosiasi Supervisi dan Pengembangan Kurikulum di Amerika (Association for Supervision and Curriculum Development, 1987:129) yang menyebutkan sebagai berikut:
Supervisi yang lakukan oleh pengawas satuan pendidikan, tentu memiliki misi yang berbeda dengan supervisi oleh kepala sekolah. Dalam hal ini supervisi lebih ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada kepala sekolah dalam melakukan pengelolaan kelembagaan secara efektif dan efisien serta mengembangkan mutu kelembagaan pendidikan.
Dalam konteks pengawasan mutu pendidikan, maka supervisi oleh pengawas satuan pendidikan antara lain kegiatannya berupa pengamatan secara intensif terhadap proses pembelajaran pada lembaga pendidikan, kemudian ditindak lanjuti dengan pemberian feed back. (Razik, 1995: 559).
Rifa’i (1992: 20) merumuskan istilah supervisi merupakan pengawasan profesional, sebab hal ini di samping bersifat lebih spesifik juga melakukan pengamatan terhadap kegiatan akademik yang mendasarkan pada kemampuan ilmiah, dan pendekatannya pun bukan lagi pengawasan manajemen biasa, tetapi lebih bersifat menuntut kemampuan professional yang demokratis dan humanistik oleh para pengawas pendidikan.
Supervisi pada dasarnya diarahkan pada dua aspek, yakni: supervise akademis, dan supervisi manajerial. Supervisi akademis menitikberatkan pada pengamatan supervisor terhadap kegiatan akademis, berupa pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. Supervisi manajerial menitik beratkan pada pengamatan pada aspek-aspek pengelolaan dan administrasi sekolah yang berfungsi sebagai pendukung (supporting) terlaksananya pembelajaran.
Oliva (1984: 19-20) menjelaskan ada empat macam peran seorang pengawas atau supervisor pendidikan, yaitu sebagai: coordinator, consultant, group leader dan evaluator. Supervisor harus mampu mengkoordinasikan programs, goups, materials, and reports yang berkaitan dengan sekolah dan para guru. Supervisor juga harus mampu berperan sebagai konsultan dalam manajemen sekolah, pengembangan kurikulum, teknologi pembelajaran, dan pengembangan staf. Ia harus melayani kepala sekolah dan guru, baik secara kelompok maupun indivi- dual. Ada kalanya supervisor harus berperan sebagai pemimpin kelompok, dalam pertemuan-pertemuan yang berkaitan dengan pengem- bangan kurikulum, pembelajaran atau manajemen sekolah secara umum.
Gregorio (1966) mengemukakan bahwa ada lima fungsi utama supervisi, yaitu: sebagai inspeksi, penelitian, pelatihan, bimbingan dan penilaian. Fungsi inspeksi antara lain berperan dalam mempelajari keadaan dan kondisi sekolah, dan pada lembaga terkait, maka tugas seorang supervisor antara lain berperan dalam melakukan penelitian mengenai keadaan sekolah secara keseluruhan baik pada guru, siswa, kurikulum tujuan belajar maupun metode mengajar, dan sasaran inspeksi adalah menemukan permasalahan dengan cara melakukan observasi, interview, angket, pertemuan-pertemuan dan daftar isian.
Fungsi penelitian adalah mencari jalan keluar dari permasalahan yang berhubungan sedang dihadapi, dan penelitian ini dilakukan sesuai dengan prosedur ilmiah, yakni merumuskan masalah yang akan diteliti, mengumpulkan data, mengolah data, dan melakukan analisa guna menarik suatu kesimpulan atas apa yang berkembang dalam menyusun strategi keluar dari permasalahan diatas.
Fungsi pelatihan merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan keterampilan guru/kepala sekolah dalam suatu bidang. Dalam pelatihan diperkenalkan kepada guru cara-cara baru yang lebih sesuai dalam melaksanakan suatu proses pembelajaran, dan jenis pelatihan yang dapat dipergunakan antara lan melalui demonstrasi mengajar, workshop, seminar, observasi, individual dan group conference, serta kunjungan supervisi.
Fungsi bimbingan sendiri diartikan sebagai usaha untuk mendorong guru baik secara perorangan maupun kelompok agar mereka mau melakukan berbagai perbaikan dalam menjalankan tugasnya. Kegiatan bimbingan dilakukan dengan cara membangkitkan kemauan, memberi semangat, mengarahkan dan merangsang untuk melakukan percobaan, serta membantu
menerapkan sebuah prosedur mengajar yang baru.
Fungsi penilaian adalah untuk mengukur tingkat kemajuan yang diinginkan, seberapa besar telah dicapai dan penilaian ini dilakukan dengan beragai cara seperti test, penetapan standar, penilaian kemajuan belajar siswa, melihat perkembangan hasil penilaian sekolah serta prosedur lain yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.
Lebih lanjut tentang: Pengertian Supervisi Pendidikan
Istilah supervisi berasal dari dua kata, yaitu “super” dan “vision”. Dalam Webster’s New World Dictionary istilah super berarti “higher in rank or position than, superior to (superintendent), a greater or better than others” (1991:1343) sedangkan kata vision berarti “the ability to perceive something not actually visible, as through mental acuteness or keen foresight (1991:1492).
Supervisor adalah seorang yang profesional. Dalam menjalankan tugasnya, ia bertindak atas dasar kaidah-kaidah ilmiah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Untuk melakukan supervise diperlukan kelebihan yang dapat melihat dengan tajam terhadap permasalahan peningkatan mutu pendidikan, menggunakan kepekaan untuk memahaminya dan tidak hanya sekedar menggunakan penglihatan mata biasa. Ia membina peningkatan mutu akademik melalui penciptaan situasi belajar yang lebih baik, baik dalam hal fisik maupun lingkungan non fisik.
Perumusan atau pengertian supervisi dapat dijelaskan dari berbagai sudut, baik menurut asal-usul (etimologi), bentuk perkataannya, maupun isi yang terkandung di dalam perkataanya itu (semantic). Secara etimologis, supervisi menurut S. Wajowasito dan W.J.S Poerwadarminta yang dikutip oleh Ametembun (1993:1) : “Supervisi dialih bahasakan dari perkataan inggris “Supervision” artinya pengawasan. Pengertian supervisi secara etimologis masih menurut Ametembun (1993:2), menyebutkan bahwa dilihat dari bentuk perkataannya, supervise terdiri dari dua buah kata super + vision : Super = atas, lebih, Vision = lihat, tilik, awasi. Makna yang terkandung dari pengertian tersebut, bahwa seorang supervisor mempunyai kedudukan atau posisi lebih dari orang yang disupervisi, tugasnya adalah melihat, menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisi.
Para ahli dalam bidang administrasi pendidikan memberikan kesepakatan bahwa supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada pengkajian peningkatan situasi belajar-mengajar, seperti yang diungkapkan oleh ( Gregorio, 1966, Glickman Carl D, 1990, Sergiovanni, 1993 dan Gregg Miller, 2003). Hal ini diungkapkan pula dalam tulisan Asosiasi Supervisi dan Pengembangan Kurikulum di Amerika (Association for Supervision and Curriculum Development, 1987:129) yang menyebutkan sebagai berikut:
Supervisi yang lakukan oleh pengawas satuan pendidikan, tentu memiliki misi yang berbeda dengan supervisi oleh kepala sekolah. Dalam hal ini supervisi lebih ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada kepala sekolah dalam melakukan pengelolaan kelembagaan secara efektif dan efisien serta mengembangkan mutu kelembagaan pendidikan.
Dalam konteks pengawasan mutu pendidikan, maka supervisi oleh pengawas satuan pendidikan antara lain kegiatannya berupa pengamatan secara intensif terhadap proses pembelajaran pada lembaga pendidikan, kemudian ditindak lanjuti dengan pemberian feed back. (Razik, 1995: 559).
Rifa’i (1992: 20) merumuskan istilah supervisi merupakan pengawasan profesional, sebab hal ini di samping bersifat lebih spesifik juga melakukan pengamatan terhadap kegiatan akademik yang mendasarkan pada kemampuan ilmiah, dan pendekatannya pun bukan lagi pengawasan manajemen biasa, tetapi lebih bersifat menuntut kemampuan professional yang demokratis dan humanistik oleh para pengawas pendidikan.
Supervisi pada dasarnya diarahkan pada dua aspek, yakni: supervise akademis, dan supervisi manajerial. Supervisi akademis menitikberatkan pada pengamatan supervisor terhadap kegiatan akademis, berupa pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. Supervisi manajerial menitik beratkan pada pengamatan pada aspek-aspek pengelolaan dan administrasi sekolah yang berfungsi sebagai pendukung (supporting) terlaksananya pembelajaran.
Oliva (1984: 19-20) menjelaskan ada empat macam peran seorang pengawas atau supervisor pendidikan, yaitu sebagai: coordinator, consultant, group leader dan evaluator. Supervisor harus mampu mengkoordinasikan programs, goups, materials, and reports yang berkaitan dengan sekolah dan para guru. Supervisor juga harus mampu berperan sebagai konsultan dalam manajemen sekolah, pengembangan kurikulum, teknologi pembelajaran, dan pengembangan staf. Ia harus melayani kepala sekolah dan guru, baik secara kelompok maupun indivi- dual. Ada kalanya supervisor harus berperan sebagai pemimpin kelompok, dalam pertemuan-pertemuan yang berkaitan dengan pengem- bangan kurikulum, pembelajaran atau manajemen sekolah secara umum.
Gregorio (1966) mengemukakan bahwa ada lima fungsi utama supervisi, yaitu: sebagai inspeksi, penelitian, pelatihan, bimbingan dan penilaian. Fungsi inspeksi antara lain berperan dalam mempelajari keadaan dan kondisi sekolah, dan pada lembaga terkait, maka tugas seorang supervisor antara lain berperan dalam melakukan penelitian mengenai keadaan sekolah secara keseluruhan baik pada guru, siswa, kurikulum tujuan belajar maupun metode mengajar, dan sasaran inspeksi adalah menemukan permasalahan dengan cara melakukan observasi, interview, angket, pertemuan-pertemuan dan daftar isian.
Fungsi penelitian adalah mencari jalan keluar dari permasalahan yang berhubungan sedang dihadapi, dan penelitian ini dilakukan sesuai dengan prosedur ilmiah, yakni merumuskan masalah yang akan diteliti, mengumpulkan data, mengolah data, dan melakukan analisa guna menarik suatu kesimpulan atas apa yang berkembang dalam menyusun strategi keluar dari permasalahan diatas.
Fungsi pelatihan merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan keterampilan guru/kepala sekolah dalam suatu bidang. Dalam pelatihan diperkenalkan kepada guru cara-cara baru yang lebih sesuai dalam melaksanakan suatu proses pembelajaran, dan jenis pelatihan yang dapat dipergunakan antara lan melalui demonstrasi mengajar, workshop, seminar, observasi, individual dan group conference, serta kunjungan supervisi.
Fungsi bimbingan sendiri diartikan sebagai usaha untuk mendorong guru baik secara perorangan maupun kelompok agar mereka mau melakukan berbagai perbaikan dalam menjalankan tugasnya. Kegiatan bimbingan dilakukan dengan cara membangkitkan kemauan, memberi semangat, mengarahkan dan merangsang untuk melakukan percobaan, serta membantu
menerapkan sebuah prosedur mengajar yang baru.
Fungsi penilaian adalah untuk mengukur tingkat kemajuan yang diinginkan, seberapa besar telah dicapai dan penilaian ini dilakukan dengan beragai cara seperti test, penetapan standar, penilaian kemajuan belajar siswa, melihat perkembangan hasil penilaian sekolah serta prosedur lain yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.
Lebih lanjut tentang: Pengertian Supervisi Pendidikan
Pengertian Supervisi Pendidikan
Istilah supervisi berasal dari dua kata, yaitu “super” dan “vision”. Dalam Webster’s New World Dictionary istilah super berarti “higher in rank or position than, superior to (superintendent), a greater or better than others” (1991:1343) sedangkan kata vision berarti “the ability to perceive something not actually visible, as through mental acuteness or keen foresight (1991:1492).
Supervisor adalah seorang yang profesional. Dalam menjalankan tugasnya, ia bertindak atas dasar kaidah-kaidah ilmiah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Untuk melakukan supervise diperlukan kelebihan yang dapat melihat dengan tajam terhadap permasalahan peningkatan mutu pendidikan, menggunakan kepekaan untuk memahaminya dan tidak hanya sekedar menggunakan penglihatan mata biasa. Ia membina peningkatan mutu akademik melalui penciptaan situasi belajar yang lebih baik, baik dalam hal fisik maupun lingkungan non fisik.
Perumusan atau pengertian supervisi dapat dijelaskan dari berbagai sudut, baik menurut asal-usul (etimologi), bentuk perkataannya, maupun isi yang terkandung di dalam perkataanya itu (semantic). Secara etimologis, supervisi menurut S. Wajowasito dan W.J.S Poerwadarminta yang dikutip oleh Ametembun (1993:1) : “Supervisi dialih bahasakan dari perkataan inggris “Supervision” artinya pengawasan. Pengertian supervisi secara etimologis masih menurut Ametembun (1993:2), menyebutkan bahwa dilihat dari bentuk perkataannya, supervise terdiri dari dua buah kata super + vision : Super = atas, lebih, Vision = lihat, tilik, awasi. Makna yang terkandung dari pengertian tersebut, bahwa seorang supervisor mempunyai kedudukan atau posisi lebih dari orang yang disupervisi, tugasnya adalah melihat, menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisi.
Para ahli dalam bidang administrasi pendidikan memberikan kesepakatan bahwa supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada pengkajian peningkatan situasi belajar-mengajar, seperti yang diungkapkan oleh ( Gregorio, 1966, Glickman Carl D, 1990, Sergiovanni, 1993 dan Gregg Miller, 2003). Hal ini diungkapkan pula dalam tulisan Asosiasi Supervisi dan Pengembangan Kurikulum di Amerika (Association for Supervision and Curriculum Development, 1987:129) yang menyebutkan sebagai berikut:
Supervisi yang lakukan oleh pengawas satuan pendidikan, tentu memiliki misi yang berbeda dengan supervisi oleh kepala sekolah. Dalam hal ini supervisi lebih ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada kepala sekolah dalam melakukan pengelolaan kelembagaan secara efektif dan efisien serta mengembangkan mutu kelembagaan pendidikan.
Dalam konteks pengawasan mutu pendidikan, maka supervisi oleh pengawas satuan pendidikan antara lain kegiatannya berupa pengamatan secara intensif terhadap proses pembelajaran pada lembaga pendidikan, kemudian ditindak lanjuti dengan pemberian feed back. (Razik, 1995: 559).
Rifa’i (1992: 20) merumuskan istilah supervisi merupakan pengawasan profesional, sebab hal ini di samping bersifat lebih spesifik juga melakukan pengamatan terhadap kegiatan akademik yang mendasarkan pada kemampuan ilmiah, dan pendekatannya pun bukan lagi pengawasan manajemen biasa, tetapi lebih bersifat menuntut kemampuan professional yang demokratis dan humanistik oleh para pengawas pendidikan.
Supervisi pada dasarnya diarahkan pada dua aspek, yakni: supervise akademis, dan supervisi manajerial. Supervisi akademis menitikberatkan pada pengamatan supervisor terhadap kegiatan akademis, berupa pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. Supervisi manajerial menitik beratkan pada pengamatan pada aspek-aspek pengelolaan dan administrasi sekolah yang berfungsi sebagai pendukung (supporting) terlaksananya pembelajaran.
Oliva (1984: 19-20) menjelaskan ada empat macam peran seorang pengawas atau supervisor pendidikan, yaitu sebagai: coordinator, consultant, group leader dan evaluator. Supervisor harus mampu mengkoordinasikan programs, goups, materials, and reports yang berkaitan dengan sekolah dan para guru. Supervisor juga harus mampu berperan sebagai konsultan dalam manajemen sekolah, pengembangan kurikulum, teknologi pembelajaran, dan pengembangan staf. Ia harus melayani kepala sekolah dan guru, baik secara kelompok maupun indivi- dual. Ada kalanya supervisor harus berperan sebagai pemimpin kelompok, dalam pertemuan-pertemuan yang berkaitan dengan pengem- bangan kurikulum, pembelajaran atau manajemen sekolah secara umum.
Gregorio (1966) mengemukakan bahwa ada lima fungsi utama supervisi, yaitu: sebagai inspeksi, penelitian, pelatihan, bimbingan dan penilaian. Fungsi inspeksi antara lain berperan dalam mempelajari keadaan dan kondisi sekolah, dan pada lembaga terkait, maka tugas seorang supervisor antara lain berperan dalam melakukan penelitian mengenai keadaan sekolah secara keseluruhan baik pada guru, siswa, kurikulum tujuan belajar maupun metode mengajar, dan sasaran inspeksi adalah menemukan permasalahan dengan cara melakukan observasi, interview, angket, pertemuan-pertemuan dan daftar isian.
Fungsi penelitian adalah mencari jalan keluar dari permasalahan yang berhubungan sedang dihadapi, dan penelitian ini dilakukan sesuai dengan prosedur ilmiah, yakni merumuskan masalah yang akan diteliti, mengumpulkan data, mengolah data, dan melakukan analisa guna menarik suatu kesimpulan atas apa yang berkembang dalam menyusun strategi keluar dari permasalahan diatas.
Fungsi pelatihan merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan keterampilan guru/kepala sekolah dalam suatu bidang. Dalam pelatihan diperkenalkan kepada guru cara-cara baru yang lebih sesuai dalam melaksanakan suatu proses pembelajaran, dan jenis pelatihan yang dapat dipergunakan antara lan melalui demonstrasi mengajar, workshop, seminar, observasi, individual dan group conference, serta kunjungan supervisi.
Fungsi bimbingan sendiri diartikan sebagai usaha untuk mendorong guru baik secara perorangan maupun kelompok agar mereka mau melakukan berbagai perbaikan dalam menjalankan tugasnya. Kegiatan bimbingan dilakukan dengan cara membangkitkan kemauan, memberi semangat, mengarahkan dan merangsang untuk melakukan percobaan, serta membantu
menerapkan sebuah prosedur mengajar yang baru.
Fungsi penilaian adalah untuk mengukur tingkat kemajuan yang diinginkan, seberapa besar telah dicapai dan penilaian ini dilakukan dengan beragai cara seperti test, penetapan standar, penilaian kemajuan belajar siswa, melihat perkembangan hasil penilaian sekolah serta prosedur lain yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.
Lebih lanjut tentang: Pengertian Supervisi Pendidikan
Supervisor adalah seorang yang profesional. Dalam menjalankan tugasnya, ia bertindak atas dasar kaidah-kaidah ilmiah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Untuk melakukan supervise diperlukan kelebihan yang dapat melihat dengan tajam terhadap permasalahan peningkatan mutu pendidikan, menggunakan kepekaan untuk memahaminya dan tidak hanya sekedar menggunakan penglihatan mata biasa. Ia membina peningkatan mutu akademik melalui penciptaan situasi belajar yang lebih baik, baik dalam hal fisik maupun lingkungan non fisik.
Perumusan atau pengertian supervisi dapat dijelaskan dari berbagai sudut, baik menurut asal-usul (etimologi), bentuk perkataannya, maupun isi yang terkandung di dalam perkataanya itu (semantic). Secara etimologis, supervisi menurut S. Wajowasito dan W.J.S Poerwadarminta yang dikutip oleh Ametembun (1993:1) : “Supervisi dialih bahasakan dari perkataan inggris “Supervision” artinya pengawasan. Pengertian supervisi secara etimologis masih menurut Ametembun (1993:2), menyebutkan bahwa dilihat dari bentuk perkataannya, supervise terdiri dari dua buah kata super + vision : Super = atas, lebih, Vision = lihat, tilik, awasi. Makna yang terkandung dari pengertian tersebut, bahwa seorang supervisor mempunyai kedudukan atau posisi lebih dari orang yang disupervisi, tugasnya adalah melihat, menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisi.
Para ahli dalam bidang administrasi pendidikan memberikan kesepakatan bahwa supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada pengkajian peningkatan situasi belajar-mengajar, seperti yang diungkapkan oleh ( Gregorio, 1966, Glickman Carl D, 1990, Sergiovanni, 1993 dan Gregg Miller, 2003). Hal ini diungkapkan pula dalam tulisan Asosiasi Supervisi dan Pengembangan Kurikulum di Amerika (Association for Supervision and Curriculum Development, 1987:129) yang menyebutkan sebagai berikut:
Supervisi yang lakukan oleh pengawas satuan pendidikan, tentu memiliki misi yang berbeda dengan supervisi oleh kepala sekolah. Dalam hal ini supervisi lebih ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada kepala sekolah dalam melakukan pengelolaan kelembagaan secara efektif dan efisien serta mengembangkan mutu kelembagaan pendidikan.
Dalam konteks pengawasan mutu pendidikan, maka supervisi oleh pengawas satuan pendidikan antara lain kegiatannya berupa pengamatan secara intensif terhadap proses pembelajaran pada lembaga pendidikan, kemudian ditindak lanjuti dengan pemberian feed back. (Razik, 1995: 559).
Rifa’i (1992: 20) merumuskan istilah supervisi merupakan pengawasan profesional, sebab hal ini di samping bersifat lebih spesifik juga melakukan pengamatan terhadap kegiatan akademik yang mendasarkan pada kemampuan ilmiah, dan pendekatannya pun bukan lagi pengawasan manajemen biasa, tetapi lebih bersifat menuntut kemampuan professional yang demokratis dan humanistik oleh para pengawas pendidikan.
Supervisi pada dasarnya diarahkan pada dua aspek, yakni: supervise akademis, dan supervisi manajerial. Supervisi akademis menitikberatkan pada pengamatan supervisor terhadap kegiatan akademis, berupa pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. Supervisi manajerial menitik beratkan pada pengamatan pada aspek-aspek pengelolaan dan administrasi sekolah yang berfungsi sebagai pendukung (supporting) terlaksananya pembelajaran.
Oliva (1984: 19-20) menjelaskan ada empat macam peran seorang pengawas atau supervisor pendidikan, yaitu sebagai: coordinator, consultant, group leader dan evaluator. Supervisor harus mampu mengkoordinasikan programs, goups, materials, and reports yang berkaitan dengan sekolah dan para guru. Supervisor juga harus mampu berperan sebagai konsultan dalam manajemen sekolah, pengembangan kurikulum, teknologi pembelajaran, dan pengembangan staf. Ia harus melayani kepala sekolah dan guru, baik secara kelompok maupun indivi- dual. Ada kalanya supervisor harus berperan sebagai pemimpin kelompok, dalam pertemuan-pertemuan yang berkaitan dengan pengem- bangan kurikulum, pembelajaran atau manajemen sekolah secara umum.
Gregorio (1966) mengemukakan bahwa ada lima fungsi utama supervisi, yaitu: sebagai inspeksi, penelitian, pelatihan, bimbingan dan penilaian. Fungsi inspeksi antara lain berperan dalam mempelajari keadaan dan kondisi sekolah, dan pada lembaga terkait, maka tugas seorang supervisor antara lain berperan dalam melakukan penelitian mengenai keadaan sekolah secara keseluruhan baik pada guru, siswa, kurikulum tujuan belajar maupun metode mengajar, dan sasaran inspeksi adalah menemukan permasalahan dengan cara melakukan observasi, interview, angket, pertemuan-pertemuan dan daftar isian.
Fungsi penelitian adalah mencari jalan keluar dari permasalahan yang berhubungan sedang dihadapi, dan penelitian ini dilakukan sesuai dengan prosedur ilmiah, yakni merumuskan masalah yang akan diteliti, mengumpulkan data, mengolah data, dan melakukan analisa guna menarik suatu kesimpulan atas apa yang berkembang dalam menyusun strategi keluar dari permasalahan diatas.
Fungsi pelatihan merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan keterampilan guru/kepala sekolah dalam suatu bidang. Dalam pelatihan diperkenalkan kepada guru cara-cara baru yang lebih sesuai dalam melaksanakan suatu proses pembelajaran, dan jenis pelatihan yang dapat dipergunakan antara lan melalui demonstrasi mengajar, workshop, seminar, observasi, individual dan group conference, serta kunjungan supervisi.
Fungsi bimbingan sendiri diartikan sebagai usaha untuk mendorong guru baik secara perorangan maupun kelompok agar mereka mau melakukan berbagai perbaikan dalam menjalankan tugasnya. Kegiatan bimbingan dilakukan dengan cara membangkitkan kemauan, memberi semangat, mengarahkan dan merangsang untuk melakukan percobaan, serta membantu
menerapkan sebuah prosedur mengajar yang baru.
Fungsi penilaian adalah untuk mengukur tingkat kemajuan yang diinginkan, seberapa besar telah dicapai dan penilaian ini dilakukan dengan beragai cara seperti test, penetapan standar, penilaian kemajuan belajar siswa, melihat perkembangan hasil penilaian sekolah serta prosedur lain yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.
Lebih lanjut tentang: Pengertian Supervisi Pendidikan
Pengertian Supervisi Pendidikan
Istilah supervisi berasal dari dua kata, yaitu “super” dan “vision”. Dalam Webster’s New World Dictionary istilah super berarti “higher in rank or position than, superior to (superintendent), a greater or better than others” (1991:1343) sedangkan kata vision berarti “the ability to perceive something not actually visible, as through mental acuteness or keen foresight (1991:1492).
Supervisor adalah seorang yang profesional. Dalam menjalankan tugasnya, ia bertindak atas dasar kaidah-kaidah ilmiah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Untuk melakukan supervise diperlukan kelebihan yang dapat melihat dengan tajam terhadap permasalahan peningkatan mutu pendidikan, menggunakan kepekaan untuk memahaminya dan tidak hanya sekedar menggunakan penglihatan mata biasa. Ia membina peningkatan mutu akademik melalui penciptaan situasi belajar yang lebih baik, baik dalam hal fisik maupun lingkungan non fisik.
Perumusan atau pengertian supervisi dapat dijelaskan dari berbagai sudut, baik menurut asal-usul (etimologi), bentuk perkataannya, maupun isi yang terkandung di dalam perkataanya itu (semantic). Secara etimologis, supervisi menurut S. Wajowasito dan W.J.S Poerwadarminta yang dikutip oleh Ametembun (1993:1) : “Supervisi dialih bahasakan dari perkataan inggris “Supervision” artinya pengawasan. Pengertian supervisi secara etimologis masih menurut Ametembun (1993:2), menyebutkan bahwa dilihat dari bentuk perkataannya, supervise terdiri dari dua buah kata super + vision : Super = atas, lebih, Vision = lihat, tilik, awasi. Makna yang terkandung dari pengertian tersebut, bahwa seorang supervisor mempunyai kedudukan atau posisi lebih dari orang yang disupervisi, tugasnya adalah melihat, menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisi.
Para ahli dalam bidang administrasi pendidikan memberikan kesepakatan bahwa supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada pengkajian peningkatan situasi belajar-mengajar, seperti yang diungkapkan oleh ( Gregorio, 1966, Glickman Carl D, 1990, Sergiovanni, 1993 dan Gregg Miller, 2003). Hal ini diungkapkan pula dalam tulisan Asosiasi Supervisi dan Pengembangan Kurikulum di Amerika (Association for Supervision and Curriculum Development, 1987:129) yang menyebutkan sebagai berikut:
Supervisi yang lakukan oleh pengawas satuan pendidikan, tentu memiliki misi yang berbeda dengan supervisi oleh kepala sekolah. Dalam hal ini supervisi lebih ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada kepala sekolah dalam melakukan pengelolaan kelembagaan secara efektif dan efisien serta mengembangkan mutu kelembagaan pendidikan.
Dalam konteks pengawasan mutu pendidikan, maka supervisi oleh pengawas satuan pendidikan antara lain kegiatannya berupa pengamatan secara intensif terhadap proses pembelajaran pada lembaga pendidikan, kemudian ditindak lanjuti dengan pemberian feed back. (Razik, 1995: 559).
Rifa’i (1992: 20) merumuskan istilah supervisi merupakan pengawasan profesional, sebab hal ini di samping bersifat lebih spesifik juga melakukan pengamatan terhadap kegiatan akademik yang mendasarkan pada kemampuan ilmiah, dan pendekatannya pun bukan lagi pengawasan manajemen biasa, tetapi lebih bersifat menuntut kemampuan professional yang demokratis dan humanistik oleh para pengawas pendidikan.
Supervisi pada dasarnya diarahkan pada dua aspek, yakni: supervise akademis, dan supervisi manajerial. Supervisi akademis menitikberatkan pada pengamatan supervisor terhadap kegiatan akademis, berupa pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. Supervisi manajerial menitik beratkan pada pengamatan pada aspek-aspek pengelolaan dan administrasi sekolah yang berfungsi sebagai pendukung (supporting) terlaksananya pembelajaran.
Oliva (1984: 19-20) menjelaskan ada empat macam peran seorang pengawas atau supervisor pendidikan, yaitu sebagai: coordinator, consultant, group leader dan evaluator. Supervisor harus mampu mengkoordinasikan programs, goups, materials, and reports yang berkaitan dengan sekolah dan para guru. Supervisor juga harus mampu berperan sebagai konsultan dalam manajemen sekolah, pengembangan kurikulum, teknologi pembelajaran, dan pengembangan staf. Ia harus melayani kepala sekolah dan guru, baik secara kelompok maupun indivi- dual. Ada kalanya supervisor harus berperan sebagai pemimpin kelompok, dalam pertemuan-pertemuan yang berkaitan dengan pengem- bangan kurikulum, pembelajaran atau manajemen sekolah secara umum.
Gregorio (1966) mengemukakan bahwa ada lima fungsi utama supervisi, yaitu: sebagai inspeksi, penelitian, pelatihan, bimbingan dan penilaian. Fungsi inspeksi antara lain berperan dalam mempelajari keadaan dan kondisi sekolah, dan pada lembaga terkait, maka tugas seorang supervisor antara lain berperan dalam melakukan penelitian mengenai keadaan sekolah secara keseluruhan baik pada guru, siswa, kurikulum tujuan belajar maupun metode mengajar, dan sasaran inspeksi adalah menemukan permasalahan dengan cara melakukan observasi, interview, angket, pertemuan-pertemuan dan daftar isian.
Fungsi penelitian adalah mencari jalan keluar dari permasalahan yang berhubungan sedang dihadapi, dan penelitian ini dilakukan sesuai dengan prosedur ilmiah, yakni merumuskan masalah yang akan diteliti, mengumpulkan data, mengolah data, dan melakukan analisa guna menarik suatu kesimpulan atas apa yang berkembang dalam menyusun strategi keluar dari permasalahan diatas.
Fungsi pelatihan merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan keterampilan guru/kepala sekolah dalam suatu bidang. Dalam pelatihan diperkenalkan kepada guru cara-cara baru yang lebih sesuai dalam melaksanakan suatu proses pembelajaran, dan jenis pelatihan yang dapat dipergunakan antara lan melalui demonstrasi mengajar, workshop, seminar, observasi, individual dan group conference, serta kunjungan supervisi.
Fungsi bimbingan sendiri diartikan sebagai usaha untuk mendorong guru baik secara perorangan maupun kelompok agar mereka mau melakukan berbagai perbaikan dalam menjalankan tugasnya. Kegiatan bimbingan dilakukan dengan cara membangkitkan kemauan, memberi semangat, mengarahkan dan merangsang untuk melakukan percobaan, serta membantu
menerapkan sebuah prosedur mengajar yang baru.
Fungsi penilaian adalah untuk mengukur tingkat kemajuan yang diinginkan, seberapa besar telah dicapai dan penilaian ini dilakukan dengan beragai cara seperti test, penetapan standar, penilaian kemajuan belajar siswa, melihat perkembangan hasil penilaian sekolah serta prosedur lain yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.
Lebih lanjut tentang: Pengertian Supervisi Pendidikan
Supervisor adalah seorang yang profesional. Dalam menjalankan tugasnya, ia bertindak atas dasar kaidah-kaidah ilmiah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Untuk melakukan supervise diperlukan kelebihan yang dapat melihat dengan tajam terhadap permasalahan peningkatan mutu pendidikan, menggunakan kepekaan untuk memahaminya dan tidak hanya sekedar menggunakan penglihatan mata biasa. Ia membina peningkatan mutu akademik melalui penciptaan situasi belajar yang lebih baik, baik dalam hal fisik maupun lingkungan non fisik.
Perumusan atau pengertian supervisi dapat dijelaskan dari berbagai sudut, baik menurut asal-usul (etimologi), bentuk perkataannya, maupun isi yang terkandung di dalam perkataanya itu (semantic). Secara etimologis, supervisi menurut S. Wajowasito dan W.J.S Poerwadarminta yang dikutip oleh Ametembun (1993:1) : “Supervisi dialih bahasakan dari perkataan inggris “Supervision” artinya pengawasan. Pengertian supervisi secara etimologis masih menurut Ametembun (1993:2), menyebutkan bahwa dilihat dari bentuk perkataannya, supervise terdiri dari dua buah kata super + vision : Super = atas, lebih, Vision = lihat, tilik, awasi. Makna yang terkandung dari pengertian tersebut, bahwa seorang supervisor mempunyai kedudukan atau posisi lebih dari orang yang disupervisi, tugasnya adalah melihat, menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisi.
Para ahli dalam bidang administrasi pendidikan memberikan kesepakatan bahwa supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada pengkajian peningkatan situasi belajar-mengajar, seperti yang diungkapkan oleh ( Gregorio, 1966, Glickman Carl D, 1990, Sergiovanni, 1993 dan Gregg Miller, 2003). Hal ini diungkapkan pula dalam tulisan Asosiasi Supervisi dan Pengembangan Kurikulum di Amerika (Association for Supervision and Curriculum Development, 1987:129) yang menyebutkan sebagai berikut:
Supervisi yang lakukan oleh pengawas satuan pendidikan, tentu memiliki misi yang berbeda dengan supervisi oleh kepala sekolah. Dalam hal ini supervisi lebih ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada kepala sekolah dalam melakukan pengelolaan kelembagaan secara efektif dan efisien serta mengembangkan mutu kelembagaan pendidikan.
Dalam konteks pengawasan mutu pendidikan, maka supervisi oleh pengawas satuan pendidikan antara lain kegiatannya berupa pengamatan secara intensif terhadap proses pembelajaran pada lembaga pendidikan, kemudian ditindak lanjuti dengan pemberian feed back. (Razik, 1995: 559).
Rifa’i (1992: 20) merumuskan istilah supervisi merupakan pengawasan profesional, sebab hal ini di samping bersifat lebih spesifik juga melakukan pengamatan terhadap kegiatan akademik yang mendasarkan pada kemampuan ilmiah, dan pendekatannya pun bukan lagi pengawasan manajemen biasa, tetapi lebih bersifat menuntut kemampuan professional yang demokratis dan humanistik oleh para pengawas pendidikan.
Supervisi pada dasarnya diarahkan pada dua aspek, yakni: supervise akademis, dan supervisi manajerial. Supervisi akademis menitikberatkan pada pengamatan supervisor terhadap kegiatan akademis, berupa pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. Supervisi manajerial menitik beratkan pada pengamatan pada aspek-aspek pengelolaan dan administrasi sekolah yang berfungsi sebagai pendukung (supporting) terlaksananya pembelajaran.
Oliva (1984: 19-20) menjelaskan ada empat macam peran seorang pengawas atau supervisor pendidikan, yaitu sebagai: coordinator, consultant, group leader dan evaluator. Supervisor harus mampu mengkoordinasikan programs, goups, materials, and reports yang berkaitan dengan sekolah dan para guru. Supervisor juga harus mampu berperan sebagai konsultan dalam manajemen sekolah, pengembangan kurikulum, teknologi pembelajaran, dan pengembangan staf. Ia harus melayani kepala sekolah dan guru, baik secara kelompok maupun indivi- dual. Ada kalanya supervisor harus berperan sebagai pemimpin kelompok, dalam pertemuan-pertemuan yang berkaitan dengan pengem- bangan kurikulum, pembelajaran atau manajemen sekolah secara umum.
Gregorio (1966) mengemukakan bahwa ada lima fungsi utama supervisi, yaitu: sebagai inspeksi, penelitian, pelatihan, bimbingan dan penilaian. Fungsi inspeksi antara lain berperan dalam mempelajari keadaan dan kondisi sekolah, dan pada lembaga terkait, maka tugas seorang supervisor antara lain berperan dalam melakukan penelitian mengenai keadaan sekolah secara keseluruhan baik pada guru, siswa, kurikulum tujuan belajar maupun metode mengajar, dan sasaran inspeksi adalah menemukan permasalahan dengan cara melakukan observasi, interview, angket, pertemuan-pertemuan dan daftar isian.
Fungsi penelitian adalah mencari jalan keluar dari permasalahan yang berhubungan sedang dihadapi, dan penelitian ini dilakukan sesuai dengan prosedur ilmiah, yakni merumuskan masalah yang akan diteliti, mengumpulkan data, mengolah data, dan melakukan analisa guna menarik suatu kesimpulan atas apa yang berkembang dalam menyusun strategi keluar dari permasalahan diatas.
Fungsi pelatihan merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan keterampilan guru/kepala sekolah dalam suatu bidang. Dalam pelatihan diperkenalkan kepada guru cara-cara baru yang lebih sesuai dalam melaksanakan suatu proses pembelajaran, dan jenis pelatihan yang dapat dipergunakan antara lan melalui demonstrasi mengajar, workshop, seminar, observasi, individual dan group conference, serta kunjungan supervisi.
Fungsi bimbingan sendiri diartikan sebagai usaha untuk mendorong guru baik secara perorangan maupun kelompok agar mereka mau melakukan berbagai perbaikan dalam menjalankan tugasnya. Kegiatan bimbingan dilakukan dengan cara membangkitkan kemauan, memberi semangat, mengarahkan dan merangsang untuk melakukan percobaan, serta membantu
menerapkan sebuah prosedur mengajar yang baru.
Fungsi penilaian adalah untuk mengukur tingkat kemajuan yang diinginkan, seberapa besar telah dicapai dan penilaian ini dilakukan dengan beragai cara seperti test, penetapan standar, penilaian kemajuan belajar siswa, melihat perkembangan hasil penilaian sekolah serta prosedur lain yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.
Lebih lanjut tentang: Pengertian Supervisi Pendidikan
Kamis, 24 Maret 2011
Sabtu, 19 Februari 2011
CARA UNTUK MENINGKATKAN GERAKAN PENDARATAN SETELAH LOMPATAN. IMPLIKASI UNTUK PENCEGAHAN CEDERA
Di antara tujuan utama biomekanik olahraga peningkatan kinerja dan cedera
pencegahan. Presentasi ini akan didasarkan pada isu terakhir. Para atlet yang berlatih olahraga dikembangkan di tanah mengalami berulang dampak pada kaki mereka dan bagian tubuh lainnya. Yang luas
Sebagian dari dampak tersebut tidak menghasilkan cedera, tetapi deselerasi tiba-tiba terlibat dalam
acara telah terkait dengan cedera akut dan kronis.
Biomekanik sebagai ilmu memiliki disiplin yang disebut "Dampak Biomekanik", yang mempelajari jenis apapun
dampak, termasuk dari yang dikembangkan dalam rentang normal (misalnya, selama berjalan dan
jumping, melompat, untuk orang di luar rentang fisiologis, seperti berbagai jenis kecelakaan. Penelitian ini akan
berfokus pada peristiwa dalam rentang fisiologis, meskipun dapat dihubungkan dengan cedera kronis pada pertengahan
atau jangka panjang.
Ada beberapa teknik yang mendarat berbeda dengan anggota tubuh bagian bawah. Beberapa dari mereka adalah simetris,
dan lainnya dilakukan dalam cara yang tidak-simetris, atau bahkan dengan hanya satu kaki. Karakteristik dari
dampak yang terjadi dalam olahraga yang berbeda telah dipelajari sejak beberapa waktu lalu dengan platform kekuatan,
dan kadang-kadang studi telah selesai dengan dan elektromiografi analisis kinematik. metodologi ini, berjalan berbeda (sprint, dan menengah jarak jauh berjalan, memotong
gerakan ...) dan teknik melompat (panjang triple, voli, basket dan senam melompat, melompat
tests…) telah dianalisis. Dalam beberapa kasus, seperti push off fase lompatan triple, dan pendaratan
gerakan dalam senam, dampak besar telah dijelaskan, dengan nilai dari reaksi tanah
kekuatan (GRF) lebih dari 14 kali berat badan (BB).
Namun, hal-hal yang tidak sebagaimana yang tampak, dan dalam beberapa kegiatan dampak jauh lebih besar daripada kita
bisamengharapkan. Sebagai contoh, selama dorongan lembut dari fase pada trampolin senam, untuk melompat 20 cm,
Lain kali, ketika kita merasa risiko cedera dekat, misalnya,
ketika kita melakukan bertelanjang kaki berjalan, kami mengimbanginya dengan mekanisme adaptasi dalam menjalankan
Teknik kurangnya perlindungan yang diberikan oleh sepatu lari dan midsole, yang dapat membantu kita
during the landing phase . selama fase pendaratan.
Sosok khas mendarat simetris dari lompatan vertikal menunjukkan 3 nilai puncak: yang pertama
berkaitan dengan kontak metatarsal kepala ke tanah (F1), yang kedua, dengan kontak
tumit (adalah satu terbesar) (F2), dan yang ketiga dengan saat kaki dorsiflexion lebih besar
pencegahan. Presentasi ini akan didasarkan pada isu terakhir. Para atlet yang berlatih olahraga dikembangkan di tanah mengalami berulang dampak pada kaki mereka dan bagian tubuh lainnya. Yang luas
Sebagian dari dampak tersebut tidak menghasilkan cedera, tetapi deselerasi tiba-tiba terlibat dalam
acara telah terkait dengan cedera akut dan kronis.
Biomekanik sebagai ilmu memiliki disiplin yang disebut "Dampak Biomekanik", yang mempelajari jenis apapun
dampak, termasuk dari yang dikembangkan dalam rentang normal (misalnya, selama berjalan dan
jumping, melompat, untuk orang di luar rentang fisiologis, seperti berbagai jenis kecelakaan. Penelitian ini akan
berfokus pada peristiwa dalam rentang fisiologis, meskipun dapat dihubungkan dengan cedera kronis pada pertengahan
atau jangka panjang.
Ada beberapa teknik yang mendarat berbeda dengan anggota tubuh bagian bawah. Beberapa dari mereka adalah simetris,
dan lainnya dilakukan dalam cara yang tidak-simetris, atau bahkan dengan hanya satu kaki. Karakteristik dari
dampak yang terjadi dalam olahraga yang berbeda telah dipelajari sejak beberapa waktu lalu dengan platform kekuatan,
dan kadang-kadang studi telah selesai dengan dan elektromiografi analisis kinematik. metodologi ini, berjalan berbeda (sprint, dan menengah jarak jauh berjalan, memotong
gerakan ...) dan teknik melompat (panjang triple, voli, basket dan senam melompat, melompat
tests…) telah dianalisis. Dalam beberapa kasus, seperti push off fase lompatan triple, dan pendaratan
gerakan dalam senam, dampak besar telah dijelaskan, dengan nilai dari reaksi tanah
kekuatan (GRF) lebih dari 14 kali berat badan (BB).
Namun, hal-hal yang tidak sebagaimana yang tampak, dan dalam beberapa kegiatan dampak jauh lebih besar daripada kita
bisamengharapkan. Sebagai contoh, selama dorongan lembut dari fase pada trampolin senam, untuk melompat 20 cm,
Lain kali, ketika kita merasa risiko cedera dekat, misalnya,
ketika kita melakukan bertelanjang kaki berjalan, kami mengimbanginya dengan mekanisme adaptasi dalam menjalankan
Teknik kurangnya perlindungan yang diberikan oleh sepatu lari dan midsole, yang dapat membantu kita
during the landing phase . selama fase pendaratan.
Sosok khas mendarat simetris dari lompatan vertikal menunjukkan 3 nilai puncak: yang pertama
berkaitan dengan kontak metatarsal kepala ke tanah (F1), yang kedua, dengan kontak
tumit (adalah satu terbesar) (F2), dan yang ketiga dengan saat kaki dorsiflexion lebih besar
Rabu, 12 Januari 2011
contoh program latihan fartlek
-. Pemanasan dengan lari 5 s/d 10 menit
-. Lari cepat secara ajeg meliputi jarak 1¼ mil
-. Jalan cepat selama 5 menit
-. Lari biasa, dengan di selinggi latihan loncatan 3-4 kali
-. Lari dengan kecepatan penuh ke atas bukit 50-100 m
-. Lari menuruni bukit dengan jarak 50-100 m
-. Di akhiri lari keliling lapangan, 1-5 kali
total estimasi waktu 45 menit
latihan fartlek sebenarnya latihan bebas, tetapi dalam penerapannya diberikan beberapa variasi latihan
tujuan latihan :
- daya tahan cardiovaskular
- daya ledak otot dsb.
referensi : sajoto. 1988. pembinaan kondisi fisik atlet
-. Lari cepat secara ajeg meliputi jarak 1¼ mil
-. Jalan cepat selama 5 menit
-. Lari biasa, dengan di selinggi latihan loncatan 3-4 kali
-. Lari dengan kecepatan penuh ke atas bukit 50-100 m
-. Lari menuruni bukit dengan jarak 50-100 m
-. Di akhiri lari keliling lapangan, 1-5 kali
total estimasi waktu 45 menit
latihan fartlek sebenarnya latihan bebas, tetapi dalam penerapannya diberikan beberapa variasi latihan
tujuan latihan :
- daya tahan cardiovaskular
- daya ledak otot dsb.
referensi : sajoto. 1988. pembinaan kondisi fisik atlet
ASPEK PSIKOLOGIS YANG BERPERAN PADA ATLET USIA DINI
Seorang anak selalu mencari pengakuan dari orang dewasa akan kemampuan dirinya. Dalam melakukan aktivitas olahraga, pujian yang diberikan terhadap penampilan anak dapat mengembangkan aspek psikologisnya, seperti perasaan percaya diri, kegembiraan, harga diri, pengalaman merasakan mencapai tujuan, dan pengakuan dari teman sebaya. Sebaliknya, jika anak mendapatkan pengalaman yang negatif dalam berolahraga, maka aspek psikologisnya pun dapat berkembang secara negatif. Disini penilaian diri negatif, frustrasi, agresi dan aspek negatif lain dapat terlihat dengan jelas.
Setelah anak berusia 5 tahun, mereka mulai dapat dikenalkan dengan jenis olahraga permainan yang lebih kompleks, yang melibatkan kerjasama dan
kompetisi. Namun perlu diperhatikan disini, kompetisi dimaksud haruslah tetap berada dalam konteks bermain. Untuk mulai menerapkan olahraga yang memiliki aturan formal, sebaiknya tunggu sampai anak berusia 8 atau 9 tahun.
Dalam olahraga kompetitif, pemain bukan hanya berusaha mencapai targetnya, tapi juga berusaha mencegah lawan mencapai target mereka. Hal ini melibatkan konflik langsung yang seringkali diikuti dengan agresivitas dalam usahanya mencegah lawan mencapai sukses. Dalam prosesnya, jenis olahraga yang penontonnya dapat berteriak bebas, terutama pada olahraga beregu, bisa berdampak negatif terhadap perkembangan psikososial anak, terutama jika pelatih dan orangtua tidak dapat mengendalikan emosi pada saat pertandingan berlangsung. Hal ini biasanya terjadi karena terlalu menekankan untuk mencapai kemenangan. Oleh karena itu, orang dewasa yang terlibat dalam kompetisi olahraga atlet usia dini juga perlu mendapat pengetahuan dan pendidikan tentang pembinaan olahraga usia dini.
Pemahaman tentang target realistis yang bisa dicapai atlet usia dini perlu ditekankan. Dalam olahraga usia dini, target yang harus dicapai atlet adalah menerapkan sebaik mungkin keterampilan dan kemampuan yang sudah dilatih ke dalam pertandingan. Adalah besarnya usaha dan peningkatan pribadi yang seharusnya dihargai dan menjadi target bagi setiap atlet, bukannya semata-mata mencapai kemenangan dalam pertandingan.
Tujuan pelibatan anak dalam aktivitas olahraga, hendaknya mencakup:
- Memperkenalkan anak terhadap berbagai pengalaman olahraga,
- Meningkatkan keterampilan fisik,
- Meningkatkan kemampuan propriosepsi (perabaan selektif) dan atensi
(merupakan faktor positif dalam belajar secara umum),
- Mengembangkan sosialisasi positif,
- Membangun perasaan memiliki kemampuan,
- Memupuk kepercayaan dan harga diri.
Untuk mendapatkan efek positif terhadap perkembangan psikologis dan sosialisasi anak, maka olahraga perlu diprogramkan dan disupervisi secara baik, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
- Menciptakan latihan yang aman meskipun beresiko,
- Memperhatikan pencapaian kepuasan akan penampilan,
- Membangun perasaan agar bekerja mencapai target yang ditentukan,
- Menetapkan peran spesifik individu,
- Menerapkan kepedulian terhadap peraturan permainan, serupa dengan terhadap
peraturan sosial
- Menghargai dan menghormati lawan,
- Mempromosikan latihan olahraga yang teratur dan berjangka panjang untuk memelihara kesegaran jasmani.
Perlu juga diperlihatkan bukti-bukti kepada anak bahwa orang yang terlibat dalam olahraga dan belajar dengan baik, memiliki nilai akademis yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak melakukan aktivitas olahraga.
PERSIAPAN MENTAL PERTANDINGAN
Pada masa awal dimana orangtua, guru atau pelatih mendapatkan bahwa seorang anak memiliki minat atau bakat olahraga, maka mereka mendukungnya secara positif. Dalam masa ini, yang diperlukan anak adalah kegembiraan dalam melakukan latihan olahraga. Oleh karena itu pelatihnya tidak perlu menekankan pada penguasaan teknik atau peraturan pertandingan. Pujian atau hadiah diberikan kepada usaha yang dilakukan anak, bukan terhadap hasil akhir. Disini perlu ditanamkan perasaan “mencapai sukses” bukan hanya sebagai juara, tetapi juga sebagai partisipan. Oleh karena itu, penting sekali di masa awal ini setiap partisipan dalam suatu kejuaraan bisa mendapatkan penghargaan.
Setelah anak mulai menyenangi bahkan “keranjingan” dengan olahraga yang dilakukannya, maka motivasi dan dedikasinya untuk lebih menguasai keterampilan olahraga tersebut akan lebih meningkat. Disini diperlukan pelatih yang lebih terampil dan memiliki hubungan positif dengan anak, sehingga sang anak bisa lebih mengembangkan keterampilan olahraganya dan semakin merasakan keterikatan dengan olahraganya tersebut.
Pada saat anak mulai tertarik untuk menekuni olahraga secara lebih serius, maka dukungan moral dan pengorbanan finansial dari orangtua untuk memenuhi kebutuhan latihan olahraga sangat diperlukan. Jika kebutuhan ini terpenuhi dan prestasi anak terus meningkat, maka anak akan beralih menjadi atlet. Pada tahap ini sebagian peran orangtua sudah diambil alih oleh pelatih maupun oleh si atlet itu sendiri karena ia sudah menjadi lebih mandiri.
Sebagai atlet cilik, persiapan mental dalam menghadapi pertandingan juga merupakan hal yang perlu diperhatikan. Utamanya atlet perlu dibiasakan berfikir positif, diberi keyakinan bahwa dalam pertandingan nanti dirinya mampu menampilkan keterampilan yang telah dilatihnya. Untuk itu beberapa latihan keterampilan psikologis (psychological skills training) seperti latihan relaksasi, latihan konsentrasi dan latihan imajeri perlu diajarkan. Hal ini diuraikan pada bagian terakhir.
PELATIH SEBAGAI PEMBINA MENTAL ATLET
Dalam pelatihan olahraga bagi atlet usia dini, cara pelatih merancang situasi latihan, cara pelatih menetapkan sasaran, serta sikap dan perilaku pelatih dalam kepelatihannya dapat mempengaruhi partisipasi anak ke dalam olahraga. Pelatih tidak hanya berperan dalam situasi olahraga, namun seringkali juga pelatih memiliki pengaruh terhadap aspek lain dalam kehidupan si anak. Demikian
pentingnya peran pelatih dalam olahraga usia dini, karena itu pelatih sangat berperan sebagai pembina mental atlet usia dini.
Beberapa tips bagi pelatih dalam menangani atlet usia dini:
-Perlakukan setiap anak sama dengan anak lainnya. Berikan kesempatan yang sama kepada setiap anak dalam melakukan suatu aktivitas.
-Ciptakan suasana yang menggembirakan dalam berlatih maupun bertanding, sehingga minat dan motivasinya terhadap olahraga semakin meningkat.
-Bersabarlah; pada mulanya anak mungkin takut atau koordinasi motoriknya kurang, namun dengan pengarahan yang benar dan latihan
yang berulang maka anak akan belajar.
-Usahakan setiap anak dapat melakukan gerakan olahraga dengan benar, karena hal ini penting bagi perkembangan keterampilan dan rasa kebanggaannya.
-Gunakan bahasa sederhana, jelas dan dapat dimengerti oleh anak.
-Kurangi rasa takut yang mungkin dimiliki anak dengan cara mengantisipasi dan mengurangi kecemasannya. Humor biasanya efektif.
-Jelaskan dan tunjukkan gerakan keterampilan olahraga yang benar secara cermat, sehingga anak mengerti apa yang harus mereka lakukan.
-Jelaskan gerakan keterampilan baru sedikit demi sedikit, sehingga anak dapat melihat urutan gerak yang benar.
-Ingatlah bahwa jika anak melakukan kesalahan, itu adalah hal yang wajar;
dan itu berarti mereka sedang mencoba.
-Biarkan anak mengajukan pertanyaan; hal ini menunjukkan bahwa anak itu berpikir.
-Tunjukkan penghargaan terhadap anak; perlakukan mereka sedemikian rupa sehingga terkesan bahwa baik pelatih maupun yang dilatih itu sama- sama belajar.
-Bersikaplah positif dan yakinkan setiap pemain memiliki peran dalam tim, sehingga setiap anak merasa penting dan spesial.
-Rangsang anak agar mereka memiliki tokoh model; kenalkan mereka kepada tokoh-tokoh olahraga yang patut diteladani dan rangsang mereka agar memiliki minat untuk menyaksikan acara olahraga maupun menyimak berita olahraga.
Selain perlu mengetahui beberapa tips menangani atlet usia dini, pelatih pun perlu menghindari beberapa hal berikut ini:
-Hindari berteriak keras, berkata kasar atau membentak anak yang dilatih.
-Janganlah menonjolkan hal buruk seorang anak atau mengungkit-ungkit kesalahan yang
pernah dibuatnya; apalagi dilakukan di depan anak-anak lain.
-Hindari menghukum anak atas kesalahan gerak yang
dibuatnya.
Hukuman dalam hal ini akan membuat anak menarik diri atau menyerah. Jika anak membuat kesalahan gerakan, koreksi kesalahan tersebut dan demonstrasikan gerakan yang benar.
-Tidak perlu mengharapkan anak belajar dengan cepat. Kemampuan anak akan meningkat
melalui latihan yang teratur.
-Jangan mengharapkan anak bermain seperti seorang profesional. Biarkan mereka
menikmati dunia anak-anaknya sebagai bocah; mereka akan mahir secara
bertahap.
-Hindari memperolok atau mempermainkan anak. Hal ini pada anak akan berdampak
terhadap penghukuman diri sendiri.
-Tidak perlu membandingkan seorang anak dengan anak lainnya, apalagi dengan
‘jagoan’ di dalam tim.
-Janganlah mengabaikan anak kandung yang juga dilatih (walaupun dengan
tujuan menghilangkan prasangka pilih kasih). Ingatlah, setiap
anak dalam tim selalu menginginkan perhatian khusus dari pelatihnya.
-Janganlah mengkritik atau mencaci pelatih lain ataupun wasit, di hadapan anak
didik. Hal ini akan membingungkan anak dan menghambat
sportivitasnya.
-Hindari membuat latihan olahraga semata-mata sebagai kerja keras tanpa
kegembiraan. Jika anak gembira dalam latihan, maka kemungkinannya ia bertahan
dalam tim dan dalam olahraga tersebut akan lebih besar.
LATIHAN VISUALISASI UNTUK ANAK
Visualisasi atau imajeri dalam istilah psikologi olahraga merupakan suatu teknik membayangkan sesuatu di dalam pikiran yang dilakukan secara sadar dengan tujuan untuk mencapai target, mengatasi masalah, meningkatkan kewaspadaan diri, mengembangkan kreativitas dan sebagai simulasi gerakan atau kejadian. Bagi seorang anak, aktivitas visualisasi sangat mudah mereka lakukan karena dalam kehidupan bermain anak sehari-hari, mereka seringkali melakukannya sebagai khayalan.
Sebelum melakukan latihan visualisasi, anak bisa diajak untuk melakukan relaksasi terlebih dahulu, dimana anak diminta berbaring dengan mata tertutup lalu mereka diminta menarik nafas panjang dan membuang nafas secara perlahan-lahan melalui mulut. Gerakan ini bisa juga diikuti dengan gerakan tangan supaya anak tidak lekas bosan. Setelah beberapa saat, latihan dilanjutkan dengan latihan visualisasi dimana anak diminta membayangkan suatu tempat atau suatu benda yang familiar dengan mereka, misalnya kamar tidur, binatang kesayangan, boneka atau apa saja. Lalu visualisasi dialihkan kedalam konteks olahraga, misalnya anak diminta membayangkan dirinya melakukan gerakan olahraganya. Sangatlah penting mereka membayangkan hal yang positif, gerakan yang benar, dan diakhiri dengan keberhasilan dan kepuasan.
REFERENSI
Day, J. (1994). Creative visualization with children: A practical guide.
Setelah anak berusia 5 tahun, mereka mulai dapat dikenalkan dengan jenis olahraga permainan yang lebih kompleks, yang melibatkan kerjasama dan
kompetisi. Namun perlu diperhatikan disini, kompetisi dimaksud haruslah tetap berada dalam konteks bermain. Untuk mulai menerapkan olahraga yang memiliki aturan formal, sebaiknya tunggu sampai anak berusia 8 atau 9 tahun.
Dalam olahraga kompetitif, pemain bukan hanya berusaha mencapai targetnya, tapi juga berusaha mencegah lawan mencapai target mereka. Hal ini melibatkan konflik langsung yang seringkali diikuti dengan agresivitas dalam usahanya mencegah lawan mencapai sukses. Dalam prosesnya, jenis olahraga yang penontonnya dapat berteriak bebas, terutama pada olahraga beregu, bisa berdampak negatif terhadap perkembangan psikososial anak, terutama jika pelatih dan orangtua tidak dapat mengendalikan emosi pada saat pertandingan berlangsung. Hal ini biasanya terjadi karena terlalu menekankan untuk mencapai kemenangan. Oleh karena itu, orang dewasa yang terlibat dalam kompetisi olahraga atlet usia dini juga perlu mendapat pengetahuan dan pendidikan tentang pembinaan olahraga usia dini.
Pemahaman tentang target realistis yang bisa dicapai atlet usia dini perlu ditekankan. Dalam olahraga usia dini, target yang harus dicapai atlet adalah menerapkan sebaik mungkin keterampilan dan kemampuan yang sudah dilatih ke dalam pertandingan. Adalah besarnya usaha dan peningkatan pribadi yang seharusnya dihargai dan menjadi target bagi setiap atlet, bukannya semata-mata mencapai kemenangan dalam pertandingan.
Tujuan pelibatan anak dalam aktivitas olahraga, hendaknya mencakup:
- Memperkenalkan anak terhadap berbagai pengalaman olahraga,
- Meningkatkan keterampilan fisik,
- Meningkatkan kemampuan propriosepsi (perabaan selektif) dan atensi
(merupakan faktor positif dalam belajar secara umum),
- Mengembangkan sosialisasi positif,
- Membangun perasaan memiliki kemampuan,
- Memupuk kepercayaan dan harga diri.
Untuk mendapatkan efek positif terhadap perkembangan psikologis dan sosialisasi anak, maka olahraga perlu diprogramkan dan disupervisi secara baik, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
- Menciptakan latihan yang aman meskipun beresiko,
- Memperhatikan pencapaian kepuasan akan penampilan,
- Membangun perasaan agar bekerja mencapai target yang ditentukan,
- Menetapkan peran spesifik individu,
- Menerapkan kepedulian terhadap peraturan permainan, serupa dengan terhadap
peraturan sosial
- Menghargai dan menghormati lawan,
- Mempromosikan latihan olahraga yang teratur dan berjangka panjang untuk memelihara kesegaran jasmani.
Perlu juga diperlihatkan bukti-bukti kepada anak bahwa orang yang terlibat dalam olahraga dan belajar dengan baik, memiliki nilai akademis yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak melakukan aktivitas olahraga.
PERSIAPAN MENTAL PERTANDINGAN
Pada masa awal dimana orangtua, guru atau pelatih mendapatkan bahwa seorang anak memiliki minat atau bakat olahraga, maka mereka mendukungnya secara positif. Dalam masa ini, yang diperlukan anak adalah kegembiraan dalam melakukan latihan olahraga. Oleh karena itu pelatihnya tidak perlu menekankan pada penguasaan teknik atau peraturan pertandingan. Pujian atau hadiah diberikan kepada usaha yang dilakukan anak, bukan terhadap hasil akhir. Disini perlu ditanamkan perasaan “mencapai sukses” bukan hanya sebagai juara, tetapi juga sebagai partisipan. Oleh karena itu, penting sekali di masa awal ini setiap partisipan dalam suatu kejuaraan bisa mendapatkan penghargaan.
Setelah anak mulai menyenangi bahkan “keranjingan” dengan olahraga yang dilakukannya, maka motivasi dan dedikasinya untuk lebih menguasai keterampilan olahraga tersebut akan lebih meningkat. Disini diperlukan pelatih yang lebih terampil dan memiliki hubungan positif dengan anak, sehingga sang anak bisa lebih mengembangkan keterampilan olahraganya dan semakin merasakan keterikatan dengan olahraganya tersebut.
Pada saat anak mulai tertarik untuk menekuni olahraga secara lebih serius, maka dukungan moral dan pengorbanan finansial dari orangtua untuk memenuhi kebutuhan latihan olahraga sangat diperlukan. Jika kebutuhan ini terpenuhi dan prestasi anak terus meningkat, maka anak akan beralih menjadi atlet. Pada tahap ini sebagian peran orangtua sudah diambil alih oleh pelatih maupun oleh si atlet itu sendiri karena ia sudah menjadi lebih mandiri.
Sebagai atlet cilik, persiapan mental dalam menghadapi pertandingan juga merupakan hal yang perlu diperhatikan. Utamanya atlet perlu dibiasakan berfikir positif, diberi keyakinan bahwa dalam pertandingan nanti dirinya mampu menampilkan keterampilan yang telah dilatihnya. Untuk itu beberapa latihan keterampilan psikologis (psychological skills training) seperti latihan relaksasi, latihan konsentrasi dan latihan imajeri perlu diajarkan. Hal ini diuraikan pada bagian terakhir.
PELATIH SEBAGAI PEMBINA MENTAL ATLET
Dalam pelatihan olahraga bagi atlet usia dini, cara pelatih merancang situasi latihan, cara pelatih menetapkan sasaran, serta sikap dan perilaku pelatih dalam kepelatihannya dapat mempengaruhi partisipasi anak ke dalam olahraga. Pelatih tidak hanya berperan dalam situasi olahraga, namun seringkali juga pelatih memiliki pengaruh terhadap aspek lain dalam kehidupan si anak. Demikian
pentingnya peran pelatih dalam olahraga usia dini, karena itu pelatih sangat berperan sebagai pembina mental atlet usia dini.
Beberapa tips bagi pelatih dalam menangani atlet usia dini:
-Perlakukan setiap anak sama dengan anak lainnya. Berikan kesempatan yang sama kepada setiap anak dalam melakukan suatu aktivitas.
-Ciptakan suasana yang menggembirakan dalam berlatih maupun bertanding, sehingga minat dan motivasinya terhadap olahraga semakin meningkat.
-Bersabarlah; pada mulanya anak mungkin takut atau koordinasi motoriknya kurang, namun dengan pengarahan yang benar dan latihan
yang berulang maka anak akan belajar.
-Usahakan setiap anak dapat melakukan gerakan olahraga dengan benar, karena hal ini penting bagi perkembangan keterampilan dan rasa kebanggaannya.
-Gunakan bahasa sederhana, jelas dan dapat dimengerti oleh anak.
-Kurangi rasa takut yang mungkin dimiliki anak dengan cara mengantisipasi dan mengurangi kecemasannya. Humor biasanya efektif.
-Jelaskan dan tunjukkan gerakan keterampilan olahraga yang benar secara cermat, sehingga anak mengerti apa yang harus mereka lakukan.
-Jelaskan gerakan keterampilan baru sedikit demi sedikit, sehingga anak dapat melihat urutan gerak yang benar.
-Ingatlah bahwa jika anak melakukan kesalahan, itu adalah hal yang wajar;
dan itu berarti mereka sedang mencoba.
-Biarkan anak mengajukan pertanyaan; hal ini menunjukkan bahwa anak itu berpikir.
-Tunjukkan penghargaan terhadap anak; perlakukan mereka sedemikian rupa sehingga terkesan bahwa baik pelatih maupun yang dilatih itu sama- sama belajar.
-Bersikaplah positif dan yakinkan setiap pemain memiliki peran dalam tim, sehingga setiap anak merasa penting dan spesial.
-Rangsang anak agar mereka memiliki tokoh model; kenalkan mereka kepada tokoh-tokoh olahraga yang patut diteladani dan rangsang mereka agar memiliki minat untuk menyaksikan acara olahraga maupun menyimak berita olahraga.
Selain perlu mengetahui beberapa tips menangani atlet usia dini, pelatih pun perlu menghindari beberapa hal berikut ini:
-Hindari berteriak keras, berkata kasar atau membentak anak yang dilatih.
-Janganlah menonjolkan hal buruk seorang anak atau mengungkit-ungkit kesalahan yang
pernah dibuatnya; apalagi dilakukan di depan anak-anak lain.
-Hindari menghukum anak atas kesalahan gerak yang
dibuatnya.
Hukuman dalam hal ini akan membuat anak menarik diri atau menyerah. Jika anak membuat kesalahan gerakan, koreksi kesalahan tersebut dan demonstrasikan gerakan yang benar.
-Tidak perlu mengharapkan anak belajar dengan cepat. Kemampuan anak akan meningkat
melalui latihan yang teratur.
-Jangan mengharapkan anak bermain seperti seorang profesional. Biarkan mereka
menikmati dunia anak-anaknya sebagai bocah; mereka akan mahir secara
bertahap.
-Hindari memperolok atau mempermainkan anak. Hal ini pada anak akan berdampak
terhadap penghukuman diri sendiri.
-Tidak perlu membandingkan seorang anak dengan anak lainnya, apalagi dengan
‘jagoan’ di dalam tim.
-Janganlah mengabaikan anak kandung yang juga dilatih (walaupun dengan
tujuan menghilangkan prasangka pilih kasih). Ingatlah, setiap
anak dalam tim selalu menginginkan perhatian khusus dari pelatihnya.
-Janganlah mengkritik atau mencaci pelatih lain ataupun wasit, di hadapan anak
didik. Hal ini akan membingungkan anak dan menghambat
sportivitasnya.
-Hindari membuat latihan olahraga semata-mata sebagai kerja keras tanpa
kegembiraan. Jika anak gembira dalam latihan, maka kemungkinannya ia bertahan
dalam tim dan dalam olahraga tersebut akan lebih besar.
LATIHAN VISUALISASI UNTUK ANAK
Visualisasi atau imajeri dalam istilah psikologi olahraga merupakan suatu teknik membayangkan sesuatu di dalam pikiran yang dilakukan secara sadar dengan tujuan untuk mencapai target, mengatasi masalah, meningkatkan kewaspadaan diri, mengembangkan kreativitas dan sebagai simulasi gerakan atau kejadian. Bagi seorang anak, aktivitas visualisasi sangat mudah mereka lakukan karena dalam kehidupan bermain anak sehari-hari, mereka seringkali melakukannya sebagai khayalan.
Sebelum melakukan latihan visualisasi, anak bisa diajak untuk melakukan relaksasi terlebih dahulu, dimana anak diminta berbaring dengan mata tertutup lalu mereka diminta menarik nafas panjang dan membuang nafas secara perlahan-lahan melalui mulut. Gerakan ini bisa juga diikuti dengan gerakan tangan supaya anak tidak lekas bosan. Setelah beberapa saat, latihan dilanjutkan dengan latihan visualisasi dimana anak diminta membayangkan suatu tempat atau suatu benda yang familiar dengan mereka, misalnya kamar tidur, binatang kesayangan, boneka atau apa saja. Lalu visualisasi dialihkan kedalam konteks olahraga, misalnya anak diminta membayangkan dirinya melakukan gerakan olahraganya. Sangatlah penting mereka membayangkan hal yang positif, gerakan yang benar, dan diakhiri dengan keberhasilan dan kepuasan.
REFERENSI
Day, J. (1994). Creative visualization with children: A practical guide.
contoh program latihan harian plyometrik untuk 2 bulan
MINGGU KE I
MINGGU
-. Jump in place
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
SELASA
-. Jump in place
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
KAMIS
-. Jump in place
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
MINGGU KE II
MINGGU
-. Standing Jump and Reach
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
SELASA
-. Standing Jump and Reach
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
KAMIS
-. Standing Jump and Reach
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
MINGGU KE III
MINGGU
-. Multiple Hop and Jump
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
SELASA
-. Multiple Hop and Jump
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
KAMIS
-. Multiple Hop and Jump
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
MINGGU KE IV
MINGGU
-. Multiple Hop and Jump
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
SELASA
-. Standing Long Jump with Hurdle Hop
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
KAMIS
-. Standing Long Jump with Hurdle Hop
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
MINGGU KE V
MINGGU
-. Box drill Multiple box drill
-. Beban latihan 85%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
SELASA
-. Box drill Multiple box drill
-. Beban latihan 85%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
KAMIS
-. Box drill Multiple box drill
-. Beban latihan 85%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
MINGGU KE VI
MINGGU
-. Box drill Multiple box drill
-. Beban latihan 85%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
SELASA
-. Depth Jumps
-. Beban latihan 85%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
KAMIS
-. Depth Jumps
-. Beban latihan 85%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
MINGGU KE VII
MINGGU
-. Depth Jump to Prescribed Height
-. Beban latihan 85%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
SELASA
-. Depth Jump to Prescribed Height
-. Beban latihan 85%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
KAMIS
-. Squat Depth Jumps
-. Beban latihan 90%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
MINGGU KE VIII
MINGGU
-. Squat Depth Jumps
-. Beban latihan 90%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
SELASA
-. Catch and Pass With Jump and Reach
-. Beban latihan 90%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
KAMIS
-. Catch and Pass With Jump and Reach
-. Beban latihan 90%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
program latihan di sesuaikan dengan tujuan pelatihan. dan kondisi atlet
referensi:
- Chu. 1998. Jumping Into Plyometrik second edition. United State of America :
Human Kinetic
- Sajoto. 1998. Peningkatan dan Pembinaan Kondisi Fisik dalam Olahraga. Jakarta:
Depdikbud.
MINGGU
-. Jump in place
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
SELASA
-. Jump in place
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
KAMIS
-. Jump in place
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
MINGGU KE II
MINGGU
-. Standing Jump and Reach
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
SELASA
-. Standing Jump and Reach
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
KAMIS
-. Standing Jump and Reach
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
MINGGU KE III
MINGGU
-. Multiple Hop and Jump
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
SELASA
-. Multiple Hop and Jump
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
KAMIS
-. Multiple Hop and Jump
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
MINGGU KE IV
MINGGU
-. Multiple Hop and Jump
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
SELASA
-. Standing Long Jump with Hurdle Hop
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
KAMIS
-. Standing Long Jump with Hurdle Hop
-. Beban latihan 80%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
MINGGU KE V
MINGGU
-. Box drill Multiple box drill
-. Beban latihan 85%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
SELASA
-. Box drill Multiple box drill
-. Beban latihan 85%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
KAMIS
-. Box drill Multiple box drill
-. Beban latihan 85%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
MINGGU KE VI
MINGGU
-. Box drill Multiple box drill
-. Beban latihan 85%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
SELASA
-. Depth Jumps
-. Beban latihan 85%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
KAMIS
-. Depth Jumps
-. Beban latihan 85%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
MINGGU KE VII
MINGGU
-. Depth Jump to Prescribed Height
-. Beban latihan 85%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
SELASA
-. Depth Jump to Prescribed Height
-. Beban latihan 85%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
KAMIS
-. Squat Depth Jumps
-. Beban latihan 90%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
MINGGU KE VIII
MINGGU
-. Squat Depth Jumps
-. Beban latihan 90%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
SELASA
-. Catch and Pass With Jump and Reach
-. Beban latihan 90%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
KAMIS
-. Catch and Pass With Jump and Reach
-. Beban latihan 90%
-. Set : 3 - 5
-. Repetisi : 7 - 8 kali
-. Recovery : 2 menit
program latihan di sesuaikan dengan tujuan pelatihan. dan kondisi atlet
referensi:
- Chu. 1998. Jumping Into Plyometrik second edition. United State of America :
Human Kinetic
- Sajoto. 1998. Peningkatan dan Pembinaan Kondisi Fisik dalam Olahraga. Jakarta:
Depdikbud.
TEKNIK DASAR BOLA VOLI
Teknik dalam permainan bola voli ada 2 macam, yaitu :
1. Teknik Tanpa Bola.
a. Sikap Siap.
Berdiri dengan kaki yang satu didepan kaki yang lain, kedua kaki terbuka selebar bahu, kedua lutut ditekuk sampai membentuk sudut 135º, kedua tangan ditekuk sedikit diletakkan rileks didepan tubuh, badan dicondongkan kedepan sampai tumit terangkat.
b. Pengambilan posisi yang tepat & benar.
c. Langkah kaki gerak kedepan, kebelakang, kesamping kiri & kesamping kanan.
d. Langkah kaki untuk awalan Smash dan awalan Block.
e. Bergulir kesamping & bergulir kebelakang.
f. Gerak meluncur.
g. Gerak tipuan
2. Teknik Dengan Bola
a. Service untuk menyajikan bola pertama.
1. Underhand Service
Pemain berdiri menghadap net , kaki kiri didepan kaki kanan, lengan kiri dijulurkan kedepan dan memegang bola (ini untuk pemain tangan kanan, bagi pemain tangan kiri sebaliknya).
Bola dilempar rendah keatas , berat badan bertumpu pada kaki sebelah belakang, lengan yang bebas digerakkan kebelakang dan diayunkan kedepan dan memukul bola. Sementara berat badan dipindahkan kekaki sebelah depan.
Bola dipukul dengan telapak tangan terbuka, pergelangan tangan kaku dan kuat. Gerakan terakhir adalah memindahkan kaki yang dibelakang kedepan.
Jenis² Underhand Service
a. Back Spin Underhand Serve : Bola berputar kebelakang.
b. Top Spin (Cutting) Underhand Serve: Bola berputar keatas.
c. Inside Spin Underhand Serve : Bola berputar kedalam.
d. Outside Spin Underhand Serve : Bola berputar keluar.
2. Overhead Service
Pemain berdiri dengan kaki kiri berada lebih kedepan dan kedua lutut agak ditekuk Tangan kiri dan kanan bersama² memegang bola, tangan kiri menyangga bola sedangkan yang kanan memegang bagian atas bola.
Bola dilambungkan dengan tangan kiri keatas sampai ketinggian ± 1m diatas kepala didepan bahu, dan telapak tangan kanan segera ditarik kebelakang atas kepala dengan telapak menghadap kedepan, berat badan dipindahkan kekaki sebelah belakang.
Setelah tangan berada dibelakang atas kepala dan bola berada sejangkauan tangan pemukul, maka bola segera dipukul dengan telapak tangan, lengan harus tetap lurus dan seluruh tubuh ikut bergerak.
Bola dipukul dan diarahkan dengan gerakan pergelangan tangan, berat badan dipindahkan kekaki sebelah depan. Gerakan lengan terus dilanjutkan sampai melewati paha yang lainnya.
Jenis² Overhead Service
a. Top Spin Overhead Serve : Bola berputar keatas.
b. Inside Spin Overhead Serve : Bola berputar kedalam.
c. Outside Spin Overhead Serve : Bola berputar keluar.
d. Drive Overhead Serve : Bola berputar keatas
3. Floating Service
a. Frontal Floating Service : Bola mengapung kekiri & kekanan.
Bola dipegang setinggi kepala, lengan hampir lurus. Lengan yang memukul ada dalam posisi lurus atau tertekuk sedikit, ditarik kebelakang sebelum melempar bola.
Bola dilempar rendah, bagian atas tubuh tidak bergerak, pergelangan tangan harus tetap kaku. Bagian tengah bola dipukul dengan bagian bawah telapak tangan atau dengan tangan digenggam. Bola dipukul disebelah depan tubuh pemain dan tidak ada gerakan lanjutan
b. Side Floating Service : Bola mengapung kearah vertical.
Pemain berdiri dengan kedua kaki menghadap sisi lapangan. Bola dipegang dengan lengan menjulur kira² setinggi kepala. Lengan pemukul diayun kebelakang agak kesisi. Berat badan ditempatkan dikaki belakang, dengan kedua lutut ditekuk sedikit.
Lengan diangkat dengan gerakan melingkar, bola dilempar rendah. Lengan dijulurkan dan bagian tengah badan bola dipukul dengan tangan tergenggam,
sewaktu bola itu melambung tinggi didepan tubuh pemain. Bagian tubuh berputar sedemikian rupa sampai menghadap net, berat badan dipindahkan kekaki sebelah depan.
Kontak dengan bola singkat sekali, lengan dan tangan yang digunakan memukul berhenti sebentar sesudah mengadakan kontak dengan bola, kemudian gerakan diteruskan sedemikian rupa sehingga lengan terayun kebawah melewati kaki yang satunya.
4. Jump Service
Jump Serve merupakan salah satu senjata ampuh untuk mengacaukan serangan kombinasi lawan, sebuah team memerlukan minimal 2 s/d 3 orang jump server yang dapat mengacaukan irama permainan lawan.
Keuntungan menggunakan jump serve adalah :
o Dapat menjatuhkan mental lawan
o Mempersulit lawan untuk membangun serangan
o Memudahkan blocker untuk melakukan bendungan
o Memudahkan kerja defender
Teknik Jump Serve :
o Awalan ±4 langkah, hal ini untuk mendapatkan power yang cukup.
o Lompat pada langkah ke 4 diluar garis belakang dan jatuh didalam lapangan.
o Lemparan tidak dari belakang tetapi dari samping badan agar dapat terlihat dan mudah mengontrol putaran bola kedepan.
o Ayunan tangan sama seperti melakukan Spike Bola Tinggi (Open Spike).
o Step ketiga baru bola dilempar keatas, setelah melakukan step sekali lagi, server meloncat dan memukul bola.
o Gerakan harus harmonis dan berkesinambungan dan konsisten seperti gerakan spike, tidak terpatah².
Cara Melatih
o Untuk control spike, latihan diberikan mulai 3m atau di garis serang, bola dilempar sendiri dan spike. Setelah menguasai pada jarak 3 m, kemudian mundur dan lakukan pada jarak 4m, lalu 5 m dan seterusnya. Hal ini dapat melatih akurasi pukulan.
o Latihan dapat digabung dengan receive, agar terbiasa dengan penerimaan jump serve.
o Pemain harus tahu bahwa jarak pukulan lurus dengan pukulan menyilang berbeda jaraknya ± 2m, sehingga gerakan lengan dan pergelangan tangan pada saat memukulpun harus berbeda.
o Kontak pukulan pada bola dari jarak 3m berbeda dengan kontak pada bola pada garis belakang, semakin kebelakang kontak makin dibawah bola.
o Pemukul tangan kanan sebaiknya melempar bola dengan tangan kanan.
o Latih pemain secara berpasangan untuk melempar bola tanpa awalan dan tanpa lompatan dari garis belakang dan jatuhnya bola harus pada posisi yang sama didalam lapangan.
o Konsentrasi dalam jump serve sangat diperlukan, berikan latihan dengan target 10 bola untuk setiap posisi dan lakukan 3 kali dalam 1 minggu.
b. Pass Bawah berguna untuk passing dan umpan.
o Pemain melakukan sikap siap.
o Kedua tangan rapat dan dijulurkan lurus kedepan, kedua lengan membuat sudut 45º dengan badan.
o Sikap tubuh semakin merendah dengan menurunkan sudut lutut dari 135º menjadi 45º.
o Tungkai mulai dijulurkan keatas agak kedepan, bola mengenai lengan bawah yang terjulur lurus. Tungkai dijulurkan sampai berjingkat dan tangan tidak boleh melewati bahu.
o Kembali kepada sikap siap.
Jenis² Pass Bawah
1. Pass Bawah dua Tangan
2. Pass Bawah Satu Tangan
3. Pass Bawah Bergulir Kesamping
4. Pass Bawah Setengah Bergulir Kebelakang
5. Pass Bawah Meluncur Kedepan
c. Pass atas berguna untuk passing dan umpan
Pada dasarnya pass atas adalah bola tangkap diatas, sentuhkan kekening dan lontarkan kembali keatas, tetapi karena proses gerakan tersebut dilakukan dengan sangat cepat, maka bola terlihat seperti dipantulkan.
o Pemain melakukan sikap siap.
o Badan dijulurkan keatas dengan meluruskan tungkai, bersamaan dengan menjulurkan kedua tangan keatas, sikap jari seperti hendak merangkum bola.
o Tungkai ditekuk kembali sampai lutut membuat sudut 135º, posisi lengan ditekuk didepan muka diatas kening dan bola disentuh oleh ujung jari² tangan.
o Tungkai dijulurkan kembali sampai berjingkat dan bola dilambungkan kedepan atas dengan jari dan bantuan lengan yang digerakkan sampai lurus keatas.
o Kembali kepada sikap siap.
Jenis² Pass Atas
1. Pass Atas Normal
2. Pass Atas Setengah Bergulir Kebelakang
3. Pass Atas Bergulir Kesamping
4. Pass Atas Meloncat
d. Umpan untuk menyajikan bola pada Smasher.
1. Umpan Kedepan
Pengumpan menempatkan posisi badan dibawah dan agak dibelakang arah gerak bola, kedua telapak tangan dan jari² membentuk bulatan ½ lingkaran telah siap didepan atas muka dahi.
Jenis² Umpan.
a. Umpan Normal/Open.
Bola segera diumpan keatas dengan kekuatan dorongan lengan, jari dan pergelangan tangan serta ayunan kaki. Usahakan bola parabol keatas net dengan ketinggian lebih dari 2m dari tepi atas net. Bola berada diantara smasher dan pengumpan sejajar net dengan jarak dari net ± 20cm – 50cm.
b. Umpan Semi.
Perkenaan bola tepat diatas dahi segaris dengan sumbu badan, dimana umpan dilakukan dengan gerak keatas depan, ketinggian bola diatas tepi net antara diatas 1m s/d 2m. Penentuan kualitas parabol dan jalannya bola tergantung kekuatan jari, pergelangan tangan dan lengan. Timing pemberian umpan semi dilakukan bila smasher telah kelihatan bergerak maju awalan dengan jarak ± 1m dari pengumpan.
c. Umpan Straight/Kamboja.
Parabol bola antara 0.5m s/d 1.5m dari tepi atas net. Dorongan bola lebih dominan dibandingkan dengan gerak keatas untuk parabol bola, Bola diatas net meluncur agak cepat dengan jarak 20cm – 50cm dari net, dimana akhir parabol bola terletak diatas garis samping lapangan. Begitu bola datang segera dipantulkan kedepan atas dengan cepat, setelah pengumpan melihat smasher telah berawalan merapat dengan net diluar garis samping lapngan. Timing pemberian umpan harus tepat, yaitu saat bola telah didepan atas dahi dan smasher telah siap mengambil awalan.
d. Umpan Quick.
Teknik umpan ini memerlukan ketinggian bola 50cm s/d 1m dari tepi atas net. Timing pemberian bola saat smasher telah melayang keatas didepan pengumpan siap untuk memukul bola, biasanya pasing bola datang, tunggu sebentar sampai smasher meloncat untuk menunggu bola diatas net. Gerakan utama dalam umpan pendek ini adalah kekuatan jari dan pergelangan pengumpan, perkenaan tangan terhadap bola sama dengan pelaksanaan umpan semi. Arah umpan parabol vertical disebut quick A, sedangkan parabol straight disebut quick B.
2. Umpan Kebelakang
Pengumpan menempatkan posisi badan dibawah bola, badan agak dicondongkan kebelakang sedikit. Gerak jari & pergelangan tangan lebih aktif, terutama ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah, lengan segaris dengan kecondongan badan bagian atas saat pelaksanaan umpan. Pandangan kebelakang sedikit untuk melihat jalannya bola kearah belakang. Jenis umpan kebelakang sama dengan umpan kedepan.
e. Smash untuk serangan guna mematikan lawan.
Proses melakukan smash dapat dibagi menjadi : Awalan, Tolakan, Meloncat, Memukul Bola dan Mendarat
o Awalan
Berdiri dengan salah satu kaki dibelakang sesuai dengan kebiasaan individu (tergantung smasher normal atau smasher kidal). Langkahkan kaki satu langkah kedepan (pemain yang baik, dapat mengambil ancang² sebanyak 2 sampai 4 langkah), kedua lengan mulai bergerak kebelakang, berat badan berangsur² merendah untuk membantu tolakan.
o Tolakan
Langkahkan kaki selanjutnya, hingga kedua telapak kaki hampir sejajar dan salah satu kaki agak kedepan sedikit untuk mengerem gerak kedepan dan sebagai persiapan meloncat kearah vertical. Ayunkan kedua lengan kebelakang atas sebatas kemampuan, kaki ditekuk sehingga lutut membuat sudut ±110º, badan siap untuk meloncat dengan berat badan lebih banyak bertumpu pada kaki yang didepan.
o Meloncat
Mulailah meloncat dengan tumit & jari kaki menghentak lantai dan mengayunkan kedua lengan kedepan atas saat kedua kaki mendorong naik keatas. Telapak kaki, pergelangan tangan, pinggul dan batang tubuh digerakkan serasi merupakan rangkaian gerak yang sempurna. Gerakan eksplosif dan loncatan vertikal.
o Memukul Bola
Jarak bola didepan atas sejangkauan lengan pemukul, segera lecutkan lengan kebelakang kepala dan dengan cepat lecutkan kedepan sejangkauan lengan terpanjang dan tertinggi terhadap bola. Pukul bola secepat dan setinggi mungkin, perkenaan bola dengan telapak tangan tepat diatas tengah bola bagian atas.
Pergelangan tangan aktif menghentak kedepan dengan telapak tangan & jari menutup bola. Setelah perkenaan bola lengan pemukul membuat gerakan lanjutan kearah garis tengah badan dengan diikuti gerak tubuh membungkuk. Gerak lecutan lengan, telapak tangan, badan, tangan yang tidak memukul dan kaki harus harmonis dan eksplosif untuk menjaga keseimbangan saat berada diudara. Pukulan yang benar akan menghasilkan bola keras & cepat turun kelantai.
o Mendarat
Mendarat dengan kedua kaki mengeper. Lutut lentur saat mendarat untuk meredam perkenaan kaki dengan lantai, mendarat dengan jari² kaki (telapak kaki bagian depan) dan sikap badan condong kedepan. Usahakan tempat mendarat kedua kaki hampir sama dengan tempat saat meloncat.
Jenis² Smash.
1. Open
Pemukul melakukan gerak awalan setelah bola lepas dari tangan pengumpan, bola dipukul dipuncak loncatan dan jangkauan lengan yang tertinggi.
2. Semi
Setelah bola lepas dipasing kearah pengumpan, pemukul harus mulai bergerak perlahan kedepan dengan langkah tetap menuju kearah pengumpan. Begitu pengumpan menyajikan bola dengan ketinggian 1m ditepi atas net maka secepatnya pemukul meloncat keatas dan memukul bola. Disini kecepatan gerak harus lebih cepat dari pada smash dengan bola Open
3. Quick
Begitu melihat bola pasing ke pengumpan, maka pemukul melakukan awalan secepat mungkin, dengan langkah yang panjang. Timing meloncat sebelum bola diumpan dengan jarak satu jangkauan lengan pemukul dengan bola yang akan diumpan. Pemukul melayang dengan tangan siap memukul, pengumpan menyajikan bola tepat didepan tangan pemukul. Lakukan pukulan dengan secepat²nya, gerakan pergelangan tangan yang cepat sangat baik hasilnya. Loncatan smasher vertikal, jagalah keseimbangan badan pada saat melayang.
4. Straight
Smasher sebelum melakukan gerakan awalan, terlebih dahulu bergerak kearah luar lapangan mendekati tiang net, smasher melakukan awalan bergerak arah paralel dengan jaring. Begitu bola sampai dibatas tepi jaring dengan ketinggian optimal bola, segeralah melompat dan langsung memukul secepatnya. Proses menjalankan teknik ini lebih cepat dibandingkan smash dengan bola semi.
5. Drive
Smash ini biasanya digunakan oleh pemain untuk bola jauh dari net, saat meloncat smasher agak dekat dibawah bola, berbeda dengan saat meloncat pada smash normal. Bola yang akan di smash terletak diatas kanan bahu lengan pemukul.
Gerak lecutan tangan dari depan atas badan diputarkan kearah yang berlawanan dengan arah jarum jam, telapak tangan membentuk cekungan seperti sendok. Cambukan keras, perkenaan bola dibagian belakang kearah bagian muka dengan telapak tangan, aktifkan gerakan pergelangan tangan . Gerakan cambukan harus dibantu oleh otot² perut, samping dan bahu. Akibat cambukan kurve jalan bola akan panjang dan putaran bola menjauhi net, bola bergerak dengan cepat dan tajam.
6. Dummy
Pemain melakukan gerakan sama dengan pada waktu hendak melakukan smash, tetapi pada waktu kontak dengan bola, bola tidak dipukul melainkan disentuh saja dengan jari tangan. Lengan pemukul tetap bergerak dan dengan gerakan jari pemukul mengarahkan bola ketempat yang tidak terjaga ditempat lawan. Bola dapat dilambungkan pendek atau panjang tergantung pada situasi.
7. Bola 3 meter
Smash ini adalah serangan yang dilakukan dari belakang garis serang, pemukul yang berfungsi sebagai pemain belakang pada saat tolakan tidak boleh menginjak atau melewati garis serang, tetapi pada saat mendarat boleh saja jatuh didalam garis serang.
8. Kijang
Biasanya umpan bola back, pemukul melakukan langkah panjang dan naik dengan tolakan loncatan menggunakan satu kaki, pemukul tangan kanan menolak dengan kaki kiri.
9. Double Step
Smash dengan menggunakan gerak tipu, disini pemukul melakukan dua kali gerakan untuk melakukan tolakan meloncat. Tolakan pertama hanya berupa tipuan untuk mengecoh block, baru pada tolakan kedua pemukul meloncat dan melakukan serangan.
10. Step L
Smash ini hampir sama dengan smash normal, tetapi gerakan awalan berbeda. Pemukul melangkah kedepan, kemudian melakukan langkah kesamping sebelum tolakan, baru kemudian melompat naik untuk melakukan serangan.
f. Block bermanfaat untuk pertahanan di net.
Untuk melakukan block yang baik, pemain harus dapat memperkirakan jatuhnya bola, atau dapat meramalkan kemana kira² lawan akan memukul bola.
Proses melakukan bendungan dapat dibagi menjadi : Awalan, Melompat, Kontak dengan Bola & Mendarat.
Pemain berdiri dengan kedua kaki sejajar dan kaki ditekuk sedikit, kedua tangan didepan dada, telapak kedua tangan menghadap net dan jari² dikembangkan lebar². Sebagai awalan lutut ditekuk lebih dalam, posisi badan sedikit condong kedepan kemudian diteruskan dengan tolakan keatas dengan kedua kaki secara eksplosif serta mengayunkan kedua lengan lurus keatas secara bersamaan dan jari membuka agar kedua tangan merupakan suatu bidang yang luas.
Pada saat melayang diudara dan ketika bola dipukul oleh lawan, segeralah tangan dihadapkan kearah datangnya bola dan berusaha menguasai bola itu. Pada saat perkenaan tangan dengan bola, pergelangan tangan digerakkan secara aktif agar tangan dapat menekan bola dari arah atas depan kebawah secara tepat. Jari² kedua tangan pada saat perkenaan ditegangkan agar tangan dan jari cukup kuat untuk menerima tekanan bola yang keras. Saat perkenaan yang baik adalah saat sebelum bola dipukul, tangan blocker sudah benar² dapat mengurung bola tersebut.
Setelah kontak dengan bola pemain mendarat kembali dengan tumpuan kedua kaki dan lentur.
Jenis² Block
1. Block Bola Open
Blocker bergerak mendekati lawan yang akan melakukan spike, posisi tangan berada didepan dada. Blocker melompat setelah spiker lawan melakukan lompatan, sebelum melompat posisi badan direndahkan dengan menekuk lutut sehingga membentuk sudut ± 100º, kemudian blocker melompat setinggi mungkin dengan arah lompatan vertical.
2. Block Bola Semi
Blocker bergerak mendekati lawan yang akan melakukan spike, posisi kedua tangan dinaikkan berada diatas depan kepala. Blocker tetap melompat setelah spiker lawan melakukan lompatan, sebelum melompat posisi badan direndahkan dengan menekuk lutut sehingga membentuk sudut ± 110º, kemudian blocker melompat setinggi mungkin dengan arah lompatan vertical.
3. Block Bola Quick
Blocker bergerak mendekati lawan yang akan melakukan spike, posisi kedua tangan diluruskan. Blocker melompat bersamaan dengan spiker lawan, sebelum melompat posisi badan direndahkan dengan menekuk lutut tidak terlalu dalam (sudut lutut ± 135º), kemudian blocker melompat setinggi mungkin dengan arah lompatan vertical.
Yang perlu mendapat perhatian dari seorang blocker adalah :
o Perhatikan gaya pasing receiver lawan, kemana bola itu diarahkan
o Perhatikan terus jalannya bola dan perhatikan pula gaya pengumpan lawan terutama mata dan gerakaannya, jangan bergerak sebelum bola lepas dari tangan pengumpan..
o Lihat body language spiker lawan, kearah mana spiker itu bergerak.
o Posisi tangan atau jari waktu bergerak tidak boleh berada dibawah pinggang, agar gerak tangan cepat mencapai titik block.
o Side step (Block 2 step) dilakukan untuk block jarak dekat, sedangkan Cross step (Block 3 step) digunakan untuk block jarak yang cukup jauh.
o Blocker harus dilatih dengan melompat beberapa kali disatu tempat, agar mempunyai reaksi yang baik, bergerak secara cepat dan pandai membaca gerak
1. Teknik Tanpa Bola.
a. Sikap Siap.
Berdiri dengan kaki yang satu didepan kaki yang lain, kedua kaki terbuka selebar bahu, kedua lutut ditekuk sampai membentuk sudut 135º, kedua tangan ditekuk sedikit diletakkan rileks didepan tubuh, badan dicondongkan kedepan sampai tumit terangkat.
b. Pengambilan posisi yang tepat & benar.
c. Langkah kaki gerak kedepan, kebelakang, kesamping kiri & kesamping kanan.
d. Langkah kaki untuk awalan Smash dan awalan Block.
e. Bergulir kesamping & bergulir kebelakang.
f. Gerak meluncur.
g. Gerak tipuan
2. Teknik Dengan Bola
a. Service untuk menyajikan bola pertama.
1. Underhand Service
Pemain berdiri menghadap net , kaki kiri didepan kaki kanan, lengan kiri dijulurkan kedepan dan memegang bola (ini untuk pemain tangan kanan, bagi pemain tangan kiri sebaliknya).
Bola dilempar rendah keatas , berat badan bertumpu pada kaki sebelah belakang, lengan yang bebas digerakkan kebelakang dan diayunkan kedepan dan memukul bola. Sementara berat badan dipindahkan kekaki sebelah depan.
Bola dipukul dengan telapak tangan terbuka, pergelangan tangan kaku dan kuat. Gerakan terakhir adalah memindahkan kaki yang dibelakang kedepan.
Jenis² Underhand Service
a. Back Spin Underhand Serve : Bola berputar kebelakang.
b. Top Spin (Cutting) Underhand Serve: Bola berputar keatas.
c. Inside Spin Underhand Serve : Bola berputar kedalam.
d. Outside Spin Underhand Serve : Bola berputar keluar.
2. Overhead Service
Pemain berdiri dengan kaki kiri berada lebih kedepan dan kedua lutut agak ditekuk Tangan kiri dan kanan bersama² memegang bola, tangan kiri menyangga bola sedangkan yang kanan memegang bagian atas bola.
Bola dilambungkan dengan tangan kiri keatas sampai ketinggian ± 1m diatas kepala didepan bahu, dan telapak tangan kanan segera ditarik kebelakang atas kepala dengan telapak menghadap kedepan, berat badan dipindahkan kekaki sebelah belakang.
Setelah tangan berada dibelakang atas kepala dan bola berada sejangkauan tangan pemukul, maka bola segera dipukul dengan telapak tangan, lengan harus tetap lurus dan seluruh tubuh ikut bergerak.
Bola dipukul dan diarahkan dengan gerakan pergelangan tangan, berat badan dipindahkan kekaki sebelah depan. Gerakan lengan terus dilanjutkan sampai melewati paha yang lainnya.
Jenis² Overhead Service
a. Top Spin Overhead Serve : Bola berputar keatas.
b. Inside Spin Overhead Serve : Bola berputar kedalam.
c. Outside Spin Overhead Serve : Bola berputar keluar.
d. Drive Overhead Serve : Bola berputar keatas
3. Floating Service
a. Frontal Floating Service : Bola mengapung kekiri & kekanan.
Bola dipegang setinggi kepala, lengan hampir lurus. Lengan yang memukul ada dalam posisi lurus atau tertekuk sedikit, ditarik kebelakang sebelum melempar bola.
Bola dilempar rendah, bagian atas tubuh tidak bergerak, pergelangan tangan harus tetap kaku. Bagian tengah bola dipukul dengan bagian bawah telapak tangan atau dengan tangan digenggam. Bola dipukul disebelah depan tubuh pemain dan tidak ada gerakan lanjutan
b. Side Floating Service : Bola mengapung kearah vertical.
Pemain berdiri dengan kedua kaki menghadap sisi lapangan. Bola dipegang dengan lengan menjulur kira² setinggi kepala. Lengan pemukul diayun kebelakang agak kesisi. Berat badan ditempatkan dikaki belakang, dengan kedua lutut ditekuk sedikit.
Lengan diangkat dengan gerakan melingkar, bola dilempar rendah. Lengan dijulurkan dan bagian tengah badan bola dipukul dengan tangan tergenggam,
sewaktu bola itu melambung tinggi didepan tubuh pemain. Bagian tubuh berputar sedemikian rupa sampai menghadap net, berat badan dipindahkan kekaki sebelah depan.
Kontak dengan bola singkat sekali, lengan dan tangan yang digunakan memukul berhenti sebentar sesudah mengadakan kontak dengan bola, kemudian gerakan diteruskan sedemikian rupa sehingga lengan terayun kebawah melewati kaki yang satunya.
4. Jump Service
Jump Serve merupakan salah satu senjata ampuh untuk mengacaukan serangan kombinasi lawan, sebuah team memerlukan minimal 2 s/d 3 orang jump server yang dapat mengacaukan irama permainan lawan.
Keuntungan menggunakan jump serve adalah :
o Dapat menjatuhkan mental lawan
o Mempersulit lawan untuk membangun serangan
o Memudahkan blocker untuk melakukan bendungan
o Memudahkan kerja defender
Teknik Jump Serve :
o Awalan ±4 langkah, hal ini untuk mendapatkan power yang cukup.
o Lompat pada langkah ke 4 diluar garis belakang dan jatuh didalam lapangan.
o Lemparan tidak dari belakang tetapi dari samping badan agar dapat terlihat dan mudah mengontrol putaran bola kedepan.
o Ayunan tangan sama seperti melakukan Spike Bola Tinggi (Open Spike).
o Step ketiga baru bola dilempar keatas, setelah melakukan step sekali lagi, server meloncat dan memukul bola.
o Gerakan harus harmonis dan berkesinambungan dan konsisten seperti gerakan spike, tidak terpatah².
Cara Melatih
o Untuk control spike, latihan diberikan mulai 3m atau di garis serang, bola dilempar sendiri dan spike. Setelah menguasai pada jarak 3 m, kemudian mundur dan lakukan pada jarak 4m, lalu 5 m dan seterusnya. Hal ini dapat melatih akurasi pukulan.
o Latihan dapat digabung dengan receive, agar terbiasa dengan penerimaan jump serve.
o Pemain harus tahu bahwa jarak pukulan lurus dengan pukulan menyilang berbeda jaraknya ± 2m, sehingga gerakan lengan dan pergelangan tangan pada saat memukulpun harus berbeda.
o Kontak pukulan pada bola dari jarak 3m berbeda dengan kontak pada bola pada garis belakang, semakin kebelakang kontak makin dibawah bola.
o Pemukul tangan kanan sebaiknya melempar bola dengan tangan kanan.
o Latih pemain secara berpasangan untuk melempar bola tanpa awalan dan tanpa lompatan dari garis belakang dan jatuhnya bola harus pada posisi yang sama didalam lapangan.
o Konsentrasi dalam jump serve sangat diperlukan, berikan latihan dengan target 10 bola untuk setiap posisi dan lakukan 3 kali dalam 1 minggu.
b. Pass Bawah berguna untuk passing dan umpan.
o Pemain melakukan sikap siap.
o Kedua tangan rapat dan dijulurkan lurus kedepan, kedua lengan membuat sudut 45º dengan badan.
o Sikap tubuh semakin merendah dengan menurunkan sudut lutut dari 135º menjadi 45º.
o Tungkai mulai dijulurkan keatas agak kedepan, bola mengenai lengan bawah yang terjulur lurus. Tungkai dijulurkan sampai berjingkat dan tangan tidak boleh melewati bahu.
o Kembali kepada sikap siap.
Jenis² Pass Bawah
1. Pass Bawah dua Tangan
2. Pass Bawah Satu Tangan
3. Pass Bawah Bergulir Kesamping
4. Pass Bawah Setengah Bergulir Kebelakang
5. Pass Bawah Meluncur Kedepan
c. Pass atas berguna untuk passing dan umpan
Pada dasarnya pass atas adalah bola tangkap diatas, sentuhkan kekening dan lontarkan kembali keatas, tetapi karena proses gerakan tersebut dilakukan dengan sangat cepat, maka bola terlihat seperti dipantulkan.
o Pemain melakukan sikap siap.
o Badan dijulurkan keatas dengan meluruskan tungkai, bersamaan dengan menjulurkan kedua tangan keatas, sikap jari seperti hendak merangkum bola.
o Tungkai ditekuk kembali sampai lutut membuat sudut 135º, posisi lengan ditekuk didepan muka diatas kening dan bola disentuh oleh ujung jari² tangan.
o Tungkai dijulurkan kembali sampai berjingkat dan bola dilambungkan kedepan atas dengan jari dan bantuan lengan yang digerakkan sampai lurus keatas.
o Kembali kepada sikap siap.
Jenis² Pass Atas
1. Pass Atas Normal
2. Pass Atas Setengah Bergulir Kebelakang
3. Pass Atas Bergulir Kesamping
4. Pass Atas Meloncat
d. Umpan untuk menyajikan bola pada Smasher.
1. Umpan Kedepan
Pengumpan menempatkan posisi badan dibawah dan agak dibelakang arah gerak bola, kedua telapak tangan dan jari² membentuk bulatan ½ lingkaran telah siap didepan atas muka dahi.
Jenis² Umpan.
a. Umpan Normal/Open.
Bola segera diumpan keatas dengan kekuatan dorongan lengan, jari dan pergelangan tangan serta ayunan kaki. Usahakan bola parabol keatas net dengan ketinggian lebih dari 2m dari tepi atas net. Bola berada diantara smasher dan pengumpan sejajar net dengan jarak dari net ± 20cm – 50cm.
b. Umpan Semi.
Perkenaan bola tepat diatas dahi segaris dengan sumbu badan, dimana umpan dilakukan dengan gerak keatas depan, ketinggian bola diatas tepi net antara diatas 1m s/d 2m. Penentuan kualitas parabol dan jalannya bola tergantung kekuatan jari, pergelangan tangan dan lengan. Timing pemberian umpan semi dilakukan bila smasher telah kelihatan bergerak maju awalan dengan jarak ± 1m dari pengumpan.
c. Umpan Straight/Kamboja.
Parabol bola antara 0.5m s/d 1.5m dari tepi atas net. Dorongan bola lebih dominan dibandingkan dengan gerak keatas untuk parabol bola, Bola diatas net meluncur agak cepat dengan jarak 20cm – 50cm dari net, dimana akhir parabol bola terletak diatas garis samping lapangan. Begitu bola datang segera dipantulkan kedepan atas dengan cepat, setelah pengumpan melihat smasher telah berawalan merapat dengan net diluar garis samping lapngan. Timing pemberian umpan harus tepat, yaitu saat bola telah didepan atas dahi dan smasher telah siap mengambil awalan.
d. Umpan Quick.
Teknik umpan ini memerlukan ketinggian bola 50cm s/d 1m dari tepi atas net. Timing pemberian bola saat smasher telah melayang keatas didepan pengumpan siap untuk memukul bola, biasanya pasing bola datang, tunggu sebentar sampai smasher meloncat untuk menunggu bola diatas net. Gerakan utama dalam umpan pendek ini adalah kekuatan jari dan pergelangan pengumpan, perkenaan tangan terhadap bola sama dengan pelaksanaan umpan semi. Arah umpan parabol vertical disebut quick A, sedangkan parabol straight disebut quick B.
2. Umpan Kebelakang
Pengumpan menempatkan posisi badan dibawah bola, badan agak dicondongkan kebelakang sedikit. Gerak jari & pergelangan tangan lebih aktif, terutama ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah, lengan segaris dengan kecondongan badan bagian atas saat pelaksanaan umpan. Pandangan kebelakang sedikit untuk melihat jalannya bola kearah belakang. Jenis umpan kebelakang sama dengan umpan kedepan.
e. Smash untuk serangan guna mematikan lawan.
Proses melakukan smash dapat dibagi menjadi : Awalan, Tolakan, Meloncat, Memukul Bola dan Mendarat
o Awalan
Berdiri dengan salah satu kaki dibelakang sesuai dengan kebiasaan individu (tergantung smasher normal atau smasher kidal). Langkahkan kaki satu langkah kedepan (pemain yang baik, dapat mengambil ancang² sebanyak 2 sampai 4 langkah), kedua lengan mulai bergerak kebelakang, berat badan berangsur² merendah untuk membantu tolakan.
o Tolakan
Langkahkan kaki selanjutnya, hingga kedua telapak kaki hampir sejajar dan salah satu kaki agak kedepan sedikit untuk mengerem gerak kedepan dan sebagai persiapan meloncat kearah vertical. Ayunkan kedua lengan kebelakang atas sebatas kemampuan, kaki ditekuk sehingga lutut membuat sudut ±110º, badan siap untuk meloncat dengan berat badan lebih banyak bertumpu pada kaki yang didepan.
o Meloncat
Mulailah meloncat dengan tumit & jari kaki menghentak lantai dan mengayunkan kedua lengan kedepan atas saat kedua kaki mendorong naik keatas. Telapak kaki, pergelangan tangan, pinggul dan batang tubuh digerakkan serasi merupakan rangkaian gerak yang sempurna. Gerakan eksplosif dan loncatan vertikal.
o Memukul Bola
Jarak bola didepan atas sejangkauan lengan pemukul, segera lecutkan lengan kebelakang kepala dan dengan cepat lecutkan kedepan sejangkauan lengan terpanjang dan tertinggi terhadap bola. Pukul bola secepat dan setinggi mungkin, perkenaan bola dengan telapak tangan tepat diatas tengah bola bagian atas.
Pergelangan tangan aktif menghentak kedepan dengan telapak tangan & jari menutup bola. Setelah perkenaan bola lengan pemukul membuat gerakan lanjutan kearah garis tengah badan dengan diikuti gerak tubuh membungkuk. Gerak lecutan lengan, telapak tangan, badan, tangan yang tidak memukul dan kaki harus harmonis dan eksplosif untuk menjaga keseimbangan saat berada diudara. Pukulan yang benar akan menghasilkan bola keras & cepat turun kelantai.
o Mendarat
Mendarat dengan kedua kaki mengeper. Lutut lentur saat mendarat untuk meredam perkenaan kaki dengan lantai, mendarat dengan jari² kaki (telapak kaki bagian depan) dan sikap badan condong kedepan. Usahakan tempat mendarat kedua kaki hampir sama dengan tempat saat meloncat.
Jenis² Smash.
1. Open
Pemukul melakukan gerak awalan setelah bola lepas dari tangan pengumpan, bola dipukul dipuncak loncatan dan jangkauan lengan yang tertinggi.
2. Semi
Setelah bola lepas dipasing kearah pengumpan, pemukul harus mulai bergerak perlahan kedepan dengan langkah tetap menuju kearah pengumpan. Begitu pengumpan menyajikan bola dengan ketinggian 1m ditepi atas net maka secepatnya pemukul meloncat keatas dan memukul bola. Disini kecepatan gerak harus lebih cepat dari pada smash dengan bola Open
3. Quick
Begitu melihat bola pasing ke pengumpan, maka pemukul melakukan awalan secepat mungkin, dengan langkah yang panjang. Timing meloncat sebelum bola diumpan dengan jarak satu jangkauan lengan pemukul dengan bola yang akan diumpan. Pemukul melayang dengan tangan siap memukul, pengumpan menyajikan bola tepat didepan tangan pemukul. Lakukan pukulan dengan secepat²nya, gerakan pergelangan tangan yang cepat sangat baik hasilnya. Loncatan smasher vertikal, jagalah keseimbangan badan pada saat melayang.
4. Straight
Smasher sebelum melakukan gerakan awalan, terlebih dahulu bergerak kearah luar lapangan mendekati tiang net, smasher melakukan awalan bergerak arah paralel dengan jaring. Begitu bola sampai dibatas tepi jaring dengan ketinggian optimal bola, segeralah melompat dan langsung memukul secepatnya. Proses menjalankan teknik ini lebih cepat dibandingkan smash dengan bola semi.
5. Drive
Smash ini biasanya digunakan oleh pemain untuk bola jauh dari net, saat meloncat smasher agak dekat dibawah bola, berbeda dengan saat meloncat pada smash normal. Bola yang akan di smash terletak diatas kanan bahu lengan pemukul.
Gerak lecutan tangan dari depan atas badan diputarkan kearah yang berlawanan dengan arah jarum jam, telapak tangan membentuk cekungan seperti sendok. Cambukan keras, perkenaan bola dibagian belakang kearah bagian muka dengan telapak tangan, aktifkan gerakan pergelangan tangan . Gerakan cambukan harus dibantu oleh otot² perut, samping dan bahu. Akibat cambukan kurve jalan bola akan panjang dan putaran bola menjauhi net, bola bergerak dengan cepat dan tajam.
6. Dummy
Pemain melakukan gerakan sama dengan pada waktu hendak melakukan smash, tetapi pada waktu kontak dengan bola, bola tidak dipukul melainkan disentuh saja dengan jari tangan. Lengan pemukul tetap bergerak dan dengan gerakan jari pemukul mengarahkan bola ketempat yang tidak terjaga ditempat lawan. Bola dapat dilambungkan pendek atau panjang tergantung pada situasi.
7. Bola 3 meter
Smash ini adalah serangan yang dilakukan dari belakang garis serang, pemukul yang berfungsi sebagai pemain belakang pada saat tolakan tidak boleh menginjak atau melewati garis serang, tetapi pada saat mendarat boleh saja jatuh didalam garis serang.
8. Kijang
Biasanya umpan bola back, pemukul melakukan langkah panjang dan naik dengan tolakan loncatan menggunakan satu kaki, pemukul tangan kanan menolak dengan kaki kiri.
9. Double Step
Smash dengan menggunakan gerak tipu, disini pemukul melakukan dua kali gerakan untuk melakukan tolakan meloncat. Tolakan pertama hanya berupa tipuan untuk mengecoh block, baru pada tolakan kedua pemukul meloncat dan melakukan serangan.
10. Step L
Smash ini hampir sama dengan smash normal, tetapi gerakan awalan berbeda. Pemukul melangkah kedepan, kemudian melakukan langkah kesamping sebelum tolakan, baru kemudian melompat naik untuk melakukan serangan.
f. Block bermanfaat untuk pertahanan di net.
Untuk melakukan block yang baik, pemain harus dapat memperkirakan jatuhnya bola, atau dapat meramalkan kemana kira² lawan akan memukul bola.
Proses melakukan bendungan dapat dibagi menjadi : Awalan, Melompat, Kontak dengan Bola & Mendarat.
Pemain berdiri dengan kedua kaki sejajar dan kaki ditekuk sedikit, kedua tangan didepan dada, telapak kedua tangan menghadap net dan jari² dikembangkan lebar². Sebagai awalan lutut ditekuk lebih dalam, posisi badan sedikit condong kedepan kemudian diteruskan dengan tolakan keatas dengan kedua kaki secara eksplosif serta mengayunkan kedua lengan lurus keatas secara bersamaan dan jari membuka agar kedua tangan merupakan suatu bidang yang luas.
Pada saat melayang diudara dan ketika bola dipukul oleh lawan, segeralah tangan dihadapkan kearah datangnya bola dan berusaha menguasai bola itu. Pada saat perkenaan tangan dengan bola, pergelangan tangan digerakkan secara aktif agar tangan dapat menekan bola dari arah atas depan kebawah secara tepat. Jari² kedua tangan pada saat perkenaan ditegangkan agar tangan dan jari cukup kuat untuk menerima tekanan bola yang keras. Saat perkenaan yang baik adalah saat sebelum bola dipukul, tangan blocker sudah benar² dapat mengurung bola tersebut.
Setelah kontak dengan bola pemain mendarat kembali dengan tumpuan kedua kaki dan lentur.
Jenis² Block
1. Block Bola Open
Blocker bergerak mendekati lawan yang akan melakukan spike, posisi tangan berada didepan dada. Blocker melompat setelah spiker lawan melakukan lompatan, sebelum melompat posisi badan direndahkan dengan menekuk lutut sehingga membentuk sudut ± 100º, kemudian blocker melompat setinggi mungkin dengan arah lompatan vertical.
2. Block Bola Semi
Blocker bergerak mendekati lawan yang akan melakukan spike, posisi kedua tangan dinaikkan berada diatas depan kepala. Blocker tetap melompat setelah spiker lawan melakukan lompatan, sebelum melompat posisi badan direndahkan dengan menekuk lutut sehingga membentuk sudut ± 110º, kemudian blocker melompat setinggi mungkin dengan arah lompatan vertical.
3. Block Bola Quick
Blocker bergerak mendekati lawan yang akan melakukan spike, posisi kedua tangan diluruskan. Blocker melompat bersamaan dengan spiker lawan, sebelum melompat posisi badan direndahkan dengan menekuk lutut tidak terlalu dalam (sudut lutut ± 135º), kemudian blocker melompat setinggi mungkin dengan arah lompatan vertical.
Yang perlu mendapat perhatian dari seorang blocker adalah :
o Perhatikan gaya pasing receiver lawan, kemana bola itu diarahkan
o Perhatikan terus jalannya bola dan perhatikan pula gaya pengumpan lawan terutama mata dan gerakaannya, jangan bergerak sebelum bola lepas dari tangan pengumpan..
o Lihat body language spiker lawan, kearah mana spiker itu bergerak.
o Posisi tangan atau jari waktu bergerak tidak boleh berada dibawah pinggang, agar gerak tangan cepat mencapai titik block.
o Side step (Block 2 step) dilakukan untuk block jarak dekat, sedangkan Cross step (Block 3 step) digunakan untuk block jarak yang cukup jauh.
o Blocker harus dilatih dengan melompat beberapa kali disatu tempat, agar mempunyai reaksi yang baik, bergerak secara cepat dan pandai membaca gerak
Jurnal Bolavoli
ABSTRAK
Voli telah menjadi salah satu peserta memainkan olahraga yang paling luas di dunia. Partisipasi memerlukan keahlian dalam keterampilan fisik banyak dan kinerja seringkali tergantung pada kemampuan individu untuk melompat dan tanah. Kejadian cedera dalam bola voli adalah sama dengan tarif dilaporkan untuk olahraga yang dianggap menghubungi olahraga fisik yang lebih. Meskipun sumber yang paling umum cedera dalam bola voli adalah urutan pendaratan melompat, ada sedikit penelitian mengenai prevalensi melompat dan mendarat teknik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung jumlah lompatan yang dilakukan oleh pemain voli wanita di pertandingan kompetitif dan untuk menentukan frekuensi relatif dari teknik melompat-arahan yang berbeda. Rekaman Video rekaman dua pertandingan antara empat tim voli dianalisis dalam penelitian ini. Setiap kegiatan dikategorikan berdasarkan jenis melompat (spike menyinggung atau blok defensif) dan fase (melompat atau arahan). Tahap ini subcategorized oleh pola menggunakan kaki (kanan, kiri, atau keduanya). Setiap pemain rata-rata hampir 22 melompat-pendaratan per game. pola penggunaan Kaki terjadi dalam jumlah yang tidak sama (p <0,001) dengan lebih dari 50% dari pendaratan defensif yang terjadi pada satu kaki. Pelatih, pendidik fisik, dan rekreasi penyedia dapat memanfaatkan temuan-temuan dari penyelidikan ini untuk membantu mencegah cedera di voli.
KATA KUNCI: cedera lutut, melompat teknik, perempuan, lompatan, frekuensi
PENDAHULUAN
Olahraga bola voli terus meningkatkan partisipasi sejak awal lebih dari seratus tahun yang lalu. Voli telah menjadi salah satu peserta memainkan olahraga yang paling luas di dunia dengan lebih dari 200 juta pemain (Aagaard et al,. 1997 ; Briner dan Kacmar, 1997 .) Jumlah peserta saingan jumlah peserta sepak bola (250 juta) yang dilaporkan oleh Federation Internationale de Football Association (Dvorak et al,. 2000 ). indikasi lain daya tarik di seluruh dunia segala bentuk voli adalah dimasukkannya voli pantai sebagai olahraga Olimpiade pada tahun 1996. alasan Potensi popularitas bola voli adalah bahwa olahraga memerlukan minimal peralatan dan individu dapat berpartisipasi sepanjang hidup mereka di berbagai tingkat keahlian.'s atletik Wanita adalah salah satu segmen dari masyarakat olahraga yang telah melihat dukungan khusus untuk voli.
Universitas dan perguruan tinggi di Amerika Serikat saat ini sponsor perempuan voli 972 tim (National Collegiate Athletic Association, 2002 ). Voli memiliki tingkat partisipasi tertinggi ketiga di antara gadis-gadis SMA di Amerika Serikat membual 400.000 peserta mengambil bagian setiap tahun (Nasional Federasi Asosiasi Sekolah Tinggi Negara, 2002 ). Bunga meningkat pada voli telah disertai dengan berkembangnya kekhawatiran di kedokteran olahraga masyarakat mengenai kejadian luka (Schafle, 1993 ),. Anehnya kejadian cedera akut (keseleo ligamen misalnya) di bola voli mirip dengan tarif dilaporkan untuk olahraga yang dianggap menghubungi olahraga fisik yang lebih. Bahkan, kejadian cedera dalam bola voli hampir setara dengan yang diamati di hoki es dan sepak bola (Aagaard et al,. 1997 ). Risiko yang melekat untuk cedera dalam bola voli adalah hasil dari dinamis dan balistik sifat dan fakta bahwa voli berduri mungkin berjalan pada kecepatan setinggi 145 km • h -1 (90 mph) (Briner dan Kacmar, 1997 ) partisipasi Sukses. dalam olahraga ini membutuhkan keahlian dalam keterampilan fisik banyak dan kinerja seringkali tergantung pada kemampuan individu untuk mendorong diri mereka sendiri ke udara selama kedua dan defensif manuver ofensif. Gerakan-gerakan ini termasuk melompat melayani, spike, dan blok. Selama pelaksanaan melompat melayani atau spike, pemain melompat tinggi ke udara dan serangan bola pada titik tertinggi melompat mereka dalam upaya untuk menggerakkan bola dengan cepat ke arah sisi lawan yang bersih. Membela diri, pemain barisan depan membela terhadap lonjakan dengan melompat ke udara dengan tangan mereka terangkat dalam upaya untuk menghalangi serangan ofensif. Tidak seperti melompat ofensif, defensif melompat tidak maksimal upaya melompat vertikal. perempuan pemain Elite diperintahkan untuk melompat ke ketinggian yang akan membuat kepala mereka di bawah tingkat atas bersih. Dasar pemikiran untuk strategi ini adalah dua kali lipat. Pertama, penurunan ketinggian melompat vertikal lebih pendek jumlah waktu seorang pembela menghabiskan di udara dan memberikan waktu tambahan dalam kontak dengan tanah untuk manuver. Kedua, melompat ketinggian yang lebih rendah digunakan membela diri memberikan perlindungan untuk wajah dan kepala para pemain.
Penting untuk mempertimbangkan bahwa paku dan blok tidak melompat saja, tetapi melompat-urutan pendaratan. Secara khusus, fase pendaratan membutuhkan disipasi energi kinetik yang dihasilkan selama lompat. mekanika Newton menentukan bahwa kenaikan tinggi melompat (paling lazim dalam pemain bola voli elite) harus disertai dengan peningkatan proporsional dalam energi kinetik yang harus benar diserap untuk menghindari cedera (Dufek dan Zhang, 1996 ). pendaratan ini sering mengakibatkan penciptaan reaksi pasukan darat di urutan lima kali berat badan (Adrian dan Laughlin, 1983 ). Pengaruh merusak kekuatan ini mungkin diperparah ketika mempertimbangkan bahwa seorang pemain barisan depan bisa melompat dan tanah berkali-kali selama pertandingan regulasi.
Mekanisme dan frekuensi cedera dalam bola voli yang menarik dan terdokumentasi dengan baik. The-pendaratan urutan melompat merupakan sumber yang paling umum cedera pada bola voli (Briner dan Kacmar, 1997 ),. Bahkan blocking dan spiking dihubungkan dengan lebih dari 70% dari cedera voli (Watkins dan Green, 1992 ). Lebih khusus, pendaratan teknik yang digunakan dalam bola voli potensial dapat dihubungkan dengan ekstremitas penyerapan energi yang lebih rendah dan kemungkinan cedera (Dufek dan Zhang, 1996 ) dan. Stacoff kolega, ( 1988 ) menemukan dampak gaya vertikal awal kira-kira 1 sampai 2 BW di touchdown kaki depan untuk laki-laki melakukan blok. menghubungi Heel menghasilkan kekuatan puncak kedua berkisar antara 1 BW untuk 7BW. Para penulis mengamati bahwa tinggi kenaikan ini adalah kurang penting daripada sudut lutut dalam memperkirakan besarnya gaya dengan ekstensi lutut meningkat menghasilkan kekuatan lebih selama pendaratan. Dengan demikian, teknik memainkan peran penting selama mendarat di voli.
dan gerakan mendarat Jumping fitur fundamental dari kegiatan olahraga dan telah mendapat perhatian penelitian yang cukup besar. Penelitian sebelumnya saat mendarat telah berkonsentrasi pada implikasi dampak dan beban yang dihasilkan ditempatkan pada tubuh serta potensi cedera berbagai situasi pendaratan. Sebagai contoh, Kovacs dan rekan, ( 1997 ) menunjukkan bahwa teknik pendaratan yang digunakan oleh individu (kaki depan vs tumit-toe arahan) memiliki implikasi signifikan mengenai pasukan dikirimkan ke tubuh dan kemampuan tubuh untuk mengusir kekuatan-kekuatan. Oleh karena itu, dan arahan teknik melompat digunakan oleh pemain bola voli dapat mempengaruhi kemungkinan mereka cedera selama urutan pendaratan melompat. Ferretti et al., ( 1992 ) hipotesis bahwa tingginya jumlah melompat dan kemungkinan kehilangan keseimbangan karena penyimpangan dalam melompat teknik adalah penyebab utama dari cedera selama voli (Ferretti et al., 1992 ) luas. Sebagian besar (90% ) cedera voli terjadi pada tungkai bawah dengan lutut sendi yang sangat rentan (Gerberich et al,. 1987 ) cedera lutut. ini sangat penting karena mereka berhubungan dengan waktu kehilangan lebih dari partisipasi olahraga daripada situs cedera lain (Solgård et al ,. 1995 ).
Meskipun diketahui bahwa cedera lutut adalah masalah umum di voli dan teknik yang mempengaruhi besarnya kekuatan diteruskan ke tungkai bawah selama pendaratan, ada sedikit penelitian mengenai prevalensi melompat dan mendarat teknik dalam bola voli wanita elit. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung jumlah melompat dilakukan oleh elit pemain voli wanita dalam pertandingan kompetitif dan untuk menentukan frekuensi relatif dari teknik melompat yang berbeda. Tujuan sekunder dari penelitian ini adalah untuk membahas implikasi bagi para profesional pendidikan jasmani, pelatih, dan peneliti.
METODE
Rekaman Video rekaman dua pertandingan antara empat Divisi NCAA tim wanita voli IA dianalisis dalam penelitian ini. Keempat tim dianggap elit (di peringkat 25 teratas di Amerika Serikat) pada saat pertandingan itu dimainkan (musim gugur 2000). Setiap pertandingan berlangsung empat pertandingan. Tim yang paling dekat dengan kamera video dipelajari selama setiap pertandingan,. Dengan demikian dua game dari setiap pertandingan dianalisis setiap tim karena tim beralih sisi setelah setiap pertandingan. Permainan yang dimainkan di lapangan keras dengan konvensional enam tim pemain. pemain baris Front melakukan mayoritas melompat voli dan pendaratan. Dengan demikian, pemain barisan depan menjadi fokus utama dari penelitian ini. Namun, paku menyinggung yang dieksekusi dari belakang juga dimasukkan dalam analisis.
Setiap video diputar secara manual (bingkai demi bingkai) untuk mengamati secara akurat beberapa aspek kegiatan melompat. Setiap kegiatan dikategorikan berdasarkan jenis melompat (ofensif atau defensif) dan fase (melompat atau arahan). Serangan melompat terutama paku dan melompat defensif sebagian besar blok, tapi barisan depan melompat lain (dirancang untuk menipu lawan) terjadi dan termasuk dalam proses pengkodean. Kegiatan ini dipilih karena mereka yang paling mungkin mengakibatkan cedera. Tahap selanjutnya subcategorized dengan pola menggunakan kaki (kaki kanan, kaki kiri, atau kedua kaki). Setiap faktor mencetak secara kategoris (kaki kanan = 1, kaki kiri = 2, kedua kaki = 3). Melompat dikategorikan sebagai 'kedua kaki' jika kanan dan kaki kiri datang dari tanah secara bersamaan. Jika salah satu kaki kiri tanah satu frame (33ms) depan yang lain kemudian melompat itu skor unilateral (kanan atau kiri). Sebuah konvensi mirip digunakan untuk pendaratan kode. Pendaratan dikategorikan sebagai 'kedua kaki' jika kanan dan kaki kiri dihubungi tanah dalam bingkai video yang sama. Karena sifat kategoris data, teknik nonparametrik (chi-square) dipilih sebagai alat analisis. Lebih khusus lagi, chi-square ini dirancang untuk mengevaluasi apakah jumlah kasus di masing-masing kategori berbeda dari apa yang diharapkan atas dasar kesempatan (Thomas dan Nelson, 1990 ). Empat analisis chi-square dilakukan untuk menentukan apakah kaki menggunakan pola (kanan, kiri, atau keduanya) bervariasi menurut tipe melompat (ofensif atau defensif) dan fase (melompat atau arahan) ( = 0,05),. Karena menggunakan kaki tiga pola itu mungkin, diasumsikan bahwa 33% dari melompat setiap jenis dan fase akan terjadi dengan hak kaki 33% untuk kiri, dan 33% untuk kedua kaki.
HASIL
Selama pertandingan permainan, empat, 1087 (484 ofensif dan defensif 603) melompat dan pendaratan berikutnya dievaluasi. Dua puluh lima barisan depan pemain yang berbeda melakukan kegiatan melompat. Rata-rata, masing-masing pemain belajar mati hampir 45 melompat dan selanjutnya pendaratan untuk dua pertandingan dianalisis. Jumlah maksimum pendaratan-urutan melompat diamati selama periode permainan dua adalah 73.
Frekuensi relatif dari pola penggunaan kaki terjadi dalam jumlah yang tidak setara selama melompat ofensif dan pendaratan. Mayoritas (408) dari melompat ofensif dilakukan dengan menggunakan kedua kaki ( 2 (2) = 576,1, p <0,001). Enam puluh tujuh melompat ofensif dilakukan dengan kaki kiri dan sembilan sisanya dilakukan dengan benar. Demikian pula, ofensif pendaratan sebagian besar (269) dilakukan secara bilateral dengan kedua kaki melakukan kontak dengan tanah secara bersamaan ( 2 (2) = 153,2, p <0,001). Dari pendaratan sepihak, sekitar 35% (168) yang terlibat kaki kiri pendaratan pertama sedangkan 10% (47) digunakan pertama teknik kaki kanan. Lihat Gambar 1 .
pola penggunaan Kaki juga didistribusikan merata untuk melompat defensif dan pendaratan. Kedua kaki digunakan untuk mendorong para pemain ke udara di lebih dari 99% (597) dari melompat defensif ( 2 (2) = 1170,3, p <0,001). Hanya empat melompat defensif dilakukan dengan menggunakan kaki kiri dan dua dengan kanan. Demikian juga ketika mendarat dari lompatan defensif, pola dua kaki bilateral adalah yang paling umum (342) diikuti dengan pendaratan kaki kanan (163) dan kiri pendaratan kaki (98) ( 2 (2) = 158,9, p <0,001). Hasil muncul di Figure2 .
DISKUSI
Penelitian ini dirancang untuk mengevaluasi dan arahan teknik melompat digunakan oleh ahli pemain voli wanita. Secara khusus, jumlah melompat dilakukan oleh elit pemain voli wanita dalam pertandingan kompetitif adalah terukur dan frekuensi relatif dari teknik melompat yang berbeda ditentukan. Kombinasi dari pendaratan-strategi melompat terjadi dalam jumlah yang tidak proporsional.
Hampir semua dan defensif melompat ofensif yang dilakukan oleh elit pemain bola voli wanita dijalankan menggunakan kedua kaki. Melompat dengan kedua kaki affords atlet dan stabil lebar dasar dukungan untuk produksi kekuatan dan lompatan vertikal kinerja maksimal. Oleh karena itu, sangat sedikit cedera terjadi selama tahap melompat blok atau paku. Sebaliknya, hampir separuh dari seluruh pendaratan di perempuan voli elit memanfaatkan teknik pendaratan sepihak. Kecenderungan ini dapat diamati sangat penting bila kita menganggap bahwa mekanisme yang paling sering dari cedera lutut di bola voli mendarat sepihak dari melompat (Kovacs et al,. 1997 ). yang tinggi relatif dari pendaratan sepihak dapat menyebabkan hilangnya keseimbangan dan selanjutnya cedera. Schafle, ( 1993 ) menyatakan bahwa pendaratan sepihak sesekali meningkatkan kemungkinan kekacauan ligamen lutut. Mekanis berbicara, pendaratan ini sepihak membahayakan dahan pendaratan karena dahan tunggal harus menghilangkan energi yang diciptakan oleh dua anggota tubuh selama fase melompat. Sebagaimana ditunjukkan dalam igure F 3 , situasi ini dapat menyebabkan resiko tinggi alignment tungkai bawah disebut sebagai "Posisi of no return" (Irlandia, 1999 ):. berbahaya ini orientasi saat mendarat ditandai dengan mengikuti sifat ke depan tertekuk dan diputar kembali, pinggul adduksi dan internal rotasi, fleksi lutut dan positioning valgus, rotasi tibial eksternal, dan kekurangan kontrol dari kaki yang berlawanan. Dalam posisi ini, otot-otot yang biasanya akan membantu atlet tetap tegak tidak dapat berfungsi dengan baik karena mereka bekerja di sebuah kerugian mekanis, yang mengarah pada kecenderungan yang lebih besar untuk cedera (Irlandia, 1999 ).
Menariknya, mayoritas pendaratan sepihak akibat melompat ofensif berlangsung dengan kaki kiri dan mayoritas pendaratan sepihak akibat melompat defensif yang dilakukan dengan kaki kanan. Hasil ini mungkin terkait dengan kenyataan bahwa mayoritas penduduk (pemain bola voli termasuk) adalah tangan kanan. Sebagai contoh, ketika tangan kanan lonjakan pemain bola, tujuan mereka adalah untuk mencapai setinggi mungkin dengan tangan kanan untuk memukul bola ke bawah. Akibatnya, batang tersebut tertekuk ke kiri. Hal ini menimbulkan fleksi lateral sisi kanan tubuh dan dapat mengakibatkan kontak pertama kaki kiri setelah pendaratan. Tingginya jumlah relatif dari kontak pertama kaki kanan oleh pemain defensif bisa dalam menanggapi membela spikers tangan kanan. Wenangan dan aktivitas swing arm tidak dicatat untuk studi ini, tetapi harus ditangani dalam penelitian masa depan.
Mencegah cedera sulit dalam bola voli karena pada dasarnya merupakan olahraga berisiko relatif tinggi terhadap sendi lutut. Penguatan seluruh tungkai bawah adalah intervensi kemungkinan yang akan memungkinkan jumper untuk menghilangkan energi dari pendaratan melalui otot-otot, bukan tulang dan ligamen (Schafle, 1993 ). Strategi lain yang diusulkan oleh Briner pencegahan dan Kacmar, ( 1997 ) adalah bahwa atlet harus diberitahukan tentang pentingnya teknik pendaratan dan pentingnya mendarat dengan menekuk lutut sedikit tertekuk dan kaki plantar. Ini posisi di kontak akan memberikan berbagai macam gerak untuk sendi ekstremitas bawah untuk memanfaatkan untuk mengusir pasukan darat reaksi. Hal ini bertepatan dengan karya Zhang et al., ( 2000 ) yang melaporkan bahwa lutut ekstensor dan fleksor plantar sendi berfungsi sebagai dissipaters energi primer saat mendarat.
pelatihan fisik (relatif terhadap kekuatan dan teknik) mungkin yang praktis dan efektif modalitas yang paling untuk mencegah cedera yang berkaitan dengan arahan dari melompat. Efek positif dari pelatihan telah dilaporkan oleh Hewett dan rekan, ( 1996 ). Dalam studi mereka, atlet perempuan berpartisipasi dalam pelatihan melompat ptiometrik selama 6 minggu. Setelah pelatihan, pasukan arahan maksimum selama blok berkurang sebesar 22%. Selain itu, adduksi dan penculikan saat mengalami penurunan sebesar 50%. Perbaikan ini bisa mencegah atlet dari mencapai "posisi yang tidak kembali" dan kemudian menurunkan kejadian cedera pada populasi ini. Menariknya, tidak ada perubahan dalam kinerja lompatan vertikal terdeteksi setelah pelatihan. Dengan demikian, tampak bahwa pelatihan dapat meningkatkan mekanik mendarat tanpa mengurangi kinerja. Mengenai teknik, atlet yang secara teratur melakukan pendaratan dan yang terkena dampak kekuatan-kekuatan besar bersamaan harus berkonsentrasi pada melakukan pendaratan menggunakan-tumit kontak pola lengkungan lutut kaki dengan lebih besar bila memungkinkan dan kapanpun praktis (Dufek dan Bates, 1990 ). Meskipun teknik ini memerlukan kekuatan otot yang lebih besar, mungkin lebih menguntungkan dibandingkan dengan pencegahan cedera. Namun, hal ini bisa menghadirkan kesulitan strategis karena mendarat dengan menekuk lutut lebih dapat mencegah pemain dari melaksanakan gerakan berikutnya secara tepat waktu. Para peneliti, dokter, terapis, pelatih, pelatih, dan atlet harus fokus pada faktor-faktor yang dapat dikontrol dalam upaya untuk mengurangi cedera di voli. Yang menjanjikan kemungkinan yang paling tampaknya meningkatkan kekuatan, memperbaiki AC, dan memodifikasi pendaratan-teknik melompat.
KESIMPULAN
Hasil studi ini dapat memberikan praktisi dengan beberapa implikasi penting dalam hal untuk voli teknik pendaratan. Namun, data yang dikumpulkan di sini harus ditafsirkan dengan hati-hati. Meskipun aturan dasar dan strategi kompetisi bola voli tidak sangat bervariasi, pemain pria, kembali pemain baris, keahlian individu yang lebih kecil, atau mereka yang bermain di bawah kondisi yang berbeda (misalnya voli pasir atau tim dengan pemain lebih sedikit) dapat memanfaatkan melompat yang berbeda dan teknik pendaratan. penelitian di masa mendatang harus fokus pada populasi yang berbeda dan kondisi bermain. Meskipun keterbatasan ini, pelatih, pendidik fisik, dan penyedia rekreasi dapat memanfaatkan temuan-temuan dari penyelidikan ini untuk mencegah kemungkinan cedera pada atlet, mahasiswa, atau mereka yang berpartisipasi dalam bola voli untuk tujuan rekreasi. rutinitas latihan Merancang dan urutan yang mengajarkan atlet untuk tanah bilateral tampak sangat penting bagi para profesional pembinaan voli. Pelatih yang menempatkan penekanan pada mendarat dengan baik di kontes intrasquad dan permainan kemungkinan akan mengurangi timbulnya cedera atau stres bersama. Hasil ini dapat memberikan pendidik fisik dengan urutan pengajaran yang tepat dan isyarat ketika mengajar unit voli. Temuan ini juga penting untuk fisik sekolah pendidik SD karena teknik pengajaran arahan yang tepat sebagai keterampilan dasar keterampilan memfasilitasi pelaksanaan yang tepat oleh anak-anak mereka berkembang. Hasil penelitian ini mungkin sangat berguna untuk penyedia rekreasi karena bola voli adalah salah satu olahraga rekreasi bermain yang paling di seluruh dunia. Akhirnya, pelatihan, pengajaran, dan praktisi rekreasi yang memanfaatkan temuan penyelidikan ini dapat membantu mengurangi timbulnya cedera ekstremitas bawah di voli peserta.
POIN KUNCI
Kejadian cedera dalam bola voli hampir setara dengan tingkat cedera dilaporkan untuk hoki es dan sepak bola.
Kebanyakan cedera dalam voli terjadi selama urutan pendaratan melompat, tetapi hanya ada sedikit data tentang teknik pendaratan melompat untuk pemain wanita elit.
Data kami menunjukkan bahwa sebagian besar melompat menggunakan dua kaki, tetapi kira-kira setengah dari pendaratan terjadi dengan hanya satu kaki.
Pelatih, pendidik fisik, dan rekreasi penyedia dapat memanfaatkan temuan-temuan dari penyelidikan ini untuk mencegah kemungkinan cedera pada atlet, mahasiswa, atau mereka yang berpartisipasi dalam bola voli untuk tujuan rekreasi.
Voli telah menjadi salah satu peserta memainkan olahraga yang paling luas di dunia. Partisipasi memerlukan keahlian dalam keterampilan fisik banyak dan kinerja seringkali tergantung pada kemampuan individu untuk melompat dan tanah. Kejadian cedera dalam bola voli adalah sama dengan tarif dilaporkan untuk olahraga yang dianggap menghubungi olahraga fisik yang lebih. Meskipun sumber yang paling umum cedera dalam bola voli adalah urutan pendaratan melompat, ada sedikit penelitian mengenai prevalensi melompat dan mendarat teknik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung jumlah lompatan yang dilakukan oleh pemain voli wanita di pertandingan kompetitif dan untuk menentukan frekuensi relatif dari teknik melompat-arahan yang berbeda. Rekaman Video rekaman dua pertandingan antara empat tim voli dianalisis dalam penelitian ini. Setiap kegiatan dikategorikan berdasarkan jenis melompat (spike menyinggung atau blok defensif) dan fase (melompat atau arahan). Tahap ini subcategorized oleh pola menggunakan kaki (kanan, kiri, atau keduanya). Setiap pemain rata-rata hampir 22 melompat-pendaratan per game. pola penggunaan Kaki terjadi dalam jumlah yang tidak sama (p <0,001) dengan lebih dari 50% dari pendaratan defensif yang terjadi pada satu kaki. Pelatih, pendidik fisik, dan rekreasi penyedia dapat memanfaatkan temuan-temuan dari penyelidikan ini untuk membantu mencegah cedera di voli.
KATA KUNCI: cedera lutut, melompat teknik, perempuan, lompatan, frekuensi
PENDAHULUAN
Olahraga bola voli terus meningkatkan partisipasi sejak awal lebih dari seratus tahun yang lalu. Voli telah menjadi salah satu peserta memainkan olahraga yang paling luas di dunia dengan lebih dari 200 juta pemain (Aagaard et al,. 1997 ; Briner dan Kacmar, 1997 .) Jumlah peserta saingan jumlah peserta sepak bola (250 juta) yang dilaporkan oleh Federation Internationale de Football Association (Dvorak et al,. 2000 ). indikasi lain daya tarik di seluruh dunia segala bentuk voli adalah dimasukkannya voli pantai sebagai olahraga Olimpiade pada tahun 1996. alasan Potensi popularitas bola voli adalah bahwa olahraga memerlukan minimal peralatan dan individu dapat berpartisipasi sepanjang hidup mereka di berbagai tingkat keahlian.'s atletik Wanita adalah salah satu segmen dari masyarakat olahraga yang telah melihat dukungan khusus untuk voli.
Universitas dan perguruan tinggi di Amerika Serikat saat ini sponsor perempuan voli 972 tim (National Collegiate Athletic Association, 2002 ). Voli memiliki tingkat partisipasi tertinggi ketiga di antara gadis-gadis SMA di Amerika Serikat membual 400.000 peserta mengambil bagian setiap tahun (Nasional Federasi Asosiasi Sekolah Tinggi Negara, 2002 ). Bunga meningkat pada voli telah disertai dengan berkembangnya kekhawatiran di kedokteran olahraga masyarakat mengenai kejadian luka (Schafle, 1993 ),. Anehnya kejadian cedera akut (keseleo ligamen misalnya) di bola voli mirip dengan tarif dilaporkan untuk olahraga yang dianggap menghubungi olahraga fisik yang lebih. Bahkan, kejadian cedera dalam bola voli hampir setara dengan yang diamati di hoki es dan sepak bola (Aagaard et al,. 1997 ). Risiko yang melekat untuk cedera dalam bola voli adalah hasil dari dinamis dan balistik sifat dan fakta bahwa voli berduri mungkin berjalan pada kecepatan setinggi 145 km • h -1 (90 mph) (Briner dan Kacmar, 1997 ) partisipasi Sukses. dalam olahraga ini membutuhkan keahlian dalam keterampilan fisik banyak dan kinerja seringkali tergantung pada kemampuan individu untuk mendorong diri mereka sendiri ke udara selama kedua dan defensif manuver ofensif. Gerakan-gerakan ini termasuk melompat melayani, spike, dan blok. Selama pelaksanaan melompat melayani atau spike, pemain melompat tinggi ke udara dan serangan bola pada titik tertinggi melompat mereka dalam upaya untuk menggerakkan bola dengan cepat ke arah sisi lawan yang bersih. Membela diri, pemain barisan depan membela terhadap lonjakan dengan melompat ke udara dengan tangan mereka terangkat dalam upaya untuk menghalangi serangan ofensif. Tidak seperti melompat ofensif, defensif melompat tidak maksimal upaya melompat vertikal. perempuan pemain Elite diperintahkan untuk melompat ke ketinggian yang akan membuat kepala mereka di bawah tingkat atas bersih. Dasar pemikiran untuk strategi ini adalah dua kali lipat. Pertama, penurunan ketinggian melompat vertikal lebih pendek jumlah waktu seorang pembela menghabiskan di udara dan memberikan waktu tambahan dalam kontak dengan tanah untuk manuver. Kedua, melompat ketinggian yang lebih rendah digunakan membela diri memberikan perlindungan untuk wajah dan kepala para pemain.
Penting untuk mempertimbangkan bahwa paku dan blok tidak melompat saja, tetapi melompat-urutan pendaratan. Secara khusus, fase pendaratan membutuhkan disipasi energi kinetik yang dihasilkan selama lompat. mekanika Newton menentukan bahwa kenaikan tinggi melompat (paling lazim dalam pemain bola voli elite) harus disertai dengan peningkatan proporsional dalam energi kinetik yang harus benar diserap untuk menghindari cedera (Dufek dan Zhang, 1996 ). pendaratan ini sering mengakibatkan penciptaan reaksi pasukan darat di urutan lima kali berat badan (Adrian dan Laughlin, 1983 ). Pengaruh merusak kekuatan ini mungkin diperparah ketika mempertimbangkan bahwa seorang pemain barisan depan bisa melompat dan tanah berkali-kali selama pertandingan regulasi.
Mekanisme dan frekuensi cedera dalam bola voli yang menarik dan terdokumentasi dengan baik. The-pendaratan urutan melompat merupakan sumber yang paling umum cedera pada bola voli (Briner dan Kacmar, 1997 ),. Bahkan blocking dan spiking dihubungkan dengan lebih dari 70% dari cedera voli (Watkins dan Green, 1992 ). Lebih khusus, pendaratan teknik yang digunakan dalam bola voli potensial dapat dihubungkan dengan ekstremitas penyerapan energi yang lebih rendah dan kemungkinan cedera (Dufek dan Zhang, 1996 ) dan. Stacoff kolega, ( 1988 ) menemukan dampak gaya vertikal awal kira-kira 1 sampai 2 BW di touchdown kaki depan untuk laki-laki melakukan blok. menghubungi Heel menghasilkan kekuatan puncak kedua berkisar antara 1 BW untuk 7BW. Para penulis mengamati bahwa tinggi kenaikan ini adalah kurang penting daripada sudut lutut dalam memperkirakan besarnya gaya dengan ekstensi lutut meningkat menghasilkan kekuatan lebih selama pendaratan. Dengan demikian, teknik memainkan peran penting selama mendarat di voli.
dan gerakan mendarat Jumping fitur fundamental dari kegiatan olahraga dan telah mendapat perhatian penelitian yang cukup besar. Penelitian sebelumnya saat mendarat telah berkonsentrasi pada implikasi dampak dan beban yang dihasilkan ditempatkan pada tubuh serta potensi cedera berbagai situasi pendaratan. Sebagai contoh, Kovacs dan rekan, ( 1997 ) menunjukkan bahwa teknik pendaratan yang digunakan oleh individu (kaki depan vs tumit-toe arahan) memiliki implikasi signifikan mengenai pasukan dikirimkan ke tubuh dan kemampuan tubuh untuk mengusir kekuatan-kekuatan. Oleh karena itu, dan arahan teknik melompat digunakan oleh pemain bola voli dapat mempengaruhi kemungkinan mereka cedera selama urutan pendaratan melompat. Ferretti et al., ( 1992 ) hipotesis bahwa tingginya jumlah melompat dan kemungkinan kehilangan keseimbangan karena penyimpangan dalam melompat teknik adalah penyebab utama dari cedera selama voli (Ferretti et al., 1992 ) luas. Sebagian besar (90% ) cedera voli terjadi pada tungkai bawah dengan lutut sendi yang sangat rentan (Gerberich et al,. 1987 ) cedera lutut. ini sangat penting karena mereka berhubungan dengan waktu kehilangan lebih dari partisipasi olahraga daripada situs cedera lain (Solgård et al ,. 1995 ).
Meskipun diketahui bahwa cedera lutut adalah masalah umum di voli dan teknik yang mempengaruhi besarnya kekuatan diteruskan ke tungkai bawah selama pendaratan, ada sedikit penelitian mengenai prevalensi melompat dan mendarat teknik dalam bola voli wanita elit. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung jumlah melompat dilakukan oleh elit pemain voli wanita dalam pertandingan kompetitif dan untuk menentukan frekuensi relatif dari teknik melompat yang berbeda. Tujuan sekunder dari penelitian ini adalah untuk membahas implikasi bagi para profesional pendidikan jasmani, pelatih, dan peneliti.
METODE
Rekaman Video rekaman dua pertandingan antara empat Divisi NCAA tim wanita voli IA dianalisis dalam penelitian ini. Keempat tim dianggap elit (di peringkat 25 teratas di Amerika Serikat) pada saat pertandingan itu dimainkan (musim gugur 2000). Setiap pertandingan berlangsung empat pertandingan. Tim yang paling dekat dengan kamera video dipelajari selama setiap pertandingan,. Dengan demikian dua game dari setiap pertandingan dianalisis setiap tim karena tim beralih sisi setelah setiap pertandingan. Permainan yang dimainkan di lapangan keras dengan konvensional enam tim pemain. pemain baris Front melakukan mayoritas melompat voli dan pendaratan. Dengan demikian, pemain barisan depan menjadi fokus utama dari penelitian ini. Namun, paku menyinggung yang dieksekusi dari belakang juga dimasukkan dalam analisis.
Setiap video diputar secara manual (bingkai demi bingkai) untuk mengamati secara akurat beberapa aspek kegiatan melompat. Setiap kegiatan dikategorikan berdasarkan jenis melompat (ofensif atau defensif) dan fase (melompat atau arahan). Serangan melompat terutama paku dan melompat defensif sebagian besar blok, tapi barisan depan melompat lain (dirancang untuk menipu lawan) terjadi dan termasuk dalam proses pengkodean. Kegiatan ini dipilih karena mereka yang paling mungkin mengakibatkan cedera. Tahap selanjutnya subcategorized dengan pola menggunakan kaki (kaki kanan, kaki kiri, atau kedua kaki). Setiap faktor mencetak secara kategoris (kaki kanan = 1, kaki kiri = 2, kedua kaki = 3). Melompat dikategorikan sebagai 'kedua kaki' jika kanan dan kaki kiri datang dari tanah secara bersamaan. Jika salah satu kaki kiri tanah satu frame (33ms) depan yang lain kemudian melompat itu skor unilateral (kanan atau kiri). Sebuah konvensi mirip digunakan untuk pendaratan kode. Pendaratan dikategorikan sebagai 'kedua kaki' jika kanan dan kaki kiri dihubungi tanah dalam bingkai video yang sama. Karena sifat kategoris data, teknik nonparametrik (chi-square) dipilih sebagai alat analisis. Lebih khusus lagi, chi-square ini dirancang untuk mengevaluasi apakah jumlah kasus di masing-masing kategori berbeda dari apa yang diharapkan atas dasar kesempatan (Thomas dan Nelson, 1990 ). Empat analisis chi-square dilakukan untuk menentukan apakah kaki menggunakan pola (kanan, kiri, atau keduanya) bervariasi menurut tipe melompat (ofensif atau defensif) dan fase (melompat atau arahan) ( = 0,05),. Karena menggunakan kaki tiga pola itu mungkin, diasumsikan bahwa 33% dari melompat setiap jenis dan fase akan terjadi dengan hak kaki 33% untuk kiri, dan 33% untuk kedua kaki.
HASIL
Selama pertandingan permainan, empat, 1087 (484 ofensif dan defensif 603) melompat dan pendaratan berikutnya dievaluasi. Dua puluh lima barisan depan pemain yang berbeda melakukan kegiatan melompat. Rata-rata, masing-masing pemain belajar mati hampir 45 melompat dan selanjutnya pendaratan untuk dua pertandingan dianalisis. Jumlah maksimum pendaratan-urutan melompat diamati selama periode permainan dua adalah 73.
Frekuensi relatif dari pola penggunaan kaki terjadi dalam jumlah yang tidak setara selama melompat ofensif dan pendaratan. Mayoritas (408) dari melompat ofensif dilakukan dengan menggunakan kedua kaki ( 2 (2) = 576,1, p <0,001). Enam puluh tujuh melompat ofensif dilakukan dengan kaki kiri dan sembilan sisanya dilakukan dengan benar. Demikian pula, ofensif pendaratan sebagian besar (269) dilakukan secara bilateral dengan kedua kaki melakukan kontak dengan tanah secara bersamaan ( 2 (2) = 153,2, p <0,001). Dari pendaratan sepihak, sekitar 35% (168) yang terlibat kaki kiri pendaratan pertama sedangkan 10% (47) digunakan pertama teknik kaki kanan. Lihat Gambar 1 .
pola penggunaan Kaki juga didistribusikan merata untuk melompat defensif dan pendaratan. Kedua kaki digunakan untuk mendorong para pemain ke udara di lebih dari 99% (597) dari melompat defensif ( 2 (2) = 1170,3, p <0,001). Hanya empat melompat defensif dilakukan dengan menggunakan kaki kiri dan dua dengan kanan. Demikian juga ketika mendarat dari lompatan defensif, pola dua kaki bilateral adalah yang paling umum (342) diikuti dengan pendaratan kaki kanan (163) dan kiri pendaratan kaki (98) ( 2 (2) = 158,9, p <0,001). Hasil muncul di Figure2 .
DISKUSI
Penelitian ini dirancang untuk mengevaluasi dan arahan teknik melompat digunakan oleh ahli pemain voli wanita. Secara khusus, jumlah melompat dilakukan oleh elit pemain voli wanita dalam pertandingan kompetitif adalah terukur dan frekuensi relatif dari teknik melompat yang berbeda ditentukan. Kombinasi dari pendaratan-strategi melompat terjadi dalam jumlah yang tidak proporsional.
Hampir semua dan defensif melompat ofensif yang dilakukan oleh elit pemain bola voli wanita dijalankan menggunakan kedua kaki. Melompat dengan kedua kaki affords atlet dan stabil lebar dasar dukungan untuk produksi kekuatan dan lompatan vertikal kinerja maksimal. Oleh karena itu, sangat sedikit cedera terjadi selama tahap melompat blok atau paku. Sebaliknya, hampir separuh dari seluruh pendaratan di perempuan voli elit memanfaatkan teknik pendaratan sepihak. Kecenderungan ini dapat diamati sangat penting bila kita menganggap bahwa mekanisme yang paling sering dari cedera lutut di bola voli mendarat sepihak dari melompat (Kovacs et al,. 1997 ). yang tinggi relatif dari pendaratan sepihak dapat menyebabkan hilangnya keseimbangan dan selanjutnya cedera. Schafle, ( 1993 ) menyatakan bahwa pendaratan sepihak sesekali meningkatkan kemungkinan kekacauan ligamen lutut. Mekanis berbicara, pendaratan ini sepihak membahayakan dahan pendaratan karena dahan tunggal harus menghilangkan energi yang diciptakan oleh dua anggota tubuh selama fase melompat. Sebagaimana ditunjukkan dalam igure F 3 , situasi ini dapat menyebabkan resiko tinggi alignment tungkai bawah disebut sebagai "Posisi of no return" (Irlandia, 1999 ):. berbahaya ini orientasi saat mendarat ditandai dengan mengikuti sifat ke depan tertekuk dan diputar kembali, pinggul adduksi dan internal rotasi, fleksi lutut dan positioning valgus, rotasi tibial eksternal, dan kekurangan kontrol dari kaki yang berlawanan. Dalam posisi ini, otot-otot yang biasanya akan membantu atlet tetap tegak tidak dapat berfungsi dengan baik karena mereka bekerja di sebuah kerugian mekanis, yang mengarah pada kecenderungan yang lebih besar untuk cedera (Irlandia, 1999 ).
Menariknya, mayoritas pendaratan sepihak akibat melompat ofensif berlangsung dengan kaki kiri dan mayoritas pendaratan sepihak akibat melompat defensif yang dilakukan dengan kaki kanan. Hasil ini mungkin terkait dengan kenyataan bahwa mayoritas penduduk (pemain bola voli termasuk) adalah tangan kanan. Sebagai contoh, ketika tangan kanan lonjakan pemain bola, tujuan mereka adalah untuk mencapai setinggi mungkin dengan tangan kanan untuk memukul bola ke bawah. Akibatnya, batang tersebut tertekuk ke kiri. Hal ini menimbulkan fleksi lateral sisi kanan tubuh dan dapat mengakibatkan kontak pertama kaki kiri setelah pendaratan. Tingginya jumlah relatif dari kontak pertama kaki kanan oleh pemain defensif bisa dalam menanggapi membela spikers tangan kanan. Wenangan dan aktivitas swing arm tidak dicatat untuk studi ini, tetapi harus ditangani dalam penelitian masa depan.
Mencegah cedera sulit dalam bola voli karena pada dasarnya merupakan olahraga berisiko relatif tinggi terhadap sendi lutut. Penguatan seluruh tungkai bawah adalah intervensi kemungkinan yang akan memungkinkan jumper untuk menghilangkan energi dari pendaratan melalui otot-otot, bukan tulang dan ligamen (Schafle, 1993 ). Strategi lain yang diusulkan oleh Briner pencegahan dan Kacmar, ( 1997 ) adalah bahwa atlet harus diberitahukan tentang pentingnya teknik pendaratan dan pentingnya mendarat dengan menekuk lutut sedikit tertekuk dan kaki plantar. Ini posisi di kontak akan memberikan berbagai macam gerak untuk sendi ekstremitas bawah untuk memanfaatkan untuk mengusir pasukan darat reaksi. Hal ini bertepatan dengan karya Zhang et al., ( 2000 ) yang melaporkan bahwa lutut ekstensor dan fleksor plantar sendi berfungsi sebagai dissipaters energi primer saat mendarat.
pelatihan fisik (relatif terhadap kekuatan dan teknik) mungkin yang praktis dan efektif modalitas yang paling untuk mencegah cedera yang berkaitan dengan arahan dari melompat. Efek positif dari pelatihan telah dilaporkan oleh Hewett dan rekan, ( 1996 ). Dalam studi mereka, atlet perempuan berpartisipasi dalam pelatihan melompat ptiometrik selama 6 minggu. Setelah pelatihan, pasukan arahan maksimum selama blok berkurang sebesar 22%. Selain itu, adduksi dan penculikan saat mengalami penurunan sebesar 50%. Perbaikan ini bisa mencegah atlet dari mencapai "posisi yang tidak kembali" dan kemudian menurunkan kejadian cedera pada populasi ini. Menariknya, tidak ada perubahan dalam kinerja lompatan vertikal terdeteksi setelah pelatihan. Dengan demikian, tampak bahwa pelatihan dapat meningkatkan mekanik mendarat tanpa mengurangi kinerja. Mengenai teknik, atlet yang secara teratur melakukan pendaratan dan yang terkena dampak kekuatan-kekuatan besar bersamaan harus berkonsentrasi pada melakukan pendaratan menggunakan-tumit kontak pola lengkungan lutut kaki dengan lebih besar bila memungkinkan dan kapanpun praktis (Dufek dan Bates, 1990 ). Meskipun teknik ini memerlukan kekuatan otot yang lebih besar, mungkin lebih menguntungkan dibandingkan dengan pencegahan cedera. Namun, hal ini bisa menghadirkan kesulitan strategis karena mendarat dengan menekuk lutut lebih dapat mencegah pemain dari melaksanakan gerakan berikutnya secara tepat waktu. Para peneliti, dokter, terapis, pelatih, pelatih, dan atlet harus fokus pada faktor-faktor yang dapat dikontrol dalam upaya untuk mengurangi cedera di voli. Yang menjanjikan kemungkinan yang paling tampaknya meningkatkan kekuatan, memperbaiki AC, dan memodifikasi pendaratan-teknik melompat.
KESIMPULAN
Hasil studi ini dapat memberikan praktisi dengan beberapa implikasi penting dalam hal untuk voli teknik pendaratan. Namun, data yang dikumpulkan di sini harus ditafsirkan dengan hati-hati. Meskipun aturan dasar dan strategi kompetisi bola voli tidak sangat bervariasi, pemain pria, kembali pemain baris, keahlian individu yang lebih kecil, atau mereka yang bermain di bawah kondisi yang berbeda (misalnya voli pasir atau tim dengan pemain lebih sedikit) dapat memanfaatkan melompat yang berbeda dan teknik pendaratan. penelitian di masa mendatang harus fokus pada populasi yang berbeda dan kondisi bermain. Meskipun keterbatasan ini, pelatih, pendidik fisik, dan penyedia rekreasi dapat memanfaatkan temuan-temuan dari penyelidikan ini untuk mencegah kemungkinan cedera pada atlet, mahasiswa, atau mereka yang berpartisipasi dalam bola voli untuk tujuan rekreasi. rutinitas latihan Merancang dan urutan yang mengajarkan atlet untuk tanah bilateral tampak sangat penting bagi para profesional pembinaan voli. Pelatih yang menempatkan penekanan pada mendarat dengan baik di kontes intrasquad dan permainan kemungkinan akan mengurangi timbulnya cedera atau stres bersama. Hasil ini dapat memberikan pendidik fisik dengan urutan pengajaran yang tepat dan isyarat ketika mengajar unit voli. Temuan ini juga penting untuk fisik sekolah pendidik SD karena teknik pengajaran arahan yang tepat sebagai keterampilan dasar keterampilan memfasilitasi pelaksanaan yang tepat oleh anak-anak mereka berkembang. Hasil penelitian ini mungkin sangat berguna untuk penyedia rekreasi karena bola voli adalah salah satu olahraga rekreasi bermain yang paling di seluruh dunia. Akhirnya, pelatihan, pengajaran, dan praktisi rekreasi yang memanfaatkan temuan penyelidikan ini dapat membantu mengurangi timbulnya cedera ekstremitas bawah di voli peserta.
POIN KUNCI
Kejadian cedera dalam bola voli hampir setara dengan tingkat cedera dilaporkan untuk hoki es dan sepak bola.
Kebanyakan cedera dalam voli terjadi selama urutan pendaratan melompat, tetapi hanya ada sedikit data tentang teknik pendaratan melompat untuk pemain wanita elit.
Data kami menunjukkan bahwa sebagian besar melompat menggunakan dua kaki, tetapi kira-kira setengah dari pendaratan terjadi dengan hanya satu kaki.
Pelatih, pendidik fisik, dan rekreasi penyedia dapat memanfaatkan temuan-temuan dari penyelidikan ini untuk mencegah kemungkinan cedera pada atlet, mahasiswa, atau mereka yang berpartisipasi dalam bola voli untuk tujuan rekreasi.
Langganan:
Postingan (Atom)