Tampilkan postingan dengan label OLAHRAGA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OLAHRAGA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Juni 2015

Hakikat Pendidikan Jasmani

Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, mahluk total, daripada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.
 Pada kenyataannya, pendidikan jasmani adalah suatu bidang kajian yang sungguh luas. Titik perhatiannya adalah peningkatan gerak manusia. Lebih khusus lagi, penjas berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainnya: hubungan dari perkembangan tubuh-fisik dengan pikiran dan jiwanya. Fokusnya pada pengaruh perkembangan fisik terhadap wilayah pertumbuhan dan perkembangan aspek lain dari manusia itulah yang menjadikannya unik. Tidak ada bidang tunggal lainnya seperti pendidikan jasmani yang berkepentingan dengan perkembangan total manusia.
 Per definisi, pendidikan jasmani diartikan dengan berbagai ungkapan dan kalimat. Namun esensinya sama, yang jika disimpulkan bermakna jelas, bahwa pendidikan jasmani memanfaatkan alat fisik untuk mengembangan keutuhan manusia. Dalam kaitan ini diartikan bahwa melalui fisik, aspek mental dan emosional pun turut terkembangkan, bahkan dengan penekanan yang cukup dalam. Berbeda dengan bidang lain, misalnya pendidikan moral, yang penekanannya benar-benar pada perkembangan moral, tetapi aspek fisik tidak turut terkembangkan, baik langsung maupun secara tidak langsung.
 Karena hasil-hasil kependidikan dari pendidikan jasmani tidak hanya terbatas pada manfaat penyempurnaan fisik atau tubuh semata, definisi penjas tidak hanya menunjuk pada pengertian tradisional dari aktivitas fisik. Kita harus melihat istilah pendidikan jasmani pada bidang yang lebih luas dan lebih abstrak, sebagai satu proses pembentukan kualitas pikiran dan juga tubuh.
                  
 Sungguh, pendidikan jasmani ini karenanya harus menyebabkan perbaikan dalam ‘pikiran dan tubuh’ yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan harian seseorang. Pendekatan holistik tubuh-jiwa ini termasuk pula penekanan pada ketiga domain kependidikan: psikomotor, kognitif, dan afektif. Dengan meminjam ungkapan Robert Gensemer, penjas diistilahkan sebagai proses menciptakan “tubuh yang baik bagi tempat pikiran atau jiwa.” Artinya, dalam tubuh yang baik ‘diharapkan’ pula terdapat jiwa yang sehat, sejalan dengan pepatah Romawi Kuno: Men sana in corporesano.

Kesatuan Jiwa dan Raga
Salah satu pertanyaan sulit di sepanjang jaman adalah pemisahan antara jiwa dan raga atau tubuh. Kepercayaan umum menyatakan bahwa jiwa dan raga terpisah, dengan penekanan berlebihan pada satu sisi tertentu, disebut dualisme, yang mengarah pada penghormatan lebih pada jiwa, dan menempatkan kegiatan fisik secara lebih inferior.
 Pandangan yang berbeda lahir dari filsafat monisme, yaitu suatu kepercayaan yang memenangkan kesatuan tubuh dan jiwa. Kita bisa melacak pandangan ini dari pandangan Athena Kuno, dengan konsepnya “jiwa yang baik di dalam raga yang baik.” Moto tersebut sering dipertimbangkan sebagai pernyataan ideal dari tujuan pendidikan jasmani tradisional: aktivitas fisik mengembangkan seluruh aspek dari tubuh; yaitu jiwa, tubuh, dan spirit. Tepatlah ungkapan Zeigler bahwa fokus dari bidang pendidikan jasmani adalah aktivitas fisik yang mengembangkan, bukan semata-mata aktivitas fisik itu sendiri. Selalu terdapat tujuan pengembangan manusia dalam program pendidikan jasmani.
Akan tetapi, pertanyaan nyata yang harus dikedepankan di sini bukanlah ‘apakah kita percaya terhadap konsep holistik tentang pendidikan jasmani, tetapi, apakah konsep tersebut saat ini bersifat dominan dalam masyarakat kita atau di antara pengemban tugas penjas sendiri?
 Dalam masyarakat sendiri, konsep dan kepercayaan terhadap pandangan dualisme di atas masih kuat berlaku. Bahkan termasuk juga pada sebagian besar guru penjas sendiri, barangkali pandangan demikian masih kuat mengakar, entah akibat dari kurangnya pemahaman terhadap falsafah penjas sendiri, maupun karena kuatnya kepercayaan itu. Yang pasti, masih banyak guru penjas yang sangat jauh dari menyadari terhadap peranan dan fungsi pendidikan jasmani di sekolah-sekolah, sehingga proses pembelajaran penjas di sekolahnya masih lebih banyak ditekankan pada program yang berat sebelah pada aspek fisik semata-mata. Bahkan, dalam kasus Indonesia, penekanan yang berat itu masih dipandang labih baik, karena ironisnya, justru program pendidikan jasmani di kita malahan tidak ditekankan ke mana-mana. Itu karena pandangan yang sudah lebih parah, yang memandang bahwa program penjas dipandang tidak penting sama sekali.
Nilai-nilai yang dikandung penjas untuk mengembangkan manusia utuh menyeluruh, sungguh masih jauh dari kesadaran dan pengakuan masyarakat kita. Ini bersumber dan disebabkan oleh kenyataan pelaksanaan praktik penjas di lapangan. Teramat banyak kasus atau contoh di mana orang menolak manfaat atau nilai positif dari penjas dengan menunjuk pada kurang bernilai dan tidak seimbangnya program pendidikan jasmani di lapangan seperti yang dapat mereka lihat. Perbedaan atau kesenjangan antara apa yang kita percayai dan apa yang kita praktikkan (gap antara teori dan praktek) adalah sebuah duri dalam bidang pendidikan jasmani kita.
 Hubungan Pendidikan Jasmani dengan Bermain dan Olahraga
 Dalam memahami arti pendidikan jasmani, kita harus juga mempertimbangkan hubungan antara bermain (play) dan olahraga (sport), sebagai istilah yang lebih dahulu populer dan lebih sering digunakan dalam konteks kegiatan sehari-hari. Pemahaman tersebut akan membantu para guru atau masyarakat dalam memahami peranan dan fungsi pendidikan jasmani secara lebih konseptual.
 Bermain pada intinya adalah aktivitas yang digunakan sebagai hiburan. Kita mengartikan bermain sebagai hiburan yang bersifat fisikal yang tidak kompetitif, meskipun bermain tidak harus selalu bersifat fisik. Bermain bukanlah berarti olahraga dan pendidikan jasmani, meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan di dalam keduanya.
 Olahraga di pihak lain adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif. Beberapa ahli memandang bahwa olahraga semata-mata suatu bentuk permainan yang terorganisasi, yang menempatkannya lebih dekat kepada istilah pendidikan jasmani. Akan tetapi, pengujian yang lebih cermat menunjukkan bahwa secara tradisional, olahraga melibatkan aktivitas kompetitif.
 Ketika kita menunjuk pada olahraga sebagai aktivitas kompetitif yang terorganisir, kita mengartikannya bahwa aktivitas itu sudah disempurnakan dan diformalkan hingga kadar tertentu, sehingga memiliki beberapa bentuk dan proses tetap yang terlibat. Peraturan, misalnya, baik tertulis maupun tak tertulis, digunakan atau dipakai dalam aktivitas tersebut, dan aturan atau prosedur tersebut tidak dapat diubah selama kegiatan berlangsung, kecuali atas kesepakatan semua pihak yang terlibat.
 Di atas semua pengertian itu, olahraga adalah aktivitas kompetitif. Kita tidak dapat mengartikan olahraga tanpa memikirkan kompetisi, sehingga tanpa kompetisi itu, olahraga berubah menjadi semata-mata bermain atau rekreasi. Bermain, karenanya pada satu saat menjadi olahraga, tetapi sebaliknya, olahraga tidak pernah hanya semata-mata bermain; karena aspek kompetitif teramat penting dalam hakikatnya.
 Di pihak lain, pendidikan jasmani mengandung elemen baik dari bermain maupun dari olahraga, tetapi tidak berarti hanya salah satu saja, atau tidak juga harus selalu seimbang di antara keduanya. Sebagaimana dimengerti dari kata-katanya, pendidikan jasmani adalah aktivitas jasmani yang memiliki tujuan kependidikan tertentu. Pendidikan Jasmani bersifat fisik dalam aktivitasnya dan penjas dilaksanakan untuk mendidik. Hal itu tidak bisa berlaku bagi bermain dan olahraga, meskipun keduanya selalu digunakan dalam proses kependidikan.
 Bermain, olahraga dan pendidikan jasmani melibatkan bentuk-bentuk gerakan, dan ketiganya dapat melumat secara pas dalam konteks pendidikan jika digunakan untuk tujuan-tujuan kependidikan. Bermain dapat membuat rileks dan menghibur tanpa adanya tujuan pendidikan, seperti juga olahraga tetap eksis tanpa ada tujuan kependidikan. Misalnya, olahraga profesional (di Amerika umumnya disebut athletics) dianggap tidak punya misi kependidikan apa-apa, tetapi tetap disebut sebagai olahraga. Olahraga dan bermain dapat eksis meskipun secara murni untuk kepentingan kesenangan, untuk kepentingan pendidikan, atau untuk kombinasi keduanya. Kesenangan dan pendidikan tidak harus dipisahkan secara eksklusif; keduanya dapat dan harus beriringan bersama.
Lalu bagaimana dengan rekreasi dan dansa (dance)?
 Para ahli memandang bahwa rekreasi adalah aktivitas untuk mengisi waktu senggang. Akan tetapi, rekreasi dapat pula memenuhi salah satu definisi “penggunaan berharga dari waktu luang.” Dalam pandangan itu, aktivitas diseleksi oleh individu sebagai fungsi memperbaharui ulang kondisi fisik dan jiwa, sehingga tidak berarti hanya membuang-buang waktu atau membunuh waktu. Rekreasi adalah aktivitas yang menyehatkan pada aspek fisik, mental dan sosial. Jay B. Nash menggambarkan bahwa rekreasi adalah pelengkap dari kerja, dan karenanya merupakan kebutuhan semua orang.
 Dengan demikian, penekanan dari rekreasi adalah dalam nuansa “mencipta kembali” (re-creation) orang tersebut, upaya revitalisasi tubuh dan jiwa yang terwujud karena ‘menjauh’ dari aktivitas rutin dan kondisi yang menekan dalam kehidupan sehari-hari. Landasan kependidikan dari rekreasi karenanya kini diangkat kembali, sehingga sering diistilahkan dengan pendidikan rekreasi, yang tujuan utamanya adalah mendidik orang dalam bagaimana memanfaatkan waktu senggang mereka.
 Sedangkan dansa adalah aktivitas gerak ritmis yang biasanya dilakukan dengan iringan musik, kadang dipandang sebagai sebuah alat ungkap atau ekspresi dari suatu lingkup budaya tertentu, yang pada perkembangannya digunakan untuk hiburan dan memperoleh kesenangan, di samping sebagai alat untuk menjalin komunikasi dan pergaulan, di samping sebagai kegiatan yang menyehatkan.
 Di Amerika, dansa menjadi bagian dari program pendidikan jasmani, karena dipandang sebagai alat untuk membina perbendaharaan dan pengalaman gerak anak, di samping untuk meningkatkan kebugaran jasmani serta pewarisan nilai-nilai. Meskipun menjadi bagian penjas, dansa sendiri masih dianggap sebagai cabang dari seni. Kemungkinan bahwa dansa digunakan dalam penjas terutama karena hasilnya yang mampu mengembangkan orientasi gerak tubuh. Bahkan ditengarai bahwa aspek seni dari dansa dipandang mampu mengurangi kecenderungan penjas agar tidak terlalu berorientasi kompetitif dengan memasukkan unsur estetikanya. Jadi sifatnya untuk melengkapi fungsi dan peranan penjas dalam membentuk manusia yang utuh seperti diungkap di bagian-bagian awal naskah ini.

Senin, 01 April 2013

MENTAL IMAGERY

Apakah Mental Imagery Kata “mental imagery” dalam psikologi kognitif merupakan suatu representasi situasi lingkungan dalam kognisi atau pikiran seseorang. Sebagai suatu bentuk representasi mental, seseorang akan mencoba untuk membayangkan, menggambarkan suatu situasi seolah ia sedang melakukan suatu tindakan tindakan tertentu atau berada di dalam lingkungan tertentu. Mental imagery, ada juga yang mengatakan sebagai visualisasi dan mental rehearsal merupakan pengalaman yang dalam persepsi seseorang, dan terjadinya tanpa kehadiran rangsangan langsung (Annie Plessinger, 2007). Definisi Representasi Mental Representasi mental sangat erat hubungannya dengan pembentukan pengalaman di pikiran, yang umumnya terkait dengan proses penggambaran mental. Penggambaran mental (mental imagery) (yang dalam keseharian sering disebut dengan istilah “visualisasi”, “melihat dengan mata mental”, “mendengar (di) dalam kepala”, “membayangkan rasa” atau yang lainnya) merupakan pengalaman serupa-perseptual (quasi-perceptual), namun terjadi tanpa adanya stimulus eksternal. Pengalaman perseptual merupakan pengalaman yang terjadi di luar pikiran individu yang dapat dipahami (perceive) melalui panca indra. Penggambaran mental sering diyakini pula terjadi secara diniatkan, contohnya gambaran mental selalu merupakan gambar dari sesuatu, sehingga merupakan salah satu bentuk representasi secara mental. Pemahaman sebelumnya mengenai penggambaran mental secara visual, bentukan representasi yang paling sering diulas, diyakini disebabkan oleh kehadiran gambar yang menyerupai representasi (gambaran mental) di pikiran, jiwa atau otak, namun pemahaman tersebut tidak lagi diterima secara universal. Makna dan konotasi dari penggambaran mental Penggambaran mental merupakan aspek keseharian dari pengalaman individu (Galton 1880). Sedikit individu yang menyatakan bahwa dirinya jarang atau bahkan tidak pernah secara sadar mengalami penggambaran mental (Galton, 1880). Bagi mayoritas individu hal ini merupakan karakteristik umum terkait dengan pengalaman yang terjadi di pikiran. Bahasa pun menyajikan kosa kata terkait dengan pengalaman ini, seperti; ‘visualisasi’, ‘melihat melalui mata mental’, ‘mendapatkan gambar di pikiran’, ‘pengambaran’, ‘melihat gambaran mental’ dan lainnya. Sangat sedikit jumlah mekanisme yang membahas mengenai fenomena serupa penggambaran pada modus sensorik lainnya, dan terdapat sedikit keraguan apakah hal tersebut dapat terjadi. Pengalaman serupa-penggambaran melalui modus sensorik selain visual sering dinyatakan sebagai ‘pembayangan’ (imagining) seperti sensasi rasa, aroma atau rasa pengecapan. Secara alternatif, karakteristik serupa-perseptual (quasi-perceptual) terhadap pengalaman perseptual dapat dinyatakan menggunakan bahasa sensorik yang berpadanan, contohnya ‘melihat’, ‘mendengar’, ‘merasakan’ atau yang lainnya. Terlepas dari familiaritas dalam pengalaman, arti sesungguhnya dari ekspresi ‘penggambaran mental’ (mental imagery) relatif sulit untuk dinyatakan secara definitif dan perbedaan pemahaman terkait hal ini sering kali menambah kerancuan yang telah ada pada perdebatan panjang dan kompleks di kalangan filusuf, psikolog, dan ilmuwan bidang kognitif lainnya mengenai karakteristik dari penggambaran yang terjadi, fungsi psikologisnya (jika ada), bahkan pada keberadaannya penggambaran itu sendiri. Pada literatur filosofis dan ilmiah, ekspresi dari ‘penggambaran mental’ digunakan pada berbagai hal berikut (sering kali dinyatakan secara eksplisit): (1) Pengalaman sadar yang serupa-peseptual (2) Representasi menyerupai gambar yang bersifat hipotesis di pikiran dan/atau di otak yang memunculkan hal (1) (3) Representasi internal dari berbagai jenis (menyerupai gambar atau lainnya) yang secara langsung memunculkan hal (1) Telah banyak diskusi terkait dengan penggambaran mental visual yang gagal memberikan perbedaan definitif antara keyakinan bahwa individu memiliki pengalaman serupa-visual (quasi-visual) dan keyakinan bahwa pengalaman tersebut perlu dijelaskan dengan keberadaan representasi di pikiran atau di otak, yang mana pada beberapa aspek dapat menyerupai gambar. Teori gambar (pictorial theory) mengenai penggambaran secara mendalam terpatri dalam bahasa dan psikologi populer. Bahkan kota kata ‘image’ (bentukan dasar dari ‘imagine’, ‘imagining’) menyiratkan keberadaan gambar. Walaupun mayoritas dari individu dan para pakar kemungkinan tetap terus menerima sebagian dari teori gambar, banyak filusuf dan psikolog dari abad ke-20, dengan berbagai latar belakang teori, berargumen menentang hal tersebut. Bahkan pada beberapa kasus, mereka telah mengembangkan alternatif lain yang cukup mendetil, karakteristik tanpa gambar dan penyebab dari pengalaman penggambaran (imagery experience) (e.g., Sartre, 1940; Ryle, 1949; Pylyshyn, 1973, 1981, 2002a; Neisser, 1976; Slezak, 1995; Thomas, 1999b). Berbagai pihak lain juga perlu dicantumkan yang telah mengembangkan dan mempertahankan teori gambar secara memuaskan dalam menjawab berbagai kritik tersebut, misalnya Kosslyn, 1980, 1994; Tye, 1991. Namun terlepas dari berbagai pengembangan tersebut, banyak dari diskusi filosofi dan ilmiah mengenai penggambaran dan fungsi kognitif dapat atau tidak didasarkan pada asumsi yang sering kali tidak ternyatakan (dan tidak teruji), jika ada penggambaran mental, hal itu harus melibatkan gambar internal. Bentukan lain di mana ekspresi ‘penggambaran mental’ (bersama dengan berbagai sinonimnya dalam keseharian) dapat saja salah arah, bahwasannya hal tersebut cenderung mengacu hanya pada fenomena serupa-visual (quasi-visual). Terlepas dari kenyataan bahwa kebanyakan diskusi ilmiah terkait dengan penggambaran, yang terjadi di masa lampau dan masa kini, berfokus secara ekslusif hanya pada modus visual, namun pengalaman serupa-perseptual (quasi-perceptual) pada modus sensorik lainnya juga sama nyatanya dan sering kali seawam dan sama pentingnya ditinjau dari aspek psikologis. Para peneliti bidang kognitif kontemporer secara umum mengenali hal ini, dan studi yang menarik dari penggambaran audio (auditory imagery), penggambaran kinestetik (kinaesthetic (or motor) imagery), penggambaran aroma (olfactory imagery), penggambaran sentuhan (haptic (touch) imagery) dan lainnya, dapat dijumpai pada beberapa literatur ilmiah terkini. Namun berbagai studi tersebut masih lebih sedikit secara kuantitas dibandingkan studi yang terkait dengan penggambaran secara visual. Namun demikian ‘penggambaran’ telah menjadi terminologi yang diterima, diantara ilmuwan kognitif, untuk pengalaman serupa-perseptual pada berbagai modus pengindraan (atau kombinasi di antara berbagai modus pengindraan). Cara Latihan Mental Imagery Rainner Martens, seorang psikolog olahraga, menyatakan ada tiga tahapan yang penting dalam melakukan imagery. 1.Mengembangkan seluruh kesadaran sensorynya. Ketika seseorang melakukan imagery, mereka tidak hanya memvisualisasikan situasi yang dibayangkan, melainkan juga meningkatkan seluruh kesadaran sensorinya sehingga ia seolah berada dalam situasi yang senyatanya. 2.Mengembangkan vividness(gamblang/jelas/hidup). Bayangan yang dibuat seolah harus hidup dan jelas lokasi, tempat, dan juga apa yang dilakukannya. 3.Mengembangkan rencana untuk mengontrol perilaku. Meskipun imagery berguna bagi atlet, teknik ini juga dapat merusak performance atle apabila tidak dikendalikan. Pengendalian dimaksudkan untuk memilik maha imagery yang harus dipilih dan mana yang tidak perlu dipilih. Misal. Kalau atlet dalam ber-imagery banyak membanyangkan hal yang salah, atau kekalahan, maka justru al itu akan berakibat buruk bagi atlet. Dalam melakukan mental imagery, seorang atlet harus melihat dirinya dengan senang hati melakukan aktivitas dan merasakan apa yang terjadi secara penuh perasaan. Mereka harus mencoba ketika memasuki lingkungan atau melakukan aktivitas menajamkan penglihatannya, pendengarannya, perasaannya, penciumannya, dan melakukan tindakan seolah ia melakukan dalam situasi yang sebenarnya. Untuk bisa melakukan penajaman indera, seorang atlet perlu berada dalam kondisi relaks dan pikirannya bisa dikonsentrasikan pada latihan tersebut. Kedua hal tersebut sangat penting karena dengan rileks, seorang akan dengan mudah adaptasi dan memasuki suatu lingkungan yang baru, dan dengan konsentrasi seseorang akan mudah memfokuskan pikiran, dan perasaan pada situasi yang dibayangkannya. MANFAAT MENTAL IMAGERY Mental Imagery dapat digunakan dalam berbagai kesempatan: 1. Untuk mengembangkan kepercayaan diri atlet. Kepercayaan diri merupakan keyakinan akan kemampuan atlet untuk dapat sukses dalam mencapai tujuannya. Dengan latihan imagery, atlet akan mampu meningkatkan dan mengantisipasi apa yang akan terjadi. Kalau dia sukses dalam latihan mental imagery ini, ia akan semakin yakin kemampuannya, dan peningkatan ini dapat meningkatkan pla kepercayaan dirinya. 2. Untuk mengembangkan strategi pre-kompetisi dan kompetisi. Atlet diajari untuk memahami situasi baru sebelum mereka turun di gelanggang yang sebenarnya, sehingga apa yang akan terjadi dapat diantisipasi oleh atlet, dan dengan antisipasi ini, mereka mudah melakukan adaptasi terhadap berbagai kemungkinan hal yang terjadi. 3. Membantu atlet memfokuskan perhatian atau konsentrasinya pada suatu bentuk ketrampilan tertentu yang sedang dilatihnya. Hal ini bisa dilakukan pada masa latihan (training session). Kita tahu bahwa ketrampilan terbentuk melalui tiga tahapan yaitu tahap kognitif, tahap asosiasi, dan tahap otomatisasi. Ketrampilan tertentu dalam olahraga akan cepat dicapai atlet bila pada dua tahapan banyak melakukan mental imagery. 4. Membantu atlet memfokuskan diri pada pertandingan. Bila kita ingin focus pada pertandingan, mental imagery dapat dilakukan disaat dibutuhkan. Sewaktu-waktu kita bisa mengingat kembali atau membayangkan kembali ketrampilan yang bisa kita lakukan di saat kita mengalami kesulitan di lapangan. PUSTAKA Anonim. 2007. Brianmac Coach Mental Imagery.http://www.brianmac.co.uk/mental. htm. Cox, Richard H. 1985. Sport Psychology: Concepts and Applications. Dubuque:Wm C Brown Publishers. Anonim. 2007. Peak Performance: Sporting Excellence. Mental imagery for physical people: how recreating all-sensory experience can profoundly affect your performance. http://www.pponline.co.uk/ Kosslyn, S.M. (1980). Image and Mind. Cambridge, MA: Harvard University Press. Sartre, J.-P. (1940). The Psychology of Imagination. (Terjemahan dari bahasa perancis by B. Thomas, N.J.T. (1999b). Are Theories of Imagery Theories of Imagination? An Active Perception Approach to Conscious Mental Content. Cognitive Science (23) Paivio, A. (1986). Mental Representations: A Dual Coding Approach. New York: Oxford University Press. Plessinger, Annie. 2007. The Effects of Mental Imagery on Athletic Performance.http://www.vanderbilt.edu/AnS/psychology/health_psychology/mentalimagery.html\

Selasa, 21 Agustus 2012

SUMBER-SUMBER ENERGI DAN METABOLISME

SUMBER-SUMBER ENERGI DAN METABOLISME Kontraksi otot membutuhkan energi, dan otot disebut sebagai ”mesin pengubah energi kimia menjadi kerja mekanis.” sumber energi yang dapat segera digunakan adalah derivat fosfat organik berenergi diperoleh dari metabolisme intermedier karbohidrat dan lipid. Hidrolisis ATP yang menghasilkan energi untuk kontraksi, telah di bahas di atas. Fosforilkreatin ATP disintesis ulang dari ADP dengan penambahan satu group fosfat. Sebagian energi yang dibutuhkan untuk reaksi endotermik ini diperoleh dari penguraian glukosa menjadi CO2 dan H2O, tetapi di otot juga ada senyawa fosfat berenergi tinggi lain yang dapat memasok energi dibutuhkan ini untuk jangka pendek. Senyawa fosfat itu adalah fosforilkreatin, yang dihidrolisis menjadi kreatin dan grup fosfat dengan melepaskan sejumlah besar energi. Dalam keadaan istirahat, sebagian ATP di mitokondria melepaskan fosfatnya pada kreatin, sehingga terbentuk simpanan fosforilkreatin. Pada waktu kerja, fosforilkreatin mengalami hidrolisis di tempat pertemuan kepala miosin dengan aktin, membentuk ATP dari ADP, yang menyebabkan proses kontraksi dapat berlanjut. Penguraian Karbohidrat dan Lipid Dalam keadaan istirahat dan selama kerja ringan, otot menggunakan lipid dalam bentuk asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) sebagai sumber energi. Bila intensitas kerja meningkat, penyediaan energi yang cukup cepat tidak dapat diperoleh hanya dari lipid, sehingga pemakaian kaohidrat menjadi penting sebagai komponen campuran bahan bakar otot. Jadi selama kerja berlangsung, sebagian besar energi untuk fosforilkreatin dan sintesis ulang ATP berasal dari penguraian glukosa menjadi CO2 dan H2O. Dalam pembahasan ini, cukup diperhatikan bahwa gula darah masuk ke dalam sel, dan mengalami degradasi melalui serangkaian reaksi kimia, menjadi piruvat. Sumber glukosa intrasel lain, yang berarti juga sumber piruvat, adalah glikogen, suatu polimer karbohidrat yang terdapat dalam jumlah sangat besar di hati dan otot rangka. Bila terdapat oksigen dan mengalami metabolisme melalui siklus ini dan melalui apa yang dinamakan jalur enzim pernapasan – menjadi CO2 dan H2O. Proses ini dinamakan glikolisis aerobik. Penguraian glukosa atau glikogen menjadi CO2 dan H2O melepaskan energi yang cukup besar untuk membentuk sejumlah besar ATP dari ADP. Bila pasokan O2 tidak mencukupi, piruvat yang dibentuk dari glukosa tidak masuk ke dalam siklus asam trikarboksilat, melainkan direduksi menjadi laktat. Proses glikolisis anerobik ini berkaitan dengan dihasilkanya sejumlah kecil ikatan-ikatan fosfat berenergi tinggi, tetapi proses ini tidak membutuhkan adanya O2. Mekanisme Utang Oksigen Selama kerja otot, pembuluh darah otot melebar dan aliran darah meningkat sedemikian sehingga pasokan O2 yang tersedia meningkat. Sampai suatu titik tertentu, konsumsi O2 sebanding dengan energi yang dikeluarkan, dan semua kebutuhan energi dipenuhi melalui proses erobik. Namun, bila kerja otot sangat kuat, resintesis aerobik untuk simpanan energi tidak dapat mengikuti kecepatan penggunaannya. Dalam keadaan demikian, fosforilkreatin tetap digunakan untuk sintesis ulang ATP. Sebagian sintesis ATP dipenuhi dengan menggunakan energi yang dilepaskan melalui penguraian anaerobik glukosa menjadi laktat. Penggunaan jalur anaerobik bersifat self-limitting, karena meskipun terjadi difusi cepat laktat ke dalam aliran darah, cukup banyak yang berkumpul di otot yang pada akhirnya melampaui kapasitas dapar (buffer) jaringan dan menyebabkan penurunan pH yang menghambat enzim. Akan tetapi, untuk jangka pendek, adanya jalur anaerobik untuk penguraian glukosa memungkinkan kerja otot yang jauh lebih besar daripada bila tidak ada jalur tersebut. Misalnya, pada lari cepat 100 meter yang berlangsung 10 detik, 85% energi yang dipakai diperoleh secara anaerobik; pada lomba lari 2 mil yang berlangsung 10 menit 20% energi diperoleh secara anaerobik; dan pada lomba lari jauh yang berlangsung 60 menit, hanya 5% energi yang diperoleh dari metabolisme anaerobik. Setelah selesainya satu masa kerja, O2 ekstra digunakan untuk membuang sisa laktat, mengembalikan ATP dan simpanan fosforilkreatin, serta mengganti sejumlah kecil O2 yang berasal dari mioglobin. Jumlah O2 ekstra yang dipakai sebanding dengan besarnya kebutuhan energi, selama berlangsungnya kerja, yang melampaui kapasitas sistesis aerobik simpanan energi, yaitu batas terjadinya hutang oksigen. Utang O2 diukur secara eksperimental dengan menetapkan konsumsi O2 setelah kerja sampai konsumsi basal yang menetap tercapai, dan mengurangi konsumsi basal dari jumlah keseluruhan. Jumlah hutang oksigen ini dapat mencapai enam kali konsumsi O2 basal, menunjukkan bahwa orang tersebut mampu melakukan kerja sebesar enam kalinya, yang tidak mungkin dilakukan tanpa utang oksigen. Tampaknya utang maksimal dapat terjadi dengan cepat atau lambat; kerja berat hanya mungkin untuk waktu singkat, sedangkan kerja yang lebih ringan dapat berlangsung lebih lama. Atlet yang terlatih dapat lebih meningkatkan konsumsi O2 otot dibandingkan dengan orang tidak terlatih, dan dapat menggunakan asam lemak bebas lebih efektif. Dengan demikian mereka mampu melakukan kerja yang lebih berat tanpa menghabiskan simpanan glikogennya dan tanpa meningkatkan pembentukan asam laktat. Karena itu, hutang oksigennya lebih kecil untuk setiap beban kerja. Mereka juga dibiasakan makan makanan tinggi karbohidrat selama beberapa hari sebelum pertandingan, yang akan meningkatkan simpanan glikogen otot. Hal ini saja telah dapat meningkatkan ketahanan. Pembentukan Panas di Otot Secara termodinamika, energi yang diberikan pada otot harus setara dengan pengeluaran energi otot. Pengeluaran energi ini berwujud sebagai kerja otot, berwujud sebagai terbentuknya ikatan fosfat berenergi tinggi untuk digunakan kemudian, dan sebagai panas. Efisiensi mekanis otot rangka secara menyeluruh (kerja yang dihasilkan/penggunaan energi total) erkisar sampai 50% ketika mengangkat beban selama kontraksi isometrik. Simpanan energi pada ikatan fosfat merupakan faktor kecil. Dengan demikian, pada kontraksi isometrik, pembentukan panas menjadi sangat besar. Panas yang timbul di otot dapat diukur dengan tepat menggunakan thermocouples yang sesuai. Panas istirahat (resting heat), panas yang dilepaskan saat istirahat, merupakan manifestasi eksternal proses metabolik basal. Panas yang dihasilkan selama kontraksi, yang melampaui besarnya panas istirahat, dinamakan panas awal (initial heat). Panas awal ini terdiri dari panas aktivasi (activation heat), yaitu panas yang dihasilkan otot saat berkontraksi, dan panas pemendekan (shortening heat), yang sebanding dengan jarak pemendekan otot. Panas pemendekan terbentuk akibat terjadinya beberapa perubahan pada struktur otot selama pemendekan otot. Setelah kontraksi, pembentukan panas yang melampaui besarnya panas istirahat berlangsung selama 30 menit. Panas pemulihan (recovery heat) ini adalah panas yang dilepaskan oleh proses metabolik yang memulihkan otot kembali ke keadaan sebelum kontraksi. Panas pemulihan otot kira-kira setara dengan panas awal; artinya panas yang dihasilkan selama kontraksi. Bila otot yang telah selesai berkontraksi isotonik, kembali ke panjang semula, terjadi panas tambahan disamping panas pemulihan yaitu panas relaksasi (relaxation heat). Kerja eksternal harus terjadi pada otot untuk mengembalikan otot ke panjang semula, dan panas relaksasi terutama merupakan manifestasi kerja tersebut.

SISTEM ENERGI PADA MANUSIA

Setiap bentuk aktifitas manusia memerlukan energi disebut sebagai kerja. Aktifitas kerja membutuhkan energi agar otot dapat berkontraksi. Pada dasarnya ada dua macam sistem metabolisme energi yang diperlukan dalam setiap aktifitas gerak manusia yaitu, metabolisme (1). Sistem energi anaerob, dan (2). Sistem energi aerobik. Adapun letak perbedaan pada kedua sistem tersebuut adalah ada tidaknya bantuan oksigen (O2) selama proses pemenuhuan kebutuhan energi berlangsung. Seistem aerobik selama proses pemenuhan energinya tidak memerlukan bantuan oksigen (O2), namun menggunakan sistem energi yang tersimpan dalam otot, yaitu ATP dan PC, sebaliknya sistem energi aerobik dalam proses pemenuhan kebutuhan energinya untuk bergerak memerlukan bantuan oksigen (O2) yang diperoleh dengan cara menghirup udara melalui sistem pernafasan. 1. Sistem metabolisme aerobik Adalah serentetan proses kimiawi yang tidak memerlukan adanya oksigen. Pada setiap awal kerja otot, kebutuhan energi dipenuhi oleh persedian ATP yang terdapat dalam sel otot (Bowers dan Fox, dkk. 1992), ATP merupakan senyawa kaya energi sehingga merupakan bentuk energi kimia yang siap pakai untuk aktivitas otot yang pertama kali, namun hanya mampu menopang kerja selama 5 detik bila ttidak ada sistem energi lain. Agar kerja otot dapat berlangsung lebih lama maka diperlukan Phospo Creatin (PC) yang mampu memperpanjang kerja selama kira-kira 10 detik (Nossek, 1992). Phospo Creatin juga merupakan senyawa kaya energi yang berkaitan erat dengan ATP. Di dalam otot menyimpan sejumlah ATP dan PC dalam jumlah sedikit secara kolektif yang di sebut phospagen. Menurut Bowers dan Fox (1992) jumlah ATP-PC didalam otot wanita sebesar 0,3 mol dan untuk laki-laki sebesar 0,6 mol. Dengan demikian jumlah energi yang tersedia bila menggunakan sistem ATP-PC sangat terbatas. Untuk itu apabila kerja otot masih berlangsung lama lagi, maka kebutuhan energi yang diperlukan dipenuhi oleh sistem glikolisis atau asam laktat (glikolisis anaerob). Sistem ini akan mampu memerpanjang kerja sampai denggan 120 detik (McArdle, dkk 1956). Glokolisis adalah proses pemecahan karbohidrat (gula), sedangkan aerobik berarti tanpa bantuan oksigen. Dalam proses glikolosis aerobik gula dipecah mencadi ATP untuk mensuplai energi yang diperlukan oleh otot. Apabila karbohidrat mencadi parsial (bagian), maka salah satu hasil akhirnya adalah asam laktat, sehingga dinamakan sistem asam laktat. Selama berlangsungnya pemenuhan energi anaerob, didalam jaringan otot dan darah akan terjadi timbunan asam laktat. Apabila timbunan asam laktat semakin banyak dan tidak tidak mampu disitesiskan lagi menjadi sumber energi, dalam proses sistem asam laktat, maka akan menyebabkan terjadinya kelelahan otot, salah satu tanda kelelahan otot adalah terjadinya kejang otot (kramp) yang disebabkan oleh tidal lancarnya proses resintesis asam laktat menjadi ATP kembali ke dalam otot. Adapun ciri sistem energi yang anaerobik, meliputi anaerobik alaktik dan laktik adalah sebagai berikut. Ciri sistem energi anaerobik alaktik : -Intensitas kerja maksimal -Lama kerja kira-kira 10 detik -Irama kerja eksplosif -Aktifitas menghasilkan Adenosin diphospat (ADP) + energi Ciri sistem energi anaerobik laktik : -Intensitas kerja maksimal -Lama kerja antara 10 sampai 120 detik -Irama kerja eksplosif -Aktifitas menghasilkan asam laktat dan energi 2. Sistem metabolisme aerobik Aerobik berarti ada bantuan oksigen, sehingga metabolisme aerobik adalah serentetan reaksi kimia yang memerlukan adanya oksigen. Setelah proses pemecahan energi berlangsung selama kurang lebih 120 detik, maka asam laktat sudah tidak dapat di resistensis lagi menjadi sistem energi, untuk itu perlu diperlukan oksigen (O2) untuk membantu proses resistensi asam laktat menjadi sumber energi kembali. Oksigen yang masuk digunakan untuk membantu pemecahan senyawa glikoligen dan karbohidrat (Bowers dan Fox, dkk, 1992). Dengan adanya oksigen maka pemecahan glikogen secara penuh menjadi karbon dioksida (CO2) dan air (H2O) yang akan menjadi ATP. Seluruh rangkaian proses tersebuut dinamakan glikolisis aerobik. Glikolisis aerobik adalah pemecahan glikogen dengan bantuan oksigen. Ada perbedaan antara glikolisis aerobik dan glikolisis anaerobik, yaitu dengan adanya bantuan oksigen asam laktat yang tersimpan dalam otot, dengan kata lain bantuan oksigen dapat membantu menghambat terjadinya asam laktat di dalam otot, tetapi oksigen tersebut tidak merisentesis ATP. Fungsi oksigen dalam proses ini adalah mengalihkan asam laktat dengan asam pyrufat ke dalam sistem aerobik setelah diresitesis ATP. Jadi selama proses glikolisis aerobik, glikogen dipecah menjadi asam pyrufat menghasilkan energi untuk merisentetis ATP (Bowers dan Fox, 1992). Untuk lebih jelasnya proses terjadi reaksi secara beruntun tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : a. (C6H12)6)n 2C3 H4 O3 + Energi (Glykogen) (Asam pyruvat) b. Energi + 3 ADP + Pi ATP Adapun ciri dari sistem energi aerobik di tinjau dari intensitas, durasi, irama adalah sebagai berikut, Ciri-ciri sistem aerobik - Intensitas kerja sedang - Lama kerja lebih dari 3 menit - Irama gerak (kerja) lancar dan terus menerus (kontinyu) - Selama aktifitas menghasilkan karbondioksida + air (CO2H20) Dalam kinerja (penampilan) aktifitas olahraga kedua sistem enerrgi tersebut memiliki karateristik berbeda. Perbedaan ini merupakan dasar pada saat menetukan setiap metode yang disesuaikan dengan tujuan. Banyak faktor yang ikut menentukan pemilihan dan bentuk latihan selain kedua sumber energi tersebut, diantaranya adalah faktor teknik, taktik, macam gerak, dan kebutuhan energi dominan. Selanjutnya aktivitas yang suber energinya dari sistem aerobik cenderung mengunakan power yang rendah dan berhubungan erat dengan ketahanan kardiorespirasi. Sedangkan aktifitas yang suber energinya berasal dari anaerobik cenderung mengunakan power yang tinggi dan berkaitan erat dengan power otit serta ketahanan otot.